Trembesi banyak dimanfaatkan sebagai pohon penghijauan

Trembesi banyak dimanfaatkan sebagai pohon penghijauan

Merawat pohon penghijauan di perkotaan agar tidak memakan korban jiwa.

Umur pohon damar Agathis alba itu sejatinya masih muda, baru 50 tahun. Tingginya baru 10 meter dan diameter 100 cm. Pohon anggota famili Araucariaceae itu sebetulnya mampu bertahan hingga lebih dari seratus tahun. Namun, rayap menggerogotinya pohon koleksi Kebun Raya Bogor yang mengoleksi 15.000 jenis tumbuhan itu. Celakanya serangan serangga itu belum terdeteksi sebelum tumbang.

Lima karyawan PT Asalta Mandiri Agung tertimpa pohon itu dan meregang nyawa. Lima tahun terakhir masyarakat bergairah menanam beragam pohon untuk penghijauan seiring dengan program pemerintah. Jenis pohon yang banyak ditanam untuk penghijauan perkotaan antara lain bungur Lagerstroemia speciosa, trembesi Samanea saman, dan mahoni Swietiana mahagoni—ketiganya juga mampu berumur hingga seabad lebih jika tetap sentosa.

Penampakan pohon keropos (kiri) dan citra di monitor (kanan)

Penampakan pohon keropos (kiri) dan citra di monitor (kanan)

Mahoni uganda di Kebun Binatang Bandung

Mahoni uganda di Kebun
Binatang Bandung

Pemantauan
Penyebab pohon tumbang karena faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal yang dapat mengakibatkan pohon tumbang adalah hujan dan angin. Air hujan membasahi dan menempel pada daun, dahan, dan ranting. Akibatnya massa tajuk pohon pun meningkat. Jika pohon tidak kuat karena bagian batang busuk, maka dahan akan patah atau pohon tumbang. Embusan angin yang kuat juga memicu pohon tumbang.

Faktor internal penyebab tumbangnya pohon adalah busuk batang. Pohon damar di Kebun Raya Bogor itu terserang busuk batang akibat infeksi cendawan, bakteri, dan atau mikrob lainnya yang dapat menurunkan kekuatan pohon. Sudah begitu serangan rayap turut memperparah kondisi kesehatan pohon tumbang sehingga ketika hujan deras disertai angin mengguyur Bogor, Provinsi Jawa Barat, pada 11 Desember 2015.

Itulah sebabnya memantau kondisi pohon penghijauan di sepanjang jalan, perkantoran, atau perumahan sangat perlu. Memantau kesehatan pohon bisa dengan metode sederhana, yakni dengan cara memukulkan palu kayu atau kapak di permukaan batang pohon sehingga kita dapat mengetahui adanya keropos batang. Jika dampak pemukulan menghasilkan bunyi “tung-tung” dengan suara keras, berarti batang pohon tidak keropos.

Pohon-pohon penghijauan perlu dicek rutin

Pohon-pohon penghijauan perlu
dicek rutin

Sebaliknya jika terdengar bunyi “bek-bek” dengan suara berat indikasi batang pohon telah keropos. Frekuensi pemantauan cukup 1—2 kali per tahun terutama saat musim hujan. Itu untuk pohon berumur minimal 50 tahun. Jika umur pohon lebih muda, frekuensi bisa 3—4 tahun. Pemantau juga mencermati pohon yang tumbuhnya miring karena berpotensi tumbang ketika hujan deras.

Baca juga:  Rupiah dari Kale

Dari mana kita tahu umur sebatang pohon? Dengan mengecek diameter batang setinggi dada kita dan mengetahui jenis pohon, kita tahu umur pohon. Untuk memudahkan pemantauan, pohon berumur 50 tahun, kira-kira berdiameter minimal 40 cm. Selain pemantauan secara konvensional itu, kita dapat memanfaatkan peranti canggih untuk memastikan kesehatan pohon penghijauan di perkotaan—terutama di area yang kerap dilalui masyarakat.

Detektor untuk mengetahui kesehatan pohon

Detektor untuk mengetahui
kesehatan pohon

Alat canggih
Untuk memastikan kesehatan pohon, kita dapat memanfaatkan alat yang bekerja secara gelombang termis, gelombang suar, dan gelombang suara ultra. Detektor yang terhubung dengan komputer itu dipasang di sekeliling pohon. Kita dapat melihat citra hasil pendeteksian pada layar monitor komputer. Jika hasil pendeteksian menyatakan bahwa kedalaman bagian pohon yang busuk kurang dari 30—40%, maka pohon dapat kita selamatkan dengan perawatan.

Jika keropos pohon kurang dari 20—35%, sebaiknya pohon dirawat

Jika keropos pohon kurang dari 20—35%, sebaiknya pohon dirawat

Namun, jika kebusukan dengan kedalaman pohon melebihi 50% dan cukup luas, maka sebaiknya pohon ditebang saja. Begitu juga jika terjadi luka atau busuk dahan dan pohon, maka pohon harus dirawat. Perbaikan luka atau lubang merupakan hal penting dalam tahap pemeliharaan pohon. Perhatian orang terhadap masalah itu masih kurang karena kurangnya biaya atau adanya anggapan sebagian ahli yang menyatakan lebih baik menanam dan mengganti dengan pohon baru daripada merawatnya.

Harap mafhum, perawatan memerlukan waktu lama dan dana besar. Di samping itu ada anggapan bahwa pohon berlubang besar tidak perlu diperbaiki, karena pohon akan mati dalam beberapa tahun mendatang. Namun, anggapan itu keliru setelah terjadinya bencana pohon damar di Kebun Raya Bogor tumbang pada 11 Januari 2015 itu. Perawatan pohon juga sangat diperlukan pada pohon yang ditanam oleh orang penting, seperti Gadjah Mada, Raja Siliwangi, Soekarno, atau Susilo Bambang Yudhoyono.

Pohon yang sehat memiliki permukaan kulit yang mulus mulai dari akar sampai ujung batang. Sepanjang kondisi itu dapat tetap terjaga, maka tidak akan terbentuk luka maupun lubang. Namun, jika pohon itu dikuliti, dipotong, dipukul, dibakar atau kena serangan hama, maka akan dapat terbentuk luka yang kemudian berubah menjadi lubang. Secara umum lubang yang dalam pada kayu lebih berbahaya daripada hanya di permukaan kulitnya.

Angsana Pterocarpus indicus cocok untuk penghijauan, pertumbuhan cepat, kayu kuat, dan menyerap polutan

Angsana Pterocarpus indicus cocok untuk penghijauan,
pertumbuhan cepat, kayu kuat, dan menyerap polutan

Jaringan parut
Perlukaan pada jaringan kulit dan jaringan kayu harus disembuhkan. Tanpa perawatan luka itu justru menimbulkan infeksi yang lebih berat, sehingga membahayakan kelangsungan hidup tanaman serta orang di bawahnya atau di dekatnya. Secara garis besar luka dan busuk terbagi menjadi dua bagian, yaitu luka dan busuk yang terbatas hanya di permukaan kulit dan luka dan busuk yang terjadi pada kulit dan juga pada kayu teras dan atau kayu gubal.

Baca juga:  Menghitung Untung Puyuh

Semakin dalam luka, maka semakin butuh penanganan berupa perawatan bahkan penebangan. Jika luka dan busuk batang kurang dari 20—35%, maka sebaiknya pohon dirawat dan diberi perlakuan. Lain halnya jika kekeroposan sudah lebih dari 40—50%, maka pohon ditebang saja. Jika kekeroposan sekitar 25% pada keadaan ranting yang lebat dan miring pun sebaiknya dipangkas atau ditebang.

Jabon

Jabon

Dengan perawatan, akan ada efek penyembuhan, maka luka dan lubang yang terbentuk akan dapat tertutup kembali oleh jaringan kalus—sekumpulan sel amorfus atau tidak berbentuk atau belum terdiferensiasi dan yang terbentuk dari sel-sel yang membelah terus- menerus secara in vitro. Penyembuhan luka pada pohon mirip seperti pada binatang dengan timbulnya jaringan parut.

Bedanya, pada pohon jaringan baru tumbuh dari sisi luka (terdapat jaringan kambium) menuju ke tengah. Adapun pada binatang jaringan parut tumbuh baik dari dasar luka maupun dari tepi luka. Selain itu pada sel-sel binatang, luka-luka itu akan hilang jika telah diganti oleh sel-sel baru. Itu tidak terjadi pada tumbuhan, karena kerusakan sel-sel pohon tidak dapat diganti dengan sel yang baru.

Jadi bekas luka masih mudah dilihat walaupun telah tumbuh jaringan baru di sekelilingnya. Dengan pemantauan berkala dan perawatan rutin, tragedi pohon tumbang, apalagi memakan korban jiwa dapat kita cegah. (Dr Ir Endes Nurfilmarasa Dahlan MS, dosen di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Institut Pertanian Bogor)

543_ 142

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d