Cepat Lacak Jejak Elmaut 1
Pucuk kelapa sawit tidak terbuka dan daun terkulai, tanda serangan ganoderma telah berat

Pucuk kelapa sawit tidak terbuka dan daun terkulai, tanda serangan ganoderma telah berat

Dalam 3—5 jam, ganoderma penyebab busuk batang kelapa sawit terdeteksi.

Wakil Direktur Operational PT Union Sampoerna Triputra Persada, Ir Akbar Ramis, berpacu dengan waktu. Beberapa pohon kelapa sawit berdaun menguning dan layu, tunas daun berhenti tumbuh dan gagal membuka, serta pelepah terkulai. Gejala itu menandakan serangan busuk batang akibat cendawan Ganoderma sp. Harap maklum, tanaman anggota famili Arecaceae itu yang terserang ganoderma sama saja menanti dentang lonceng kematian.

Yang bisa ia lakukan hanya memperpanjang masa produksi pohon sebelum tanaman itu menemui ajal. Untuk mengatasi ganoderma, pekebun mengerik batang tempat tumbuhnya cendawan lalu menyuntikkan fungisida sistemik  triadimenol. Selanjutnya pekebun memberi pupuk tinggi unsur kalsium nitrat plus tricoderma dalam jumlah besar agar pohon lebih kuat sehingga bertahan hidup. Biaya penanganan sebuah pohon kelapa sawit Elaeis guineensis terserang ganoderma mencapai  Rp66.000 per tahun.

Ganoderma, penyakit paling mematikan kelapa sawit

Ganoderma, penyakit paling mematikan kelapa sawit

Sumatera parah

Upaya penyelamatan itu sebetulnya tak banyak membantu. Sebab, dalam 2–3 tahun ke depan pohon terserang itu mati. Ganoderma itu kini tengah merongrong perkebunan kelapa sawit di Malaysia.Peneliti di Lembaga Minyak Sawit Malaysia (MPOB), Dr. Abu Seman, mengungkapkan, sekarang ganoderma menyerang 60.000 ha kebun sawit di sana. Serangan itu mengakibatkan kerugian pekebun Malaysia hingga US$600.000. Serangan ganoderma di Indonesia belum separah Malaysia, meski pun luas serangan belum terdata. Menurut Ir Akbar Ramis, serangan cendawan itu masih terkonsentrasi di Sumatera, khususnya yang membuka usaha di bekas area penanaman kelapa. Kebun itu mewarisi penyakit dari tanaman sebelumnya. Adapun kebun kelapa sawit di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, serangan ganoderma belum separah di Sumatera, lantaran umumnya menempati lahan baru.

Baca juga:  Cerita Tanam Tanpa Tanah

Meski demikian, tidak berarti pekebun kelapa sawit di Indonesia bisa bernapas lega. Satu spora cendawan ganoderma bisa berkembang biak menghasilkan jutaan spora dan menghancurkan kebun seluas jutaan hektar. Dalam 2—3 tahun, spora bisa tumbuh membentuk batang atau tubuh buah yang keras.

Setelah dewasa, anggota keluarga Basidiomycetes itu menghasilkan enzim yang bersifat meracuni tanaman. Perlahan-lahan daun menguning, layu, lalu terkulai. Akar kian banyak keropos atau putus sehingga tidak mampu menahan tegaknya pohon sehingga tumbang.

Tim peneliti Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) penemu Gano-Kit

Tim peneliti Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) penemu Gano-Kit

Biarkan 4 tahun

Menurut Abu Seman, tanaman yang terinfeksi akan mati dalam 2—3 tahun, tergantung tingkat kesehatan pohon. Petaka tidak berhenti di sana. Spora yang berada di dalam tanah bertahan hidup selama beberapa tahun dan siap tersebar kembali. Untuk menghentikan penyebaran ganoderma pekebun mencacah dan membakar batang terserang. Pekebun juga menggali tanah tempat tumbuh kelapa sawit dan membuat lubang selebar tajuk pohon atau sepanjang akar tumbuh. Diameter lubang berkisar 4—6 m dengan kedalaman 2 m.

Setelah itu pekebun membiarka lubang itu terpapar sinar matahari. Idealnya lahan istirahat 3—4 tahun untuk memutus siklus hidup spora. Bila hendak menanami lagi, pekebun mengisi lubang dengan pupuk kandang yang telah dicampur agen hayati trikoderma atau mikoriza.

Bila kebun akan diisolasi, peneliti Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) Ir. Suharyanto Msi, menyarankan dilakukan pada musim pancaroba. Saat itu pertumbuhan jamur tinggi sehingga banyak spora rusak. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) pun mempunyai solusi mengatasi ganoderma. Ir Suharyanto MSi, Dr Darmono Taniwiryono, Deden Dewantara Eris SP, dan Haryo Tejo Prakoso SSi menemukan Gano-Kit prototype 4.1 untuk mendeteksi adanya serangan di tanaman.

Hasil tes, warna bulatan gelap, tanda serangan berat. Bulatan tidak berwarna tanda tanaman bebas serangan ganoderma

Hasil tes, warna bulatan gelap, tanda serangan berat. Bulatan tidak berwarna tanda tanaman bebas serangan ganoderma

Selama ini, “Sulit mendeteksi pohon itu sudah terinfeksi atau belum,” ujar Suharyanto.  Gejala yang bisa dilihat secara visual ialah: daun tombak tidak membuka, daun menguning, layu, dan terkulai, atau muncul tubuh buah jamur di batang. Namun, bila gejala tampak, upaya penanganan terlambat. Serangan ganoderma bisa mematikan 40% populasi pohon.

Baca juga:  Akuaponik: Tumbuh di Antara Batu

Lebih baik cegah

Gano-Kit berbasis serologi alias menggunakan serum. Alat itu dapat digunakan untuk menguji kondisi bibit sawit berumur 4 bulan  hingga 15 tahun. Perangkat itu mampu mengenali secara spesifik material antigenik Ganoderma sp yang menginfeksi tanaman. Kelebihan lain, hasil cepat. Waktu yang diperlukan untuk mendeteksi penyakit adalah 5 jam dengan masa tunggu 3 jam. Pelaksanaan pun praktis, tidak perlu menggotong sampel ke laboratorium.

Untuk mendeteksi kehadiran ganoderma, pekebun dapat mengambil sampel dari batang sebanyak 2—3 g. Setelah itu teteskan gano-kit pada sampel yang sudah diekstraksi pada kertas uji. Pewarna indikator akan mewarnai ikatan itu sehingga muncul bercak merah kehitaman di kertas uji.

Tingkatan warna dipengaruhi oleh tingkat infeksi cendawan. Bila di kertas terdapat bulatan berwarna gelap, berarti pohon terserang. Semakin gelap warna bulatan, semakin akut serangan. Bila bulatan tidak berbeda warnanya dengan kertas uji, artinya tanaman tidak mengalami infeksi cendawan. Menurut Suharyanto, akurasi di laboratorium mencapai 90%. Sedangkan di lapangan mencapai 60—70%. Itu bisa diketahui sebelum gejala dan tanda penyakit terlihat secara visual.

Produk itu mampu mengenali secara spesifik material antigenik Ganoderma sp. yang menginfeksi tanaman kelapa sawit hingga patogen sekunder. Lakukan deteksi setiap 6 bulan atau tiap tahun. Untuk serangan berat dan dalam masa perawatan sebaiknya deteksi dilakukan setiap 2 bulan. (Syah Angkasa/Peliput: Kartika Restu Susilo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments