Cepat Bibitkan Merang 1
 Teknik pembibitan F0 hasilkan produksi jamur merang tinggi

Teknik pembibitan F0 hasilkan produksi jamur merang tinggi

Pembibitan jamur merang langsung ke media merang memangkas waktu 10 hari dan biaya 75%.

Pembibitan jamur merang lazimnya menggunakan media potato dextrose agar (PDA). Sayangnya, penggunaan PDA relatif ribet. Petani jamur merang di Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Katim Indrawan, membibitkan jamur merang tanpa PDA. Ia langsung mengulturkan bibit di botol dengan media merang. Katim memanfaatkan jamur merang hasil panen sendiri. Ia memilih jamur merang sehat berdiameter sekitar 5 cm, membelah, dan mengambil bagian dalam tubuh buah.

Ia lalu mencacah, memasukkan cacahan jamur itu ke botol pembiakan. Media dalam botol itu berupa campuran merang, kapas, dedak, kapur, agar-agar, dan jagung giling. Keruan saja ia telah mensterilisasi media itu dalam autoklaf bersuhu lebih dari 100°C dan tekanan 15—20 Psi selama sejam. Proses selanjutnya, menyimpan botol kultur dalam ruang bersuhu 35°C. “Setelah 2—3 hari miselium jamur merang mulai terlihat,” ujar Katim. Botol akan terpenuhi miselium setelah 15 hari. Itulah bibit F0.

Pembibitan jamur merang tanpa menggunakan media PDA

Pembibitan jamur merang tanpa menggunakan media PDA

Lebih cepat
Katim lantas mengulturkan bibit F0 hingga menjadi bibit sebar F3. Caranya dengan memperbanyak F0 ke botol lain dengan media campuran merang, kapas, dedak, dan kapur. Setelah 15 hari, miselium tumbuh memenuhi botol. Selanjutnya, Katim memperbanyak F2 jamur merang ke dalam baglog. Media dalam baglog campuran merang, kapas, kapur, dedak, dan gula. Katim memperbanyak bibit F2 ke baglog untuk menjadi bibit sebar F3. Satu baglog F2 dapat menghasilkan 40 baglog F3.

“Jika cuaca mendukung bibit F2 sudah bisa disebar ke kumbung,” kata Katim. Dari satu botol F0 Katim mampu menghasilkan 64.000 baglog F3. Jika dalam setiap perbanyakan membutuhkan waktu 15 hari, total jenderal Katim membutuhkan waktu 60 hari untuk menghasilkan bibit F3. Untuk sebuah kumbung berukuran 4 m x 6,5 m Katim membutuhkan 60 log bibit jamur merang. Bandingkan dengan pembibitan pada media PDA yang membutuhkan waktu hingga 70 hari.

Baca juga:  Selamatkan Anggrek Tien Soeharto

Meski pembibitan secara konvensional, teknik pembibitan Katim mampu meningkatkan daya tumbuh jamur merang hingga 90%. Selain itu, biaya produksi lebih hemat. Untuk memproduksi satu baglog jamur, Katim membutuhkan Rp1.000. Sementara harga bibit sebar dari produsen bibit, Rp4.000 per baglog. Artinya Katim hemat biaya bibit 75%.

Menurut Dr Iwan Saskiawan, peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI Cibinong, Jawa Barat, teknologi pembibitan Katim termasuk terobosan bagus. “Secara teori membibitkan langsung jamur merang di media merang dapat dilakukan meskipun hasilnya kurang memuaskan,” ujar Iwan. Indonesia negara tropis dengan suhu dan kelembapan yang tinggi. Akibatnya, kemungkinan terjadi kontaminasi dalam pembuatan kultur murni tanpa menggunakan media PDA tinggi.

Selain itu, media PDA mengandung nutrisi yang lebih siap digunakan jamur merang untuk pertumbuhannya, sehingga dianggap sebagai fase adaptasi jamur merang sebelum ditumbuhkan ke media tanam. Iwan menambahkan, cara pembibitan jamur merang ala Katim sudah berkembang sejak 1968. Namun, teknik itu tidak berkembang karena tingkat keberhasilannya kecil.

Katim Indra (kanan) dan Asep Rosidin (kiri). Katim membibitkan F0 jamur merang tanpa media PDA

Katim Indra (kanan) dan Asep Rosidin (kiri). Katim membibitkan F0 jamur merang tanpa media PDA

Produksi tinggi
Katim memanen jamur merang 8 hari setelah bibit jamur merang ditebar di kumbung. Dari sebuah kumbung berukuran 4 m x 6,5 m itu, ia memanen 200—250 kg jamur merang. Ia memanen 15—20 kg jamur merang setiap hari. Ayah satu anak itu menjual jamur merang Rp21.000 per kg. Iwan menuturkan, dengan luas tanam itu, produksi jamur merang 200—250 kg tergolong bagus. Dengan luasan sama, produksi jamur merang rata-rata 180—200 kg.

Menurut Endang Sumarna anggota staf Bidang Hortikultura dan Perkebunan, Dinas Pertanian Kehutanan Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Karawang, produksi jamur merang Katim tergolong tinggi. Sebab, “Petani jamur merang di Karawang memperoleh 100 kg saja cukup sulit,” ujarnya. Ia mengatakan dari 18 penangkar bibit jamur merang di Karawang, 4 di antaranya mampu membibitkan sendiri F0. Namun, yang berjalan stabil dua orang, termasuk Katim.

Baca juga:  Berpadu dalam Inovasi

Sebelum menggunakan teknik pembibitan langsung itu, Katim membibitkan jamur merang dengan PDA. “Pakai media PDA daya tumbuh jamur merang hanya 20%,” ujar pria 39 tahun itu. Menurut Iwan pembibitan jamur merang harus di tempat steril. Sebab, “Proses pembibitan rawan terkontaminasi,” ujar Iwan.

Oleh sebab itu, tidak semua petani jamur merang mampu membibitkan sendiri. Selain steril, teknologi itu juga membutuhkan biaya tinggi. Petani lebih memilih membeli bibit dari penangkar. Akibatnya, petani tergantung pada produsen bibit. Jika kualitas bibit dari penangkar jelek, petani pun terancam merugi. Bahkan, pengepul jamur merang seperti Asep Rosidin juga turut rugi. “Jika bibit jelek, petani gagal panen, pasokan jamur merang pun jadi kosong,” ujar Asep.

Meski tergolong terobosan baru, Iwan khawatir jika teknik itu dilakukan dalam skala besar. Teknik kultur jaringan dalam pembuatan kultur murni jamur merang, mengambil jaringan tubuh buah jamur atau bagian vegetatif jamur.

Ketika seluruh bagian tubuh buah jamur dipindahkan dalam media bibit, maka spora yang merupakan bagian generatif jamur ikut terbawa. Perkembangan jamur merang dengan melaui spora ini mempengaruhi kualitas maupun kuantitas jamur yang dihasilkan. (Desi Sayyidati Rahimah)
Edisi Juni 2014.pdf

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *