Cara Tepat Besarkan Sidat 1
Sidat siap panen berbobot minimal 250 gram per ekor.

Sidat siap panen berbobot minimal 250 gram per ekor.

Menjaga sirkulasi dan kualitas air serta tepat pemberian pakan, kunci pembesaran sidat.

Kolam beton berukuran 3 m x 3 m itu berderet-deret di depan kantor. Setiap kolam sedalam 1,5 meter itu berisi puluhan sidat siap panen. Bobot Anguilla sp rata-rata 250 gram per ekor siap olah atau kirim ke konsumen. “Sehari rata-rata panen 50 kg sidat,” ujar Deni Firmansyah, direktur PT Laju Banyu Semesta (Labas), peternak sidat di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia berencana meningkatkan kapasitas menjadi 1 ton per hari.

Untuk menghasilkan hewan anggota famili Anguillidae itu, PT Labas memanfaatkan lahan seluas 2.200 m2. Dari luasan itu, ia bagi menjadi 4 fase tahapan hidup sidat. Yakni, glass eel dengan bobot 0,16—1 gram, elver bobot 1—10 gram, fingerling 10—50 gram. Terakhir, pembesaran dengan bobot lebih dari 50 gram. Deni membutuhkan 8 bulan untuk membesarkan sidat fingerling hingga siap panen.

Kolam pembesaran sidat PT Labas di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kolam pembesaran sidat PT Labas di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Mudah
Menurut Dr Agung Budiharjo MSi dari Jurusan Biologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah, fase pembesaran sidat relatif lebih mudah. “Fase elver hingga konsumsi tingkat kematian tidak kurang dari 5%,” ujar Agung. Deni menuturkan, budidaya sidat dari benih hingga siap konsumsi tingkat kematiannya mencapai 50%. Sebanyak 30% kematian di fase glass eel. Sisanya, 20% di fase elver sampai pembesaran.

Kematian 20% di fase elver sampai pembesaran itu disebabkan hilang atau kuntet alias tidak tumbuh. “Fase pembesaran sidat lebih tahan banting sehingga tingkat kematiannya relatif rendah,” kata Deni. PT Labas memanfaatkan 10 kolam berukuran 2,5 m x 2,5 m dan 3 m x 3 m, serta 1 kolam berukuran 4 m x 4 m untuk pembesaran sidat. Lantaran kebutuhan oksigen tiap fase pertumbuhan sidat berbeda, Deni menyesuaikan kepadatan ikan nokturnal itu dengan debit air kolam.

Baca juga:  Agar Hutan Kembali Perawan

Kolam berukuran 2,5 m x 2,5 m x 1 m terdiri atas 100 kg. Debit air mencapai 2 liter per detik. Adapun kolam berukuran 3 m x 3 m x 1 m, berisi 200 kg sidat, menggunakan debit air 3 liter per detik. “Apabila debit air kurang dari itu sidat kekurangan oksigen, lalu mati,” ujar alumnus Sekolah Tinggi Perikanan, Pasarminggu, Jakarta Selatan, itu. Agung menjelaskan budidaya sidat membutuhkan oksigen yang cukup. “Untuk sirkulasi sebaiknya air mengalir terus,” ujar peneliti alumnus Universitas Gadjah Mada itu.

Pengemasan sidat menggunakan kotak stirofoam.

Pengemasan sidat menggunakan kotak stirofoam.

Itulah sebabnya Deni menggunakan sirkulasi air selama 24 jam. Hal serupa dilakukan Sukirno Budhianto, peternak sidat di Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Ia menggunakan air bersirkulasi selama 24 jam. Untuk menjaga kualitas air yang digunakan, Sukirno juga mengganti air setiap tiga hari sekali. Ia menyisakan air kolam hingga 20%, lalu menambahkan air baru.

Deni juga memperhatikan pH air. Air kolam ber-pH tinggi menyebabkan protein tidak terserap darah. Akibatnya sidat pun mati. Oleh karena itu pria berusia 47 tahun itu menggunakan air ber-pH netral, 7. Bila pH air tinggi, Deni menambahkan filtrasi. Penambahan filtrasi meningkatkan kadar oksigen, sehingga pH akan turun. Sementara pada pH air yang rendah dapat ditingkatkan dengan menambah air ber-pH tinggi.

Pakan
Selain memperhatikan lingkungan tumbuh sidat, Deni juga memperhatikan pakan sidat. Sebab, “Keberhasilan budidaya sidat 80% dipengaruhi oleh pakan,” ujar Agung. Untuk itu, PT Labas mengolah sendiri pakan sidat. Bahan baku yang digunakan di antaranya tepung ikan, jagung, dan tapioka. Ramuan pakan itu mengandung 40% protein.

Menurut Deni pemberian pakan sidat tidak sama di setiap fasenya. Untuk pembesaran sidat, misalnya, dari kolam berukuran 3 m x 3 m yang berisi 100—200 kg sidat, pemberian pakan 2—3% dari bobot tubuh. Frekuensi pemberian 3 kali sehari pada pagi, sore, dan malam. Ramuan pakan itu diberikan dalam bentuk pasta. Pembesaran sidat di luar ruangan (out door) sebaiknya menggunakan pakan dalam bentuk pasta. Itu karena sisa pakan dapat langsung terbuang.

Sidat mengonsumsi pakan berbentuk pasta.

Sidat mengonsumsi pakan berbentuk pasta.

Sidat siap panen saat bobot mencapai 250 gram per ekor. “Bobot ideal panen 250—300 gram per ekor,” ujar Agung. Sudiarso, peternak sidat di Suryodiningratan, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta, sepakat. Ia memanen sidat berbobot 250 gram. Ketika panen, Sudiarso menurunkan ketinggian air kolam yang awalnya 1 meter menjadi sepertiga bagian.

Baca juga:  Budidaya Kroto Kiat Hasilkan Kroto berkualitas

Peternak di Yogyakarta itu membutuhkan 6—8 bulan dari fingerling sampai sidat siap panen. Pada bulan ketiga, ia mengambil 8 sidat dari 8 titik yang tersebar di kolam sebagai sampel pengamatan pertumbuhan. Ia mengulanginya 2 pekan sekali sampai panen. Sidat hasil panen itu ia kemas dalam kotak stirofoam berukuran 30 cm x 40 cm x 20 cm.

“Sebuah kotak mampu menampung 15 kg sidat ukuran konsumsi,” ujarnya. Ia mengisi plastik dengan 4 kg air, memasukkan sidat, mengalirkan oksigen, lalu mengikat plastik itu. Sebelum memasukkan sidat, Sudiarso mengisi kotak stirofoam dengan es kering. Tujuannya, menidurkan sidat dan membuatnya tidak banyak bergerak sehingga mengurangi susut bobot.

Hal serupa juga dilakukan PT Labas. Ia mengemas sidat menggunakan kotak stirofoam. Selain menjual sidat segar, PT Labas juga mengolah sidat menjadi kabayaki dan shirayaki. Kabayaki adalah sidat panggang bercitarasa gurih, sedangkan shirayaki bercitarasa netral. Kapasitas pengolahan 100 kg per hari. Olahan sidat itu ia jual Rp425-ribu per kilogram. Sementara harga jual sidat segar Rp130-ribu per kilogram. “Dengan mengolah sidat nilai jualnya menjadi bertambah,” kata Deni. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments