Busuk akar dapat mengendaskan harapan petani untuk memperoleh buah berkualitas.

Busuk akar dapat mengendaskan harapan petani untuk memperoleh buah berkualitas.

Cara baru menanam pepaya agar terbebas dari serangan layu akibat cendawan Phytophthora.

Betapa masygulnya Tatang Halim saat mendapati daun-daun tanaman pepaya berumur 3 bulan itu layu dan menguning. Bahkan banyak juga yang rontok berserakan di sekitar batang. Ukuran daun semakin mengecil. Celakanya kerusakan itu terjadi pada sebagian besar tanaman pepaya. Pekebun di Desa Korelet, Kecamatan Curug, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu membongkar batang tanaman yang sakit parah.

“Akar-akar membusuk, warna cokelat tua dan berbau busuk,” ujar Tatang. Ia berharap ada tanaman yang masih sehat dan bertahan dari serangan penyakit. Namun, saat membongkar tanaman yang masih terlihat sehat, ternyata kondisi akar terlihat gejala kerusakan serupa.

Tanaman sehat berpotensi menghasilkan sampai 30 kg per pohon.

Tanaman sehat berpotensi menghasilkan sampai 30 kg per pohon.

Akibat cendawan
Tidak ada pilihan lain bagi Tatang selain membongkar semua tanaman pepaya. Ia khawatir penyebaran penyakit semakin luas dan menyerang jenis tanaman lain. Dosen di Departeman Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Sobir, MS, membenarkan tindakan itu. Menurut Sobir penyakit itu karena cendawan Phytophthora. “Cendawan itu berbahaya karena sebagai patogen tular tanah mereka dapat bertahan lama di dalam tanah yang mengandung banyak bahan organik,” ujar Sobir.

Phytopthora dapat menginfeksi berbagai tumbuhan inang, seperti cabai, kentang, dan kakao Penyakit itu juga dapat menyebar dengan bantuan air yang mengalir di atas permukaan tanah,” ujar Sobir. Mantan Kepala Pusat Kajian Buah Tropika IPB itu mengatakan, cara terbaik membongkar sumber penyakit. Bagi pekebun berorientasi bisnis, biaya penanganan penyakit akan jauh lebih besar daripada memulai penanaman tanaman baru.

Baca juga:  Pingpong Varian Baru

Serangan dahsyat busuk akar tanaman pepaya menyisakan pertanyaan besar bagi Tatang. Ia merasa menjalankan budidaya pepaya sesuai dengan prosedur standar dari berbagai literatur. “Budidaya pepaya dengan pengolahan tanah dengan cara membuat lubang tanam, mengisi dasar dengan pupuk kandang, lalu menimbun dengan tanah sebagai tempat menanam biji. Itu semua saya lakukan, tapi bisa terjadi juga busuk akar,” kata Tatang.

Menurut Sobir penyakit itu dapat berkembang biak di lingkungan yang sesuai. “Secara umum cendawan menyukai lingkungan tanah yang basah sampai jenuh air. Selain itu suhu udara juga sangat membantu dalam perkembangan penyakit. Penyakit itu berkembang optimal pada suhu udara 20—300C,” ujar pemulia tanaman itu. Perkembangan penyakit semakin cepat jika drainase dan aerasi tanah yang buruk, penanaman biji terlalu dalam, dan jarak tanam terlalu rapat.

Phytophtora menginfeksi akar yang luka, menyerang pada fase kecambah pada persemaian maupun tanaman dewasa. Buah matang juga rentan terhadap penyakit itu. Kerugian besar akibat busuk akar tidak membuat Tatang patah semangat. Ia semakin tertantang bereksperimen untuk mencari solusi mengatasi penyakit yang sampai kini masih menjadi salah satu momok pekebun.

Menanam benih di guludan menghindari risiko busuk daun dan mencegah lingkungan sekitarnya menjadi sumber penyakit.

Menanam benih di guludan menghindari risiko busuk daun dan mencegah lingkungan sekitarnya menjadi sumber penyakit.

Di guludan
Tatang kembali menanam pepaya di lahan yang sama. Cara budidaya pepaya ala Tatang terbukti mampu mencefah serangan layu. Cara budidaya ala Tatang ialah meninggalkan penggalian lubang tanam. Sebagai gantinya, pria berkacamata itu membuat guludan dari tanah setinggi 30 cm dan lebar 50 cm sebagai tempat tumbuh tanaman. Ia menanam benih di guludan dengan kedalaman sekitar 5—10 cm dari permukaan tanah.

Baca juga:  Raja Hutan Gemar Durian

Ia menaburkan pupuk kandang di permukaan tanah di sekeliling tempat penanaman benih. Dengan begitu nutrisi masuk ke dalam tanah secara lambat urai, karena tahap pertumbuhan benih lebih membutuhkan ketersediaan air yang cukup. Pemenuhan kebutuhan air pada lahan juga harus memperhatikan pengaturan drainase. Menurut Tatang, saluran pembuangan air yang masuk ke lahan penting dibuat supaya tanah tidak jenuh air.

“Kalau tanah sudah jenuh air, teksturnya berubah menjadi padat dan saat kering permukaannya pecah-pecah. Kondisi seperti itu tidak mendukung untuk tumbuhnya tanaman apa pun,” kata Tatang. Pekebun harus memberi jalan air misal parit kecil supaya tidak berada di lahan terlalu lama. Tatang mengatakan, itu salah satu fungsi penanaman benih di guludan. Posisi benih dan pupuk tidak terendam air sehingga terhindar dari busuk dan perkembangan cendawan.

Cendawan Phytophthora penyebab busuk akar menyukai lingkungan lembap untuk hidup dan berkembang biak. Menurut Tatang, “Kita dapat menguji tingkat kelembapan lahan dengan cara berdiam di bawah pohon yang teduh atau naungan selama sekitar 10 menit. Bila selama itu tubuh kita mengeluarkan keringat, berarti tingkat kelembapan termasuk tinggi.”

Tatang Halim, petani harus kreatif berbudaya sesuai lahan dan lingkungannya.

Tatang Halim, petani harus kreatif berbudaya sesuai lahan dan lingkungannya.

Untuk menguranginya, Tatang memangkas tanaman supaya sirkulasi udara kembali lancar dan lingkungan tidak didominasi udara yang mengandung banyak uap air. Tatang mengatakan tanaman pada musim hujan sebetulnya tidak rentan penyakit busuk akar. “Menurut pengalaman saya, kondisi justru sebaliknya. Cendawan mulai berkembang pada akhir musim hujan,” ujar Tatang.

Ketika intensitas dan frekuensi hujan berkurang, suhu hangat, menyebabkan iklim mikro di sekitar tanaman (kelembapan) justru meningkat. Tatang menyarankan pekebun harus selalu menambah pengetahuan, tidak segan untuk minta saran dengan praktisi yang berpengalaman dan tidak melulu tergantung dengan petunjuk standar yang lama.

Baca juga:  Agar Petaurus Tetap Bagus

Budidaya pepaya ala Tatang terbukti andal mengatasi penyakit busuk akar. Pada Juni 2015 ia melakukan uji tanam pepaya di lahan 200 m2. Hasilnya sampai kini 20 tanaman pepaya itu tetap tumbuh sehat. “Bukan hanya mencegah busuk akar. Tanaman juga makin tahan terhadap cuaca ekstrem yang akhir-akhir ini sulit diprediksi,” ujar Tatang. Ia kembali memperoleh hasil buah sesuai kondisi normal yaitu pada kisaran 25—30 kg per tanaman.

Menurut Prof Sobir, apa yang dilakukan oleh Tatang adalah bentuk modifikasi lahan untuk memperbaiki lingkungan perakaran. “Pengelolaan lahan itu membuat daerah perakaran tidak mendukung pertumbuhan sumber penyakit. Membuat sirkulasi udara lebih baik, pengaturan pH tanah, dan penambahan mikroorganisme penyubur tanah juga dapat dilakukan untuk menyempurnakan teknik budidaya,” ujar Sobir. (Muhammad Hernawan Nugroho)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d