Budi Sulistyo bersama anak dan istri di depan taman bonsai tempat mengawali prosesi pernikahan

Budi Sulistyo bersama anak dan istri di depan taman bonsai tempat mengawali prosesi pernikahan

Bonsai cemara udang tak hanya cocok menghias taman, tetapi juga dekorasi pesta pernikahan.

Sudah lama cemara udang Casuarina equisetifolia menjadi bahan bonsai. Karakternya yang kuat dengan percabangan serasi di tiap-tiap sudutnya menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemar bonsai. Para pebonsai pun seakan tak pernah kehabisan ide untuk membentuk cemara udang dengan beragam gaya, mulai dari formal, semiformal, hingga cascade.

Bonsai cemara udang kerap menghiasi taman-taman halaman rumah. Bentuk daun dan batangnya yang eksotis, memunculkan kesan natural dalam taman itu. Pada November 2013, bonsai itu hadir di tempat baru, yaitu menjadi salah satu komponen dekorasi pernikahan.

 

Suasana dekorasi menuju titik utama resepsi pernikahan

Suasana dekorasi menuju titik utama resepsi pernikahan

Huang San

Pernikahan anak perempuan saya menjadi awal menghadirkan ide itu. Gayung bersambut ketika Azalea Dekorasi, pendekor pesta pernikahan, menyetujui ide untuk memakai bonsai cemara udang dalam desain dekorasinya. Bahkan, bonsai itu menjadi pusat perhatian para tamu undangan lantaran posisinya sebagai latar belakang pelaminan.

Prosesi pernikahan dimulai di taman bonsai di halaman belakang rumah. Di situlah sang pengantin wanita memulai kegiatan pernikahan. Dinding yang mengelilingi taman itu berbentuk pola jalur memanjang. Dengan pola itu, kesan lega dan luas muncul di area itu. Di bagian belakang dibentuk gundukan tanah dengan batu-batu runcing yang mencuat ke atas. Kesannya seperti alam pegunungan di Huang San, Cina.

Bonsai cemara udang berkarakter kuat dengan percabangan serasi di tiap-tiap sudutnya ditambah berbatang dua. Cocok menghiasi hari terindah sejoli dalam pesta pernikahan

Bonsai cemara udang berkarakter kuat dengan percabangan serasi di tiap-tiap sudutnya ditambah berbatang dua. Cocok menghiasi hari terindah sejoli dalam pesta pernikahan

Bonsai-bonsai seperti hokiantea, anting putri, dan beringin berjajar rapi dan teratur. Beberapa bonsai berkesan gagah karena tumbuh mencengkeram batu. Sebuah cemara yang sudah tua dengan batang mati yang menonjol menjadi titik utama dari alam pegunungan itu.

Baca juga:  Kampiun di Swiss Kecil

Di sisi kiri taman, menjulang tinggi sebuah bougenvil besar diiringi air terjun yang senantiasa bercucuran menimbulkan bunyi gemericik. Beragam bonsai seperti beringin, asam belanda, ulmus, dan sianto mengitari air terjun itu hingga terkesan ramai. Sementara banyak ceruk-ceruk di dinding yang diisi oleh bonsai cemara, beringin, saung simbur, serut, serta pohon kawista tua di dalam pot besar.

Usai prosesi pernikahan di belakang rumah, kedua mempelai tiba di pelaminan di Grand Ball Room Four Seasons Hotel, di Jakarta. Di belakang pelaminan itu sebuah cemara udang tua setinggi 120 cm sebagai titik poin dalam dekorasi. Bonsai itu dipilih untuk mengimbangi ruangan pelaminan yang juga lebar dan besar.

 

Cemara udang menjadi latar alam di salah satu obyek wisata tanahair

Cemara udang menjadi latar alam di salah satu obyek wisata tanahair

Lukisan

Cemara udang itu memiliki karakter kuat pada batangnya yang berkelok sehingga terkesan sangat tua. Bahkan, di sisi kanan bonsai itu, sebuah batang kecil tampak menempel sehingga bonsai cemara udang itu bisa digolongkan bonsai berbatang dua. Sebuah simbolisasi yang tepat untuk sebuah pernikahan. Bonsai melambangkan seorang anak yang benar-benar dilindungi oleh bapaknya seperti seorang suami yang melindungi istrinya.

Untuk menonjolkan keindahan bonsai cemara udang, terdapat latar putih di belakang bonsai. Itu memunculkan kesan kosong pada dekorasi pelaminan bertema alam yang hijau dan segar sehingga bonsai terlihat lebih menonjol.

Di sekeliling bonsai, dibuat bingkai berisi bermacam-macam bunga seperti phalaenopsis, hydrangea, dan dedaunan philodendron yang hijau memikat. Dekorasi itu membuat bonsai cemara udang begitu menonjol bak sebuah lukisan indah di tengah hiasan hijau dedaunan.  Pendekor menambahkan ornamen kupu-kupu putih yang bertebaran di kumpulan bunga-bunga dan daun. Dengan begitu kesan hidup dan alami hadir di pesta pernikahan.

Baca juga:  Stirofoam: Tiga Bulan Terurai

Begitulah bonsai yang terbingkai menjadi latar belakang pelaminan. Posisi bonsai agak tinggi. Agar pengantin yang duduk atau pun berdiri di depan bonsai cemara udang itu tak menutupi tanaman eksotis itu. Dengan begitu keindahan bonsai di pelaminan pun tetap dapat dinikmati keindahannya. (Ir Budi Sulistyo, praktikus bonsai di Jakarta, Ketua Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia—Bidang Luar Negeri)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d