Budidaya ikan hias sesuai permintaan pasar salah satu strategi membuka pasar

Budidaya ikan hias sesuai permintaan pasar salah satu strategi membuka pasar

Peternak menempuh beragam cara pasarkan ikan hias.

Sudah 3 jam Aziz Fauzi menelusuri jalan-jalan di Kota Bogor, Jawa Barat, untuk memasarkan ikan hias. Hasilnya hanya tiga dari delapan toko yang menerima ikan pasokannya, sisanya menolak. Alasan penolakan beragam. “Ukuran ikan saya kecil, stok ikan masih banyak, harga kurang cocok, dan sudah ada pemasok langganan,” kata Ozi, sapaan akrab Aziz Fauzi.

Namun, ia tidak berkecil hati. Tiga toko itu awal dari bisnis cupang yang ia geluti. Saat itu rata-rata satu toko meminta 20 cupang. Kini 7 tahun kemudian, toko itu menerima 200—250 cupang per pekan. Selain berkeliling menawarkan produk langsung ke toko, Ozi juga memajang akuarium berisi cupang di teras rumah. Dari situ teman-teman yang datang mengetahui profesi Ozi sebagai peternak Betta splendens.

Wiwik Widianarko, pelopor pengembangan budidaya ikan hias di Kabupaten Garut, Jawa Barat

Wiwik Widianarko, pelopor pengembangan budidaya ikan hias di Kabupaten Garut, Jawa Barat

Cara daring
Pada 2010 Ozi memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai media promosi. Ia pun menawarkan produknya lewat situs jual beli dan media sosial. “Banyak orang yang merespons ikan yang saya tampilkan,” kata pria kelahiran Bogor itu. Tidak mudah bagi Ozi menjual ikan dengan cara daring atau online. Bahkan ada calon konsumen yang meminta Ozi menampilkan identitas diri berupa kartu tanda penduduk (KTP) agar mereka yakin.

Ia melakukan banyak cara agar konsumen mempercayai produknya. Ozi berkomitmen mengirimkan ikan sesuai dengan foto yang diunggah. Selain itu juga mengganti ikan yang mati di tempat tujuan. Ia juga kerap menampilkan bukti-bukti pembayaran dari konsumen sebelumnya. Dari bukti pembayaran itu dapat diketahui tujuan pengiriman dan nama penerima. Belum lagi informasi dari mulut ke mulut terkait pelayanan bermutu Ozi.

Dengan cara itu banyak konsumen yang membeli ikan ke ayah 2 anak itu. Dalam sepekan Ozi menampilkan 5—30 produk terbaiknya di laman kedua situs itu. “Yang terjual sekitar 23 ekor per pekan,” kata pria berumur 30 tahun itu. Bahkan sejak 2013 permintaan tidak hanya datang dari dalam negeri. Konsumen dari Thailand, Singapura, Vietnam, dan Filipina pun meminta ikan produksi Ozi.

Kolam milik Garut Ornamental Fish Farm, Produsen ikan hias di Garut, Jawa Barat

Kolam milik Garut Ornamental Fish Farm, Produsen ikan hias di Garut, Jawa Barat

Menurut hasil penelitian Melly Widiaty dari Fakultas Pertanian, Insititut Pertanian Bogor (IPB), penggunaan internet untuk pemasaran efisien dan menekan biaya lebih rendah serta konsumen lebih mudah mengetahui informasi terbaru dari peternak. Hasil penelitian Dwi Hertanto dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Insititut Pertanian Bogor menunjukkan penggunaan internet juga memudahkan konsumen membeli produk tanpa keluar rumah.

Baca juga:  Empat Strategi Tingkatkan Produksi Cabai

Sesuai pasar
Peternak ikan hias kini memang menempuh banyak cara untuk menembus pasar. Nun di Garut, Jawa Barat, Wiwik Widianarko juga memanfaatkan internet sebagai media promosi. Sejak Juli 2014 Wiwik membuat blog yang mempromosikan ikan hias tangkarannya. “Responsnya lumayan. Mulai dari eksportir, toko ikan hias, dan beberapa orang tertarik membudidayakan ikan hias,” kata peternak ikan hias sejak 2013 itu.

Menurut Wiwik keuntungan menggunakan blog yaitu memperluas relasi yang memiliki bisnis dan hobi sama sehingga peluang pengembangan ikan hias untuk pasar lokal dan ekspor semakin besar. Selain itu, Wiwik juga menginformasikan ke Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Garut bahwa ia mengembangkan ikan hias di wilayah yang terkenal karena dodolnya itu.

Ir Ignatius Mulyadi mengikuti pameran untuk memasarkan ikan hias

Ir Ignatius Mulyadi mengikuti pameran untuk memasarkan ikan hias

Kepala Bidang Perikanan, Tati Karyati, setuju dan mendukung untuk membantu penyuluhan dan sosialisasi. “Sebenarnya ini bentuk pemberdayaan masyarakat, khususnya Desa Buleut, agar bisa mendapat nilai lebih dari keberadaan usaha budidaya ikan hias di Kabupaten Garut,” tutur mantan kepala cabang salah satu produsen mobil multinasional itu.

Banyaknya peternak dan eksportir ikan hias yang gulung tikar tidak menyurutkan tekad Wiwik mengembangkan ikan hias di Garut. Ia punya strategi agar bisnisnya tetap berjalan antara lain membudidayakan ikan sesuai permintaan pasar. Saat ini ia fokus membudidayakan frontosa, denisoni, rasbora galaksi, dan duboisi. Strategi lain memelihara ikan bernilai ekonomis tinggi dan relatif sulit dibudidaya seperti frontosa.

“Saya tertantang untuk menghasilkan frontosa yang menurut informasi relatif sulit diternak,” kata pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, itu. Keberhasilan Wiwik menangkarkan frontosa tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pada awal budidaya ia sempat khawatir karena ikan yang dibeli mati. Meskipun begitu ia terus mencoba hingga berhasil.

Baca juga:  Umur 2 Tahun Bobot 1,6 Ton

Harga ikan keluarga siklid itu juga cenderung naik setiap tahun. Harga Cyphotilapia frontosa saat ini berkisar Rp6.500—Rp7.500 per inci. Sementara harga ikan itu pada 2013 hanya Rp6.000—Rp6.500 per inci. Trik lain yang ia gunakan yaitu mendatangkan minimal 1 jenis ikan baru setiap 3 bulan. Tujuannya agar koleksi ikan lebih variatif. Ia mendapatkan informasi seputar ikan terbaru yang prospektif dari eksportir.

Dengan begitu koleksi ikan Wiwik selalu bertambah dan selalu baru sehingga konsumen bisa memilih ikan sesuai keinginan. Asep Suganda, punya cara lain memasarkan ikan hias. Mantan peternak ikan konsumsi itu memilih bergabung dengan kelompok pembudidaya ikan hias Garut Ornamental Fish Farm. “Penjualan ikan lebih mudah jika bergabung dengan kelompok.

Menambah ikan hias baru dalam periode tertentu penting agar ikan lebih bervariasi

Menambah ikan hias baru dalam periode tertentu penting agar ikan lebih bervariasi

Selain itu pasar juga lebih terjamin,” kata Asep yang membudiayakan ikan hias sejak Desember 2014. Kini Asep membudidayakan platis, molly, dan ekor pedang. Jenis ikan itu dipilih karena produksi dan perawatan mudah. Menurut koordinator farm Garut Ornamental Fish Farm, Iman Nur’alam, organisasinya berperan sebagai penggerak masyarakat Kabupaten Garut, Jawa Barat, dan sekitarnya untuk budidaya ikan hias.

Pameran
Selain itu juga sebagai wadah petani ikan hias untuk berdiskusi dan berbagi pengetahuan tentang pengembangan dan pasar ikan hias. Mujilan, peternak ikan hias di Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, punya cara berbeda memasarkan ikan hias. Ia tidak perlu susah-susah mencari pasar. Sebab banyak pengepul yang datang ke tempat Mujilan untuk mengambil ikan.

Para pemasok ikan hias untuk eksportir datang ke tempat Mujilan dan menjadi pelanggan tetap. Harap mafhum Mujilan membudidayakan neon tetra dan kardinal tetra yang banyak diburu eksportir. Di Bandung, Jawa Barat, Ignatius Mulyadi, sering berpartisipasi dalam pameran ikan hias internasional. “Hampir setiap tahun saya mengikuti pameran,” kata Mulyadi. Ia juga menyarankan agar eksportir atau pelaku ikan hias lain memiliki situs sehingga lebih banyak menarik konsumen untuk membeli. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d