Budidaya sidat melewati tiga fase pembesaran sejak glass eel hingga siap konsumsi.

Budidaya sidat melewati tiga fase pembesaran sejak glass eel hingga siap konsumsi.

Menjaga kualitas air mengurangi kematian sidat dalam fase glass eel dan elver hingga 100%.

Deni Firmansyah mengambil air sungai untuk mengisi akuarium. Ia lantas memasukkan glass eel atau bibit sidat berukuran 0,16—1 gram per ekor. Populasi setiap akuarium berukuran 1 m x 0,5 m x 0,40 m mencapai 200 g glass eel. Namun, bibit sidat itu hanya mampu bertahan 2 hari. Pada hari ke-3 ribuan glass eel itu meregang nyawa. Tingkat kelulusan hidup bibit sidat 0% alias mati semua, meski air sungai kaya oksigen.

Itu pengalaman Deni membesarkan sidat ketika awal berdirinya PT Laju Banyu Sentosa (PT Labas) dua tahun lalu. Deni lantas memperbaiki kualitas air sungai dengan penyaringan tiga tahap. Menurut Deni tahap pertama untuk menyaring sedimentasi. Ia mengalirkan air sungai melalui lamela yang terbuat dari susunan serat kaca bersekat dengan jarak 5 cm. Tujuannya agar arus air tertahan sehingga sedimen akan mengendap di permukaan lamela yang berbentuk kerucut terbalik.

Pemberian daun ketapang untuk menurunkan pH air dan bersifat antibiotik.

Pemberian daun ketapang untuk menurunkan pH air dan bersifat antibiotik.

Plus garam
Lalu air mengalir ke filter ke dua yang menggunakan jaring dan spons. Setelah itu air masuk pada penampungan pertama. Air mengalir ke tahap terakhir penyaringan yaitu filter pasir dan penyinaran ultraviolet. Setelah melewati tiga tahap penyaringan, kualitas air setara air minum. Air itulah yang ia gunakan untuk membesarkan glass eel. Di alam glass eel hidup di muara sungai dengan salinitas 3—6 ppm.

Oleh karena itu Deni menambahkan 3 gram garam per liter air untuk meningkatkan salinitas. Deni mengatakan, 7—14 hari kemudian kadar salinitas diturunkan secara bertahap. Caranya dengan menambahkan air 10% setiap hari sehingga pada hari ke-10 air itu kembali tawar. Glass eel sampai elver menghuni akuarium itu selama 2–3 bulan. Menurut Deni sidat membutuhkan oksigen terlarut tinggi dengan dissolve oxygent (DO) minimal 5 ppm.

Baca juga:  Hasilkan Buah Keju Bermutu

Jika DO kurang dari 5 ppm maka nafsu makan sidat turun. Bahkan jika DO hanya 1–2 ppm sidat akan mengambang ke permukaan air dan mati. Selain oksigen, pH juga harus diperhatikan. Satwa anggota famili Anguillidae itu biasa hidup di air ber-pH 7. Jika kurang dari 7 maka sistem metabolisme tidak bekerja dengan baik dan sidat kehilangan nafsu makan. PT Labas biasa menggunakan daun ketapang untuk menurunkan pH.

Sidat fase elver berukuran 3–5 g di PT Labas.

Sidat fase elver berukuran 3–5 g di PT Labas.

Ia menambahkan 10 daun ketapang kering berwarna cokelat untuk sebuah akuarium berukuran 1 m x 0,5 m x 0,40 m. Selama ini para peternak belum mampu membiakkan sidat. Oleh karena itu mereka memperoleh bibit glass eel dari alam dengan berburu di muara sungai. Deni memperoleh bibit glass eel dari Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Banten, Palu (Sulawesi Tengah), dan Manado (Sulawesi Utara).

Setidaknya Deni menerima 30 kg glass eel setera 180.000 ekor per bulan. Pada umumnya penangkapan bibit sidat di alam dengan cara pancing, lisrik, bahkan racun potasium sehingga dapat mengurangi kualitas bibit. Itulah sebabnya saat dibudidayakan glasss eel sangat rentan kematian. Selain kualitas glass eel yang tidak bagus akibat cara penangkapan, perlakuan di tempat budidaya juga mempengaruhi tingakat kematian sidat.

Budidaya glass eel di akuariuium dengan sistem resirkulasi.

Budidaya glass eel di akuariuium dengan sistem resirkulasi.

Dua pakan
Menurut Dr Agung Budiharjo MSi, dosen di Jurusan Biologi Universitas Sebelas Maret (UNS) pembesaran sidat pada fase glass eel cocok menggunakan akuarium. Sebab, peternak lebih mudah mengontrol kualitas air di kolam kaca itu. “Karena pada masa glass eel tingkat kematian paling tinggi, bisa 70%,” kata doktor Biologi alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Selain kualitas air dan cara penangkapan glass eel, penentu lain keberhasilan budidaya sidat adalah pakan.

Deni biasa memberikan dua jenis pakan, yaitu pakan alami seperti artemia, sejenis udang-udangan dalam bentuk telur dan pakan buatan. “Sebelum artemia diberikan kita tetaskan dulu,” ujar Krisna Bahari, salah satu karyawan PT Labas. Ia menetaskan artemia dengan cara merendam indukan artemia ke dalam air selama 24 jam. Artemia yang menetas dan sehat akan mengapung. Pakan alami itulah yang dimasukkan ke dalam akuarium. Volume pakan mencapai 5 sendok makan telur artemia untuk 1 kg glass eel per hari.

Baca juga:  Cara Tepat Besarkan Sidat

Deni memberikan artemia selama 3 hari setelah glass eel dipindahkan ke akuarium. Setelah itu ia memberi pakan cacing darah atau cacing sutra sebanyak 10–40% dari bobot glass eel per akuarium. Lama pemberian cacing sutra mencapai satu pekan. Setelah itu masa adaptasi Deni memberikan tambahan pakan buatan berupa pelet selama satu pekan. Selanjutnya sidat diberi pakan buatan 100%.

Pakan buatan menggunakan pelet yang disesuaikan dengan ukuran mulut ikan, yaitu 200 mikron untuk glass eel. “Kalau pakan berbentuk pasta cenderung merusak kualitas air. Sebab, peternak mengadopsi sistem resirkulasi pada kolam. Resirkulasi menggunakan filter fisik dan biologi. Filter fisik untuk menyaring kotoran yang lebih kasar. Adapun filter biologi menggunakan bioball yang membantu menjaga kualitas air karena banyak tumbuh bakteri nitrifikasi yang mengurai amonia.

Pakan pelet berukuran 200 mikron untuk glass eel.

Pakan pelet berukuran 200 mikron untuk glass eel.

Bila menggunakan pakan pasta, air cenderung keruh dan mempengaruhi pH. Selain itu pakan yang mengendap meningkatkan kadar amonia sehingga menghambat pertumbuhan sidat. Amonia berasal dari pakan dan kotoran sidat baik feses atau urine bisa menjadi racun. Deni membesarkan glass eel di akuarium selama 60 hari. Itu disebut pendederan pertama. Kini glass eel berubah menjadi elver yang berbobot rata-rata 3—5 gram per ekor.

Adapun pendederan kedua dari elver ke fingerling. Ia menempatkan elver di akuarim berukuran 2 m x 80 cm x 50 cm dengan kepadatan 1—2 kg elver. Satu kilogram elver terdiri atas 100 ekor. Pada tahap pendederan kedua (elver—fingerling) menghasilkan bibit sidat berbobot 50 g atau fingerling. Tahap berikutnya, fingerling meninggalkan akuarium. Deni membesarkan fingerling dalam kolam bulat berdiameter 1,25 meter dan tinggi air 20 cm dengan kepadatan 5–10 kg. Fingerling itu kembali dibesarkan hingga menjadi sidat konsumsi berbobot 250 gram. (Ian Purnama Sari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d