Cara Atasi Penyakit Trotol Pada Bawang Merah 1

Memilih varietas bawang merah yang toleran dan menggunakan pestisida kunci mengendalikan penyakit trotol/ lodoh.

Muhammad Yusuf masygul. Petani bawang merah di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu menatap 1,5 hektare tanaman bawang merahnya pada Agustus 2016. “Cuaca musim tanam tahun ini kurang bersahabat. Sedikit-sedikit gerimis, lalu panas lagi. Akibatnya sekitar 40% tanaman bawang merah saya terkena penyakit lodoh,” ujar Yusuf.

Pencegahan terhadap penyakit trotol merupakan langkah tepat dibanding dengan penyemprotan fusingisida.
Pencegahan terhadap penyakit trotol merupakan langkah tepat dibanding dengan penyemprotan fusingisida.

Ketika panen pada September 2016, Yusuf hanya memanen 4 ton umbi bawang merah per hektare. Padahal, pada produktivitas rata-rata bawang merah nasional mencapai 10 tin per hektare. Yusuf menjual hasil panen dengan harga Rp19.000—Rp20.000 per kg. Dengan harga jual itu anak ke-3 dari 5 bersaudara itu merugi hingga Rp20-juta. “Kerugian itu akibat serangan penyakit lodoh,” ujarnya.

Cegah trotol

Menurut peneliti bawang merah dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Dr Joko Pinilih, penyakit trotol atau lodoh disebabkan serangan cendawan Alternaria porri. ”Penyakit trotol bisa merugikan petani bawang merah hingga 90%,” ujar Joko.

Gejala penyakit trotol bermula dari titik-titik atau bercak-bercak keunguan pada daun. Bercak itu kemudian melebar membentuk cekungan.

Tanaman yang terserang penyakit itu gagal membentuk umbi sehingga petani gagal panen seperti pengalaman Muhammad Yusuf.

Joko menuturkan penyakit trotol kerap menyerang tanaman bawang merah saat fase pembentukan umbi. Namun, saat musim hujan tanaman muda berumur 10 hari pun terserang pula. Penularan penyakit trotol melalui spora yang terbawa angin.

“Ketika cuaca pagi panas, spora mengering. Saat siang, dengan perantara angin spora itu tersebar ke tanaman-tanaman lain sehingga terjadi penularan,” tutur Joko. Menurut Joko jika tanaman sudah terserang trotol sangat sulit disembuhkan.

Oleh sebab itu satu-satunya cara yang efektif untuk mengontrol penyakit itu dengan pencegahan antara lain menggunakan varietas bawang merah yang toleran terhadap serangan penyakit mematikan itu.

Baca juga:  Usir Ulat Grayak
Penyakit trotol bisa merugikan petani hingga 90%.
Penyakit trotol bisa merugikan petani hingga 90%.

Sayangnya, ”Hingga saat ini belum ada varietas bawang merah yang tahan terhadap trotol. Yang ada baru toleran, tetapi sudah bisa menekan kerugian petani hingga 30% dibanding dengan penggunaan varietas yang tidak toleran,” ujar ahli genetika dan pemuliaan tanaman itu.

Contoh varietas bawang merah yang toleran terhadap penyakit lodoh di antaranya bali karet, batu ijo, dan sembrani.

Menurut Joko penggunaan pestisida juga dapat membantu menekan kerugian petani akibat serangan penyakit trotol. Contohnya seperti yang Yusuf alami. Dengan menggunakan fungisida, hasil panen tetap menguntungkan meski jumlah panen tidak setinggi musim sebelumnya.

”Ada petani yang hanya panen 2 ton per hektare,” ujarnya. Dengan jumlah panen itu pekebun hanya bisa menutup biaya benih. Biaya produksi lain seperti pupuk, pestisida, dan pengolahan lahan tidak tertutupi.

Pestisida

Untuk menekan serangan penyakit lodoh, Yusuf menyemprotkan pestisida berbahan aktif mankozeb. ”Setelah saya melihat gejala penyakit itu, keesokan harinya langsung saya semprot dengan dosis dua kali lipat,” tutur petani bawang merah sejak 2006 itu.

Menurut Puguh Wahyoedi dari PT Royal Agro Indonesia, untuk mencegah dan mengendalikan penyakit trotol sebaiknya menggunakan 2 jenis fungisida sekaligus.

Muhammad Yusuf (lengan panjang bertopi), petani bawang merah di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Muhammad Yusuf (lengan panjang bertopi), petani bawang merah di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Malang, Jawa Timur.

Muhammad Yusuf (lengan panjang bertopi), petani bawang merah di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Puguh mengatakan kedua jenis fungisida itu—kontak dan sistemik—membuat upaya pengendalian penyakit lebih efektif. Untuk fungisida sistemik, gunakan fungisida berbahan aktif azoxystrobin, tebukonazol, propikonazol, dan prokloraz. Sementara untuk fungisida kontak gunakan fungisida berbahan aktif kaptan.

Menurut Puguh penyemprotan kedua fungisida itu sejak tanaman berumur 2 pekan pascatanam. Interval penyemprotan disesuaikan dengan kondisi cuaca. Jika curah hujan tinggi, interval penyemprotan ditingkatkan dari semula 5—7 hari sekali menjadi 3 hari sekali.

Baca juga:  Pasar Besar Gula Semut: Amerika, Australia, Eropa

“Dengan melakukan pencegahan, serangan trotol bisa ditekan hingga 80%,” ujar Puguh. Oleh sebab itu upaya pencegahan merupakan aspek penting untuk mengendalikan penyakit trotol. Puguh menuturkan pemberian pupuk juga harus diperhatikan.

“Jika pemberian pupuk berkadar nitrogen (N) terlalu tinggi bisa membuat tanaman lebih rentan terhadap serangan cendawan,” ujarnya. Cara lain buat sistem pengairan atau drainase yang baik dengan ciri tidak ada genangan air di lahan.

Penggunaan bakteri antagonis juga bisa menekan serangan penyakit trotol. Hal itu berdasarkan riset Ulfatun Nasiroh dan rekan dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Surabaya.

Ulfatun dan rekan menggunakan bakteri Serratia marcescens yang mampu memproduksi enzim kitinolitik yang bersifat anticendawan. Ia melakukan uji coba secara in vitro dengan menumbuhkan cendawan Alternari porri dalam satu cawan petri.

Hasilnya, bakteri Serratia marcescens berkonsentrasi 5,6 x 10² cfu/ml hingga 5,6 x 108 cfu/ml mampu menghambat pertumbuhan Alternari porri secara in vitro hingga 57—71%.

Penyakit Trotol
Penyakit Trotol

Hal itu terjadi karena timbul interaksi antara Serratia marcescens dengan cendawan Alternari porri. Bakteri baik itu memiliki enzim kitinase yang dapat merusak dinding sel cendawan sehingga pertumbuhan dan perkembangan cendawan Alternari porri terhambat.

Menurut Ulfatun agen hayati seperti bakteri Serratia marcescens dapat diaplikasikan di lapangan untuk membantu mengatasi lodoh.

Pengaplikasian suatu agen hayati di lahan akan lebih efektif dan efisien bila hasil pengujian agen hayati dan patogen di laboratorium atau in vitro dapat menghambat lebih dari atau sama dengan 50% pertumbuhan cendawan A. porri.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *