Cemara Cantik di Cikarang

Cemara Cantik di Cikarang 1
Cemara udang milik Hengky Wahyu meraih predikat best in show di kelas utama

Cemara udang milik Hengky Wahyu meraih predikat best in show di kelas utama

Paling prima jadi juara.

Cemara udang milik Hengky Wahyu di Jakarta itu menyedot perhatian para juri kontes dan pameran bonsai di City Walk Lippo Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Penampilan bonsai berukuran besar di atas pot persegi panjang itu memang menarik. Percabangannya matang tanpa kawat-kawat pengarah. Struktur akar, batang, dan daun seimbang. Batang tanaman Casuarina equisetifolia itu kokoh bertekstur kulit kasar sehingga terkesan tua. Secara keseluruhan cemara udang bergaya informal itu memenuhi kriteria penilaian nyaris sempurna meliputi penampilan, gerak dasar, kematangan, dan keserasian.

Dewan juri yang terdiri atas Rudi Nayoan, Yayat Hidayat, Umar HS, dan Sukimto sepakat menabalkan cemara udang itu sebagai best in show di kelas utama. Rudi Nayoan menuturkan cemara udang milik Hengky itu memenuhi unsur estetika dalam seni bonsai yakni filosofi, teori, dan ilmu. “Pohon itu juga memiliki tingkat kematangan tinggi dan penampilannya pun luwes,” ujarnya. Pantas bila bonsai itu moncer di kelas utama dan layak menyandang predikat best in show.

J. chinensis milik Soeroso di Jakarta, best in show kelas madya

J. chinensis milik Soeroso di Jakarta, best in show kelas madya

Perawatan tepat
Menurut Yayat Hidayat untuk membuat sosok cemara udang seperti itu tidak mudah. “Beberapa pebonsai gagal mempertahankan bentuk bonsai cemara udang yang cantik lantaran kurang memperhatikan perawatan,” katanya. Ia mengatakan kontrol media menjadi salah satu kunci utama. Ada pehobi yang enggan mengganti media tanam hingga 5 tahun lantaran khawatir tanaman stres. Padahal keengganan itu bisa mengakibatkan kulit batang pecah atau mati cabang. “Idealnya media diganti setiap 2—3 tahun,” katanya.

Cemara udang menyukai tempat hidup mirip habitat aslinya di pinggir pantai. Biasanya pehobi bonsai menyimpan klangenannya di dak rumah. Sinar matahari yang penuh, sirkulasi udara yang baik, dan kebutuhan air tercukupi membuat tanaman itu betah. “Saat memasuki fase pembesaran batang cemara udang membutuhkan lebih banyak air,” kata Yayat. Ia mengingatkan untuk menghindari tempat teduh untuk menyimpan cemara udang sebab rawan cendawan.

Baca juga:  Konferensi Keuangan Mikro

Selain itu, perhatikan teknik pemangkasan. “Jangan memangkas terlalu pendek saat musim hujan tiba sebab bisa menyebabkan pertumbuhan daun lambat,” ujarnya. Dengan perawatan yang tepat wajar bila sosok bonsai cemara udang milik Hengky Wahyu itu paling cantik dan mengungguli sepuluh besar tanaman yang masuk kelas utama. Ia mengalahkan 21 bonsai pesaing yang datang dari Bekasi, Bandung, Garut, dan Ponorogo.

Pada kategori regional, cemara Juniperus chinensis milik Tedy dari Bandung, Jawa Barat, berhasil menyabet best in show lantaran tampil sempurna nyaris tanpa cacat. Sosok tanaman setinggi 110 cm itu begitu dinamis dan cantik. Adanya jin alias kulit terkelupas membuat penampilannya semakin alami. Cemara J. chinensis lain milik Soeroso Soemoprawiro di Jakarta yang bertanding di kelas madya pun mendapat predikat best in show. Bonsai bergaya informal semicascade itu tampil istimewa dengan lekuk batang yang menarik. “Untuk membuat bentuk lekuk nan indah pada tanaman itu butuh waktu cukup lama dan proses rumit,” kata Yayat.

J. chinensis milik Tedy best in show kelas regional

J. chinensis milik Tedy best in show kelas regional

Semarak
Perhelatan yang diusung oleh Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Bekasi itu juga menghadirkan juri luar negeri yakni Ho Yung Yu dan Albert Chang dari Taiwan. Menurut Tora, ketua panitia, panitia mendatangkan kedua juri itu untuk menilai agar semangat para pebonsai terpacu saat mengikuti lomba. “Kami juga mendaulat kedua juri itu untuk mendemonstrasikan cara membuat bonsai,” ujar Tora.

Hasilnya, antusiasmes peserta sangat tinggi terbukti ada 306 bonsai yang turut serta untuk adu cantik di kontes bertajuk “Kemilau Bonsai 2014” itu. Masing-masing 48 di kelas prospek, 146 di kelas regional, 74 di kelas madya, dan 21 kelas utama. “Peserta yang hadir melampaui target,” kata Tora. Kontes semakin semarak dengan hadirnya 12 bonsai di kelas bintang dan 22 paviliun yang memamerkan ragam jenis bonsai. Phusu milik Honggo Jiwo dari Ponorogo, Jawa Timur, sukses meraih gelar best in class di kelas bergengsi itu. (Andari Titisari)

Baca juga:  Pertolongan Pertama Kucing Muntah

 

Anthurium jenmanii variegata milik Dedy dari Yogyakarta

Anthurium jenmanii variegata milik Dedy dari Yogyakarta

Anthurium jenmanii variegata milik Dedy dari Yogyakarta, meraih predikat terbaik saat latihan bersama yang diadakan oleh Komunitas Anthurium Solo Raya pada 24 Agustus 2014. Menurut Aris Suharto, koordinator juri, tanaman itu layak mendapat gelar terbaik sebab tampil paling prima dengan susunan daun kompak. Latihan bersama itu memamerkan 50 anthurium milik pehobi di Surakarta dan sekitarnya. Panitia membagi menjadi dua kategori yaitu jenmanii dan nonjenmanii. Kategori jenmanii terdiri atas pemula, prospek, madya, kobra, golden, dan variegata. Sementara nonjenmanii terdiri atas hookery dan mix nonhookery. Tujuan utama kegiatan itu membagi informasi budidaya anthurium, perkembangan pasar, dan tren. “Latihan bersama menitikberatkan edukasi pada anggota seperti seluk-beluk tanaman sebelum mengikuti kontes, tanaman yang layak menjadi juara, dan tata cara penilaian,” kata Muhammad Fahmi, anggota panitia. (Andari Titisari)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x