Cepat Panen Madu Itama 1
Bagian atas honey pod sangat tipis

Bagian atas honey pod sangat tipis

Cara panen madu itama secara praktis, cepat, dan tidak merusak sarang.

Keng Effendy membawa kotak putih berukuran 15 cm x 30 cm setinggi 25 cm. Sebuah stoples tertutup rapat transparan bervolume 1 liter terpasang di salah satu sisi kotak. Dua selang transparan berdiameter 5 mm mencuat dari tutup stoples itu. Salah satu selang terhubung ke kotak, lainnya berakhir di “jarum” sepanjang 10 cm berujung kecil membulat. Jarum itu berlubang sehingga cairan dari ujungnya dapat mengalir ke dalam stoples.

Ia lantas mendekati salah satu log trigona dan membuka plastik penutup topping. Di bawah plastik, tampak kantong-kantong madu seukuran telur burung puyuh berwarna cokelat kehitaman. Sebagian kantong tertutup rapat, lainnya terbuka menampakkan cairan madu di dalamnya. Keng menusukkan jarum ke dalam kantong yang tertutup rapat, lalu menyentuh tombol di kotak. Terdengar dengungan halus diikuti desisan di ujung jarum.

Keng Effendy memodifikasi sendiri alat panen madu trigona

Keng Effendy memodifikasi sendiri alat panen madu trigona

Pompa ASI
Setelah Keng mengatur posisi jarum, madu mulai mengalir melalui selang dan menetes ke dalam stoples. Saat madu dari kantong habis, Keng memindahkan jarum ke kantong lain begitu seterusnya. “Saat kemarau, saya bisa memperoleh 600—800 ml madu dari 1 koloni,” tutur ayah 4 putri itu. Kotak berjarum besar itu andalan Keng Effendy untuk menyedot madu dari trigona jenis itama Heterotrigona itama di dak rumahnya di Jelambar, Jakarta Barat.

Penyedot madu itu hasil modifikasi alat penyedot di dunia kedokteran. Mesin seharga Rp1,8-juta itu menggunakan daya listrik hingga 100 watt. Daya sedotnya mencapai 2 liter per menit. Pengalaman Keng, penyedotan madu dari sebuah koloni dengan topping penuh terisi hanya memerlukan waktu 5—10 menit. Lagipula dengan menggunakan alat penyedot, madu terpisah dari polen alias serbuksari.

Itu berbeda dengan cara pemanenan trigona jenis laeviceps Trigona laeviceps. Menurut Ateng Arsono, pembudidaya trigona di Ambarawa, Jawa Tengah, kantong madu laeviceps kecil—sebesar kacang hijau—dan sulit dibedakan dengan kantong serbuksari. Pemanenan dengan mengambil kantong madu, membungkus dengan kain, lalu memerasnya sehingga madu keluar.

Baca juga:  Menghasilkan Madu Trigona Itama dari Teras Rumah

Menurut Keng, teknik itu banyak kelemahan. Pertama, kantong madu dan nektar berada di klaster yang sama sehingga begitu diperas madu bercampur dengan serbuksari. Akibatnya madu mempunyai aroma anyir nektar. “Beberapa orang enggan mengonsumsi karena alergi atau sekadar tidak suka dengan aroma itu,” kata Keng. Masalah kedua, pemerasan “menghancurkan” kantong madu sehingga kelak lebah harus membuat kantong baru sebelum mengumpulkan madu.

Alat sedot di dunia kedokteran efektif untuk panen skala besar

Alat sedot di dunia kedokteran efektif untuk panen skala besar

Efeknya produktivitas laeviceps terpaut jauh di bawah itama. Menurut Keng, itama mampu menghasilkan 600—800 ml dalam sebulan, sedangkan laeviceps hanya 100 ml dalam 3 bulan. Pada permulaan membudidaya itama pada Juli 2014, Keng memodifikasi breast pump atau alat peras air susu ibu (ASI) bertenaga baterai. Ia melepas corong penyedot ASI dan mengganti dengan selang untuk menusuk dan menyedot madu.

Rajin
Dengan daya yang berasal dari 2 baterai 1,5 volt, alat modifikasi itu mampu menyedot madu hingga 50 ml per menit. Sayang, alat itu mudah tersumbat oleh propolis atau pengotor yang terisap. Keng mesti melepas selang lalu membersihkan sebelum menggunakan kembali. Kini Keng menggunakan mesin penyedot yang lazim digunakan di dunia kedokteran.

Ia memodifikasi ujung selang yang masuk ke kantong madu untuk mempermudah penyedotan. Keng mencoba menggunakan selang yang lebih kecil, tetapi selang itu terlalu lemas dan malah menghambat penyedotan. Akhirnya ia menggunakan jarum dari sumpit berbahan baja nirkarat dengan lubang di tengahnya. Namun, untuk berjaga-jaga bila listrik mati ketika panen, ia masih menyimpan pompa ASI hasil modifikasinya.

Keng menggunakan topping berukuran 30 cm x 40 cm setinggi 6 cm. Di dasar topping ada lubang yang menghubungkan topping dengan lubang masuk di bawah. Normalnya bila pakan melimpah, topping itu terisi kurang lebih 200 kantong madu seukuran telur puyuh dalam 2—3 bulan. Berdasarkan pengalanan Keng, ukuran topping itu paling sesuai untuk membudidayakan itama di perumahan dengan sumber makanan terbatas.

Baca juga:  Festival Kuliner, Kesenian, dan Pertanian

Di log mentah (baru pertama dilakukan proses topping), itama cenderung defensif dengan menutup sarang rapat-rapat. “Topping yang terlalu tinggi membuat itama enggan masuk dan menutup lubang penghubung,” kata Keng. Jika itu terjadi, lebah membuat kantong madu secara bertumpuk di dalam log sehingga mempersulit pemanenan. Ukuran topping bukan ukuran baku. Rekan Keng sukses memanen madu dari toping berukuran 50 cm x 50 cm.

Pompa ASI modifikasi menggunakan daya 3 volt dari 2 buah baterai

Pompa ASI modifikasi menggunakan daya 3 volt dari 2 buah baterai

Syaratnya, kondisi lingkungan dan pakan mendukung perkembangan dan produksi koloni. Pada musim hujan, Keng memilih tidak memanen madu karena saat itu madu atau serbuksari sulit diperoleh. Itama akan mengonsumsi cadangan dalam topping. Sarjana Ilmu Komputer alumnus Universitas Bina Nusantara itu lebih memprioritaskan memelihara lebahnya untuk tetap hidup dan berkembang daripada memaksakan untuk panen dengan risiko lebah kekurangan pakan yang menyebabkan kematian.

Menurut Josia Lazuardi, pembudidaya trigona di Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada musim hujan itama lebih agresif kalau madunya diambil. “Pasalnya saat itu mereka benar-benar mengandalkan madu untuk bertahan hidup,” kata Josia. Menurut Drs Kuntadi MSc, periset lebah di Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi (Puskonser), Bogor, itama tergolong lebah nirsengat berukuran besar dan rajin di keluarga trigona.

“Itu sebabnya mereka dapat mengumpulkan madu dalam jumlah banyak,” kata Kuntadi. Menurut Kuntadi panen dengan alat sedot sangat baik karena tidak merusak sarang sehingga lebah tinggal mengisi ulang kantong madu. Kualitas madu pun lebih baik karena tidak terkontaminasi sisa perasan sarang. Yang terpenting adalah pembudidaya dapat memperoleh madu bersih dan murni secara cepat dan praktis. (Muhammad Awaluddin).

Panen Trigona

Dengan topping setebal 6 cm itama akan membuat pakan yang menyebabkan kematian. sehingga mempersulit pemanenan. lemas dan malah menghambat pemanenan. Tehnik panen dengan penyedotan meminimalisir kerusakan kantong madu.

Dengan topping setebal 6 cm itama akan membuat pakan yang menyebabkan kematian. sehingga mempersulit pemanenan. lemas dan malah menghambat pemanenan. Tehnik panen dengan penyedotan meminimalisir kerusakan kantong madu.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *