Kemasan tepat kunci mempertahankan kualitas buah dalam pengiriman.

Pemilihan dan pengemasan yang baik hasilkan buah unggul sampai tujuan.

Pemilihan dan pengemasan yang baik hasilkan buah unggul sampai tujuan.

Pohon jambu citra berumur 7 tahun di pekarangan Eli Susnaini di Kelurahan Sumberkolak, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, itu berbuah lebat. Setiap hari Eli memetik buah Syzygium samarangense lalu mengemas dengan bobot 1 kg per kemasan. Ia melakukannya lantaran tetangga dan kerabat mengakui keunggulan buah anggota famili Myrtaceae itu.

“Begitu pohon berbuah, tetangga langsung antre memesan,” tutur Eli. Ia membanderol jambu air itu seharga Rp20.000 per kg. Salah satu pembeli menyarankan agar Eli mengikutkan jambu air itu dalam Lomba Buah Unggul Nusantara (LBUN) 2016 yang penilaiannya berlangsung pada 1 Januari—31 Oktober 2016. Gayung bersambut, Eli segera mengumpulkan buah siap petik dan memisahkan 12 buah yang ia anggap terbaik.

Jangan gores
Tanpa menunggu lama, setelah memetik ke-12 buah itu Eli membungkus jambu dengan kertas tisu, memasukkan ke dalam kardus, dan langsung mengirim ke panitia di Sukatani, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. “Saya yakin kepunyaan saya menang, minimal masuk 3 besar,” ungkap Eli. Sayang, keyakinan Eli meleset. Kardus berisi jambu air dari Situbondo itu tiba di meja panitia Lomba Buah Unggul Nusantara, 3 hari berselang.

Pemasar buah eksklusif sekaligus juri Lomba Buah Unggul Nusantara 2016, Tatang Halim.

Pemasar buah eksklusif sekaligus juri Lomba Buah Unggul Nusantara 2016, Tatang Halim.

Kondisi buah jauh dari bagus. Daging buah benyek mengeluarkan cairan dan warna merah kulitnya berubah menjadi cokelat. Permukaan kulit beberapa buah benyek. “Padahal biasanya 4 hari setelah petik saja masih bagus,” kata Eli. Ia menduga, kerusakan itu karena buah saling membentur lantaran tidak dipisahkan satu per satu. Menurut praktikus buah di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Tatang Halim, pengemasan vital mempertahankan kualitas buah sampai tujuan.

Baca juga:  Juara Jambore 2017

Menurut Tatang yang juga juri LBUN 2016, mengirim buah harus memastikan tingkat kematangan buah harus seragam. “Pemilik harus paham kapan buah matang sempurna dan tepat waktu untuk dikonsumsi,” ujar Tatang. Saat memetik, pilih buah yang bagus, tidak pecah, dan bebas bekas serangan hama penyakit. Pascapemetikan, segera bersihkan kulit buah dari pengotor atau hama.

Perlakukan buah secara hati-hati, jangan sampai kulitnya lecet atau luka. Tatang menjelaskan, pada buah jambu luka gores akan langsung terlihat. Sementara pada avokad, “Selang 2—3 hari goresan berubah warna menjadi cokelat,” kata Tatang. Lecet itu menyebabkan buah mudah rusak karena menjadi jalan masuk cendawan masuk ke dalam jaringan buah. Tatang mengatakan, hindari mengemas buah yang baru dipetik.

Sebab, masih terdapat panas lapang atau panas lingkungan ketika petik. Letakkan buah di tempat teduh dan sejuk dengan sirkulasi udara yang baik setidaknya 2 jam untuk menghilangkan panas lapang. Bila memaksa membungkus usai pemetikan, buah cepat rusak atau busuk. Prof Ir Sobir PhD MSi dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor, menyarankan memetik sebelum pukul 9 pagi untuk menghindari panas lapang.

Bungkus terpisah
Prof Sobir yang juga juri LBUN menyarankan pemetikan harus sesuai dengan tingkat kematangan saat sampai tujuan. Untuk itu, perhatikan karakter buah. Ada 2 golongan buah berdasarkan proses pematangannya. Pertama tipe klimaterik, yaitu buah yang pematangannya terus berlanjut pascapemetikan. Contoh buah klimaterik antara lain avokad, pisang, durian nangka, mangga, dan pepaya.

567_ 62“Petik dan kirim buah klimaterik saat kematangan 90—95% agar ketika sampai tujuan kondisinya tepat siap konsumsi,” kata guru besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor itu. Sebaliknya, proses pematangan buah tipe nonklimaterik terhenti ketika dipetik. Contohnya antara lain jeruk, nanas, anggur, dan jambu air. Pemetikan dan pengirimannya mesti tepat ketika buah siap konsumsi.

Baca juga:  Pertolongan Pertama Kucing Muntah

Sebelum mengirim, kemas buah dengan lapisan yang mampu menahan gesekan dan benturan. Contohnya kertas halus atau tisu, lalu lapisi dengan stirofoam jaring—seperti pembungkus apel atau pir—sampai melapisi seluruh permukaan buah. Kemas setiap buah secara terpisah. Pembungkusan bertujuan mencegah benturan antarbuah selama pengiriman. Masukkan buah ke dalam kotak atau kardus yang bagian dasarnya beralas bahan lunak seperti busa atau potongan kertas.

Upayakan agar antarbuah tak bersinggungan.

Upayakan agar antarbuah tak bersinggungan.

Atur buah dalam kotak dan beri sekat menggunakan busa, kertas, karton atau potongan kardus untuk mengurangi kerusakan akibat benturan dengan buah yang berdekatan. Setelah semua buah masuk, pasang lapisan pengunci berupa lembaran busa atau potongan kertas agar posisi buah ajek. Terakhir, tutup kotak kemasan menggunakan perekat atau selotip. Untuk kotak kemasan, Tatang halim menyarankan menggunakan kardus tebal atau stirofoam tebal.

Kemasan yang kuat mampu menahan tekanan dan benturan dari luar atau tumpukan dengan barang lain saat pengiriman. Pemberian lubang pada kotak kemasan dapat dilakukan agar suhu dalam kotak tidak terlalu tinggi. Pilih jasa pengiriman yang terpercaya untuk mengirimkan buah. Hindari menggunakan jasa pengiriman darat yang menggunakan truk lantaran suhu di dalam boks truk tidak stabil, menyebabkan buah cepat rusak. Gunakan jasa pengiriman yang dapat menjaga suhu kemasan. Bila memungkinkan, gunakan jasa kargo udara atau kereta api. (Muhammad Awaluddin)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d