Cara Cegah Kaki Gajah 1
Makanan nabati mencegah serangan kaki gajah.

Makanan nabati mencegah serangan kaki gajah.

Dengan langkah terseok-seok, Mariana—bukan nama sebenarnya—melayani pembeli di warung padang miliknya. Meski langkahnya kian pelan, warga Bandung, Jawa Barat, itu tetap bekerja karena tuntutan menghidupi keluarga. Bobot kakinya yang membengkak 3 kali lipat dari ukuran normal dirasakannya sangat berat. Mariana mengidap elephantiasis alias kaki gajah sejak 5 tahun silam.

Perempuan setengah abad itu berobat ke sebuah Puskesmas di dekat rumahnya. Dokter yang memeriksa meresepkan obat diethylcarbamazine citrate atau DEC, albendazol, dan paracetamol. DEC berfungsi untuk memberantas cacing filarial yang bersarang di tubuhnya. Meski Mariana disiplin mengonsumsi obat, kakinya tetap membengkak. Akibatnya aktivitas sehari-hari tetap berat dirasakannya.

Menahun
Mariana salah satu di antara hampir 15.000 penderita kaki gajah yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Kini 241 dari 511 daerah tingkat dua menjadi lokasi endemis kaki gajah. Selain di kaki, kasus elephantiasis juga dapat terjadi di lengan, kantong buah zakar (limfedema skrotum), dan buah dada. Seorang siswi SMA kelas I
di Bandung mengalami pembengkakan hebat di tangan kirinya.

Itu menyebabkan pehobi makan bakso itu malu tampil di muka umum. Namun, kasus limfedema atau pembengkakan di bagian badan selain kaki lebih sedikit. Pembengkakan terjadi secara menahun disebabkan oleh banyaknya pembuluh limfa (saluran getah bening) yang tersumbat cacing filarial. Lama-kelamaan menimbulkan pelebaran pembuluh darah sehingga memudahkan cairan getah bening yang mengandung kadar protein tinggi keluar dari pembuluh darah atau extravasated.

Protein itu menimbulkan peradangan dan akhirnya membentuk jaringan ikat padat alias fibrosis. Fibrosis menekan pembuluh limfa lain, sehingga menambah bobot pembengkakan tungkai bawah. Kejadian itu berulang-ulang selama bertahun-tahun sehingga pembengkakan tungkai terus bertambah besar dan berat sehingga mengganggu pergerakan. Kulit menegang dan kering.

RSUP Hasan Sadikin menangani pasien elephantiasis merujuk pada pengobatan tanpa operasi yang dilakukan Judith R. Casley-Smith, di Adelaide, Australia Selatan. Tenaga medis di poliklinik divisi Bedah Vaskular RSUP Hasan Sadikin, menggunakan obat-obatan golongan benzopyrones (coumarin, hydroxy-rutoside, dan micronized purified flavonoid fraction). Selain itu pasien harus diet nabati dengan kalori yang cukup.

Baca juga:  Kilapkan Daun Aglaonema

Pembalut elastis dipasang mulai dari distal (kaki) ke proksimal atau lebih dekat dengan batang tubuh, (kecuali limfedema skrotum atau payudara), elevasi (bila sedang tak dibalut elastis). Setiap hari pengidap mengurut sendiri kaki, mulai dari distal ke proksimal. Pasien pun diharapkan memelihara kesehatan kulit, melakukan olah raga senam 2—3 kali sepekan, menjaga kebersihan serta kesehatan pribadi dan lingkungan.

Pembengkakan kronis (kaki gajah) akibat sumbatan saluran dan kelenjar limfa dapat diatasi dengan merangsang aktivitas sel makrofag dengan zat-zat aktif dari makanan nabati yaitu tempe, tahu, sayuran, dan buah-buahan. Selain itu pasien diberi obat-obatan dari golongan benzopyrones. Makrofag adalah sel darah putih yang bertugas sebagai “tentara” untuk mempertahankan tubuh dari serangan bakteri.

Ia sekaligus membuang “sampah” dan meningkatkan penghancuran protein (proteolisis) yang keluar dari pembuluh limfa. Dampaknya mengurangi fibrosis dan pembengkakan. Obat-obatan golongan benzopyrones, seperti coumarin yang berasal dari tanaman sweet clover Melilotus officinalis, hydroxyethyl-rutoside yang berasal dari quercetin rutinoside banyak ditemukan pada daun singkong, dan flavonoid lain.

Contohnya diosmin dan hesperidin yang dijumpai pada jeruk. Makanan nabati dianjurkan karena mengandung medium-chain triglyceride yang dicerna di dalam organ hati. Ia bukan bagian dari cairan getah bening, sehingga tidak menambah ekstravasasi protein. Jenis trigliserida lain yang berasal dari unsur binatang mengandung short-chain triglyceride. Setelah dicerna di dalam tubuh akan menjadi bagian dari cairan limfa yang kemudian mengalami ekstravasasi atau keluar dari pembuluh darah.

Prof Dr dr Hendro Sudjono Yuwono SpBV

Prof Dr dr Hendro Sudjono Yuwono SpBV

Pencegahan infeksi
Sebenarnya jumlah penderita penyakit kaki gajah relatif kecil bila dibandingkan dengan kasus demam berdarah atau malaria yang juga ditularkan oleh nyamuk. Apalagi untuk dinyatakan positif mengalami pembengkakan perlu puluhan atau ribuan kali digigit nyamuk yang membawa bibit cacing filaria. Namun, elephantiasis tetap berbahaya karena cacing filarial mampu bertahan hidup hingga 5 tahun dalam tubuh.

Penyakit itu pun perlu selalu diwaspadai lantaran beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing, dan kambing bisa mengidapnya. Satwa-satwa itu lebih rentan terserang karena tidak berpakaian dan hidup di luar rumah. Mereka sumber potensial untuk timbulkan lipedemia pada manusia. Nyamuk bisa mengambil bibit penyakit (cacing filaria) dari ternak itu lalu menyebarkan ke manusia.

Baca juga:  Avokad Baru Tanpa Biji

Bahaya lain elephantiasis ialah dapat menyerang anak kecil berumur 4—5 tahun. Untuk mencegah penularan cacing filarial, perbaikan sanitasi pribadi dan lingkungan. memberantas sarang-sarang nyamuk. Selain itu memakai kelambu atau mengoles badan dengan obat antinyamuk saat tidur, memakai pakaian tertutup sehingga sulit ditembus nyamuk, dan melakukan pengasapan secara berkala.

Makanan nabati mencegah serangan kaki gajah.

Makanan nabati mencegah serangan kaki gajah.

Ribuan gigitan
Seseorang tidak gampang mengidap penyakit kaki gajah. Karena pembuluh getah bening (limfa) dan kelenjar getah bening berjumlah ribuan, sehingga perlu ribuan gigitan nyamuk yang membawa cacing filaria. Apalagi dalam 5—6 tahun, bibit filaria itu mati sendiri. Karena itulah kasus kaki gajah tidak terlalu banyak atau jarang ditemukan.

Namun, potensi serangan pada manusia kemungkinan tetap ada, tetapi jumlah cacing mikrofilaria dalam darah belum cukup banyak untuk menimbulkan pembengkakan. Pembengkakan terjadi karena pembuluh kelenjar limfa, kelenjar tersumbat oleh cacing mikrofilaria. Akibatnya cairan tidak bisa lewat. Karena melebar, maka sebagian cairannya akan keluar. Yang keluar termasuk protein. Setiap protein yang keluar, akan menimbulkan peradangan. Setiap peradangan selalu menimbulkan fibrosis atau jaringan ikat.

Dengan adanya pembentukan jaringan ikat, ia akan menekan pembuluh limfa lainnya yang belum tersumbat. Akibat penyumbatan, terjadi pelebaran pembuluh limfa, ekstravasasi protein, peradangan, pembentukan jaringan ikat, dan terus berulang. Jadi terjadi lingkaran setan. Kaki akan membengkak terus-menerus. Kadang-kadang cacing-cacing filaria dalam tubuh sudah mati, tetapi kaki pengidap masih bengkak. Itu karena DEZ tidak dibuat untuk mengempiskan pembengkakan.

Jadi sia-sia memberikan DEZ karena tidak mempan menurunkan pembengkakan. Yang harus dilakukan pengidap kaki gajah ialah melakukan diet hewani. Bila pengidap masih terus mengkonsumsi daging, maka pembengkakan terus bertambah. Untuk mengatasi pembengkakan, saya menyarankan mereka menghindari makan daging atau menjadi vegetarian. Dengan demikian pencegahan elephantiasis lebih efektif dari pada mengobati.(Prof Dr dr Hendro Sudjono Yuwono SpBV*)

*) Prof Dr dr Hendro Sudjono Yuwono SpBV, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dan Kepala Divisi Bedah Vaskular Rumahsakit Hasan Sadikin Bandung.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *