Cara Baru Konsumsi Herbal 1
Herbal tetes dapat diolah dari beragam buah

Herbal tetes dapat diolah dari beragam buah

Cara praktis konsumsi herbal, teteskan di bawah lidah.

Anda yang gemar bepergian kini tak perlu repot mengonsumsi herbal. Cara mudah memperoleh khasiat herbal tanpa perlu mengeringkan atau merebusnya terlebih dahulu. Proses perebusan atau pengeringan jamu biasanya membutuhkan waktu yang lama. Cara mudah itu yakni dengan konsumsi herbal tetes. Ketika kantuk menyerang: teteskan herbal itu di balik lidah, glek.

Rasa pahit dan aroma tak sedap yang kerap melekat pada herbal pun tidak terasa lagi. Aroma dan rasa dari jamu yang tidak sedap kerap menghalangi seseorang untuk memperoleh faedah dari jamu. “Jamu tetes kami tidak berasa dan berbau seperti jamu pada umumnya,” ujar Nala Ginting dari PT Marketing Asia Abadi, produsen herbal tetes.

Nala Ginting, marketing sales PT Marketing Asia Abadi

Nala Ginting, marketing sales PT Marketing Asia Abadi

Antioksidan tinggi
Herbal tetes memang relatif baru muncul di pasaran. Wajar jika herbal tetes masih asing bagi sebagian orang. Selama ini kebanyakan orang mengonsumsi herbal dengan merebus, menyeduh, atau menelan kapsul. Herbal tetes produk olahan berbahan aneka herbal—kadang ada penambahan buah dan sayuran—dan cara konsumsi dengan meneteskan di air minum.

Bahan baku herbal tetes memang beragam. PT Marketing Asia Abadi memanfaatkan 25 jenis buah dan sayuran sebagai bahan baku herbal tetes. “Buah dan sayuran mengandung vitamin dan mineral tinggi,” ujar Nala. Jenis buah dan sayuran itu antara lain avokad, anggur, pisang, apel, melon, belimbing, jeruk, semangka, bengkoang, bayam merah, bayam hijau, wortel, kentang, dan taoge. Selain vitamin dan mineral, buah dan sayuran juga tinggi antioksidan.

Jeruk, misalnya, kadar antioksidan mencapai 2.400 orac, apel (1.400), anggur (1.100), mangga (300), dan pisang (300). Orac alias oxygen radical absorbance capacity merupakan satuan pengukur kapasitas antioksidan. Tingginya antioksidan pada buah sejalan dengan riset Yuyun Wahyuni di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Institut Agama Islam Negeri Walisongo, Semarang.

Baca juga:  Limbah Nanas Suburkan Tanah

Periset itu menguji aktivitas antioksidan buah jeruk siam. Ia menguji secara kualitatif dan kuantitatif. Uji kualitatif untuk mengetahui metabolit sekunder berdasar perubahan warna. Sementara uji kuantitatif mengukur aktivitas antioksidan dengan metode DDPH (2,2-diphenyl-1-pichrylhidrazyl). DPPH merupakan radikal bebas yang stabil pada suhu kamar dan sering digunakan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan beberapa senyawa. Hasilnya, jeruk siam memiliki aktivitas antioksidan 63,3%. Sementara metabolit sekunder pada jeruk flavonoid, terpenoid, dan vitamin C.

Beragam produk herbal tetes di pasaran

Beragam produk herbal tetes di pasaran

Antioksidan di dalam tubuh berperan melindungi sel dari efek berbahaya radikal bebas yang memicu berbagai penyakit. Sebab, radikal bebas sangat reaktif dan mampu bereaksi dengan protein, lipid, karbohidrat, atau deoxyribose nucleic acid (DNA). Reaksi antara radikal bebas dan biomolekul itu menyebabkan struktur molekul berubah dan menyebabkan stres oksidatif sel. Akibatnya, terbentuklah suatu penyakit.

“Antioksidan tinggi mampu menghalau oksidasi radikal bebas di dalam tubuh,” tutur Yusuf Priyanto SSi, farmakolog di Kota Depok, Jawa Barat. Berbagai penyakit yang diduga kuat berkaitan dengan aktivitas radikal bebas antara lain stroke, asma, diabetes mellitus, radang usus, penyumbatan kronis pembuluh darah di jantung, dan parkinson.

Herbal
Selain memanfaatkan buah dan sayuran sebagai bahan baku, herbal tetes juga bisa diolah dari beragam herbal. Seperti yang dilakukan PT Unimax Power. Ia memanfaatkan rimpang temulawak, pandan wangi, daun sirsak, jintan hitam, dan daun salam. Temulawak salah satu herbal dominan dalam herbal tetes.

Curcuma xanthorrhiza itu berkhasiat sebagai hepatoprotektor, antikanker, antiinflamasi, dan antibakteri. “Herbal yang digunakan berupa simplisia yang diperoleh dari dalam negeri,” ujar Hartono Hakim, bagian pemasaran PT Unimax Power. Susi Isnawati SSi Apt, ahli farmasi dari PT Unimax Power menjelaskan, zat aktif dalam bahan akan “tertarik” selama proses fermentasi sehingga larut dalam cairan.

Baca juga:  Jawara di Kontes Terbesar

Selain itu, “Dalam proses fermentasi akan terbentuk alkohol yang bersifat antiseptik,” ujarnya. Proses fermentasi dalam pembuatan herbal tetes membutuhkan waktu 6—12 bulan (baca: Khasiat Kian Kuat halaman 84—85). Meski fermentasi dalam jangka waktu lama, herbal tetes berbahan baku buah dan sayuran tidak berasa dan berbau. Selain itu, herbal tetes juga aman dikonsumsi bermacam usia, mulai dari balita hingga dewasa.

Selain buah dan sayuran, herbal tetes bisa juga terbuat dari tanaman obat seperti temulawak yang bersifat antiinflamasi

Selain buah dan sayuran, herbal tetes bisa juga terbuat dari tanaman obat seperti temulawak yang bersifat antiinflamasi

Bentuk herbal tetes berupa cairan konsentrat. Menurut Nala tubuh lebih mudah menyerap herbal dalam bentuk tetes. Karena berupa konsentrat, pemberiannya cukup beberapa tetes. Berbeda dengan cara konsumsi herbal yang biasanya takaran dosisnya lebih banyak. Cara konsumsi jamu tetes cukup mudah. Hanya dengan meneteskan jamu ke lidah. Pemberian 3 tetes, sehari tiga kali.

Agar lebih cepat proses penyerapannya di dalam tubuh, Susi menyarankan meneteskan jamu tetes di bawah lidah. Dengan cara itu, “Jamu tetes langsung masuk ke peredaran darah,” ujarnya. Cara lain menikmati jamu tetes dengan mencampurkannya ke air minum. Atau, mencampurkannya ke minuman seperti kopi atau teh. Syaratnya, minuman tidak panas. Itu karena minuman panas dapat merusak fermentasi sehingga khasiat berkurang.

PT Unimax Power memproduksi jamu tetes sejak 5 tahun silam. “Permintaan jamu tetes meningkat 20% setiap tahun,” ujar Hartono. PT Marketing Asia Abadi yang memproduksi herbal tetes sejak 2009 menghasilkan 20.000 botol per bulan. Karena terbuat dari campuran buah dan sayuran yang banyak, PT Marketing Asia Abadi memperoleh penghargaan dari museum rekor Indonesia (MURI) pada Januari 2013. (Desi Sayyidati Rahimah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *