Menjadi aktivis lingkungan, membangun bank sampah, lubang biopori, dan pengomposan.

Sere Rohana mendapatkan penghargaan Kalpataru Kota dan Kalpataru DKI karena jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup.

Sere Rohana mendapatkan penghargaan Kalpataru Kota dan Kalpataru DKI karena jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup.

Sampah menjadi persoalan terutama di perkotaan. Untuk mengatasi masalah itu, Sere Rohana Napitupulu membangun bank sampah di atas tanah 120 m². Warga Kelurahan Malakasari, Kecamatan Durensawit, Jakarta Timur, itu biasa membawa sampah kering ke bank sampah. Petugas lantas mencatat bobot sampah—30 jenis sampah kering seperti koran, botol plastik, dan kardus. Bank sampah menetapkan harga beli 30% lebih rendah daripada harga di pengepul.

Harga koran bekas di bank sampah misalnya, Rp700 per kg, sedangkan harga di pengepul Rp1.000. Itu untuk menjalankan operasional bank sampah. Kadang-kadang warga membawa sampah yang belum dipisahkan jenisnya. Wajar jika harga lebih murah yaitu Rp500 per kilogram. Sebab, petugas bank akan memilah untuk mendapatkan harga jual yang lebih tinggi.

Manfaat besar

 Sere Rohana bersama anggota kelompok Ibu Bercahaya di Bank sampah  Asri di Perumahan Bumi Malaka Asri 1, Kelurahan Malakasari, Jakarta Timur menjadi bank sampah terbaik se-DKI Jakarta pada 2011.

Sere Rohana bersama anggota kelompok Ibu Bercahaya di Bank sampah Asri di Perumahan Bumi Malaka Asri 1, Kelurahan Malakasari, Jakarta Timur menjadi bank sampah terbaik se-DKI Jakarta pada 2011.

Dalam satu pekan bank sampah itu menampung 250—300 kg berbagai sampah kering. Bank sampah itu tidak hanya menampung sampah dari warga sekitar, tetapi juga dari masyarakat yang tinggal di daerah lain seperti Tangerang, Provinsi Banten. Menurut Sere keberadaan bank sampah berdampak positif, yakni pendapatan warga bertambah. “Dalam 11 bulan saya bisa menabung hingga Rp1,5-juta dari sampah,” ujar Sere.

Manfaat lain lingkungan bersih. Sebelum ada bank sampah, setiap hari satu bak sampah berukuran 1,5 m x 1 m penuh hanya untuk satu rukun tetangga (RT), kini satu gerobak bisa menampung sampah tiga RT. Saluran air yang semula tersumbat dan harus disedot, sekarang bisa mengalir dengan lancar dan tidak berbau. “Sampah plastik seperti botol itu sangat mengganggu kalau sudah masuk saluran air,” ujar perempuan 56 tahun itu.

Komposter ember berfungsi untuk mendekomposisi serasah seperti daun dan ranting dengan bantuan mikroorganisme.

Komposter ember berfungsi untuk mendekomposisi serasah seperti daun dan ranting dengan bantuan mikroorganisme.

Sere mengatakan bank sampah itu didirikan dengan dana gotong royong warga. Mereka membangun bank sampah di lahan fasilitas umum. Kegiatan pengolahan sampah organik dan nonorganik itu bermula dari keinginan warga yang tergabung dalam kelompok Ibu-ibu Bercahaya. Pada ajang Jakarta Green and Clean (JGC) Sere dan warga RW 02 menjadi yang terbaik di antara 700 peserta. Pemerintah Jakarta juga mengganjar bank sampah itu yang terbaik pada 2011.

Baca juga:  Kompos Daun Gamal

Selain mendorong terbangunnya bank sampah, Sere Rohana Napitupulu juga mensubsidi pembuatan lubang biopori di setiap rumah di Perumahan Bumi Malaka Asri 1. Sere yang juga menjabat sebagai ketua Rukun Tetangga (RT) di lingkungan Rukun Warga (RW) 02 Perumahan Bumi Malaka Sari itu mewajibkan setiap rumah memiliki minimal dua biopori. “Setiap biopori kami subsidi Rp10.000 sehingga masyarakat hanya mengeluarkan uang Rp15.000 untuk setiap lubang,” ujar alumnus Teknik Elektro Universitas Kristen Indonesia itu.

 

 

Buat kompos

 Sere menganjurkan warga Perumahan Malaka Asri untuk membuat minimal 2 biopori di setiap rumah.

Sere menganjurkan warga Perumahan Malaka Asri untuk membuat minimal 2 biopori di setiap rumah.

Warga membuat lubang biopori di masing-masing rumahnya dengan kedalaman 1 meter. Langkah berikutnya memasukkan pipa polivinil klorida berdiameter 10 cm. Untuk membuat sebuah lubang biopori hanya memerlukan 15 menit. Warga lantas mengisi lubang itu dengan sampah organik seperti dedaunan. Sampah organik yang mengandung protein seperti nasi terlarang dimasukkan ke biopori karena menimbulkan bau.

Lebih dari 30 jenis sampah kering ditabung di bank sampah Asri.

Lebih dari 30 jenis sampah kering ditabung di bank sampah Asri.

Dalam waktu 30 hari sampah organik itu menjadi kompos atau media tanam. Kini di kompleks terdapat lebih dari 200 biopori. “Belum semua rumah memiliki biopori kerena keterbatasan lahan dan masih banyak yang belum mengerti akan pentingnya biopori,” ujar ibu tiga anak itu. Sere juga menganjurkan pembuatan komposter ember yang berfungsi untuk mengolah sampah organik berupa serasah daun, ranting, batang, dan kulit buah atau sayuran.

Sere bersama kelompok Ibu Bercahaya juga mendampingi daerah Cakung Barat dan Rawaterate, Jakarta Timur, untuk pembuatan biopori dan bank sampah. Tidak salah jika perempuan kelahiran Surabaya 12 Mei 1959 itu mendapatkan Kalpataru Kota pada 2013 dan Kalpataru DKI pada 2014. “Sebenarnya saya lebih bangga bisa berperan aktif mensosialisasikan penghijauan kemasyarakat luas daripada mendapatkan Kalpataru,” ujarnya. (Ian Purnama Sari)

Baca juga:  Inilah 7 Kelebihan Pupuk Organik Dibandingkan Pupuk Kimia

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d