Cara Agar Petani Kopi Kian Makmur

Cara Agar Petani Kopi Kian Makmur 1

Mendidik dan memandirikan pekebun kopi di berbagai sentra.

Petani kopi di Kabupaten Pegununganbintang, Provinsi Papua, Nico Bukega, semringah. Pasalnya, harga kopi hasil panen di kebunnya meningkat. Peningkatan harga itu akibat pengolahan pascapanen yang baik. “Semula harga jual per kilogram biji kopi kering kupas non sangrai (green bean) Rp40.000 per kilogram. Kini menjadi Rp60.000 di tingkat pekebun,” kata Nico yang mengelola lahan kopi arabika seluas 25 hektare.

Ia memperoleh informasi pengolahan pascapanen kopi melalui tukar pendapat dengan Wikikopi pada 2015. Menurut Nico pemanenan tepat menyebabkan tanaman sehat. Efeknya jumlah panen tahun berikutnya meningkat. “Sebelum memperoleh informasi dari Wikikopi, hasil panen rata-rata hanya 3,5 ton green bean per hektare. Setelah melakukan anjuran, panen naik menjadi 4 ton per ha,” kata Nico. Peningkatan harga hingga 150% dan peningkatan hasil panen hingga 500 kg itu sangat menguntungkan.

Edukasi
Penggagas Wikikopi, Tauhid Aminullah, menyatakan Wikikopi adalah perusahaan yang memfokuskan kepada pendidikan. “Kebanyakan orang menilai pendidikan sebagai investasi. Orang yang sekolah tinggi tapi tidak kaya dianggap gagal. Sementara itu yang tidak sekolah tapi bisa kaya dianggap hebat,” kata Tauhid. Akibatnya lapangan pekerjaan seolah terbagi menjadi kasta-kasta. Bidang dengan gaji besar, yang memiliki tingkat pengembalian modal (rate of investment, ROI) cepat, dianggap berkasta tinggi.

Panen hanya buah kopi berkulit merah, tingkatkan kualitas kopi.

Panen hanya buah kopi berkulit merah, tingkatkan kualitas kopi.

Sebaliknya, pekerjaan yang identik dengan kemelaratan masuk kasta rendah. Salah satu yang termasuk kasta rendah adalah bidang pertanian. Pria asal Sleman, Yogyakarta itu menambahkan, pendidikan bertujuan meningkatkan kualitas manusia dan mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan ke pekerjaannya dengan baik. Itu sebabnya, “Acuan keberhasilan pendidikan pertanian adalah mencetak petani yang mampu mengaplikasikan ilmu pertanian dengan baik,” kata pria 37 tahun itu.

Produksi kopi di kampung halaman Nico sempat mandek. Seingat Nico, kopi ditanam di daerahnya pada dekade 1960 oleh misionaris dari berbagai negara. Sayang, setelah para misionaris kembali ke negara asal, tidak ada yang melanjutkan merawat kopi sehingga mutunya anjlok. “Pohon tumbuh ngelancir setinggi belasan meter dan kualitas buah turun,” katanya. Setelah para penyuluh Wikikopi hadir di Pegununganbintang pada 2015, Nico dan para pemilik pohon kopi baru menyadari potensi yang tersimpan di pekarangan mereka.

Baca juga:  Kopi dan Parkinson

Para pemilik kebun kopi di kabupaten berketinggian 400—4.000 meter di atas permukaan laut itu kembali terpacu merawat tanaman kopi mereka. Edukasi lain dari Wikikopi adalah teknik pemanenan dan pengeringan pascapanen. Biasanya untuk meringkas pekerjaan mereka memanen serentak tanpa memandang tingkat kematangan buah. Cara itu praktis karena pekebun hanya perlu ke kebun sekali, semua buah terpanen.

Penggagas Wikikopi, Tauhid Aminullah (berkacamata).

Penggagas Wikikopi, Tauhid Aminullah (berkacamata).

“Sekarang kami memanen hanya buah yang sudah merah dan menjaga kadar air green bean di kisaran 10—11%,” kata Nico. Setelah tanaman kopi kembali berproduksi, Wikikopi membantu penjualannya. “Mereka rutin memesan 50 kg per 2 bulan,” kata Nico. Penjualan langsung kepada pembeli itu mempersingkat rantai tataniaga kopi. Bukan hanya Nico yang merasakan manfaat atas kehadiran Wikikopi.

Dua arah
Nun di Kabupaten Benermeriah, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, petani sekaligus pemasok kopi, Hermansyah, pun merasakan hal serupa. Ia mengaku terbantu dalam hal pemasaran. “Meski tidak rutin, setiap bulan selalu ada permintaan dari Wikikopi minimal 10 kg,” kata pemasok kopi yang berasal dari kebun sendiri itu. Menurut Hermansyah, kelebihan lain Wikikopi adalah sangat terbuka untuk bertukar informasi.

“Informasi yang diperoleh bisa diadopsi petani dan menjadi bekal meningkatkan kualitas kopi,” kata pemasok kopi ke berbagai kafe atau kedai kopi di berbagai kota besar di tanahair sejak 2013 itu. Wikikopi memilih kopi karena meningkatkan kualitas komoditas itu relatif mudah. “Dari semula tidak laku sampai menjadi kopi kelas premium dengan nilai cupping tinggi bisa dicapai dalam waktu relatif cepat,” kata Tauhid.

Pelatihan cupping kerap diselenggarakan untuk edukasi.

Pelatihan cupping kerap diselenggarakan untuk edukasi.

Mereka tidak hanya mengajarkan cara budidaya yang benar di lahan. Dalam segi pemasaran, Tauhid dan rekan-rekannya menawarkan beberapa konsep yang bisa diadopsi petani. Di antaranya konsep rantai berlantasan atau infinity chain dan niaga lantas atau direct trade. Kedua konsep itu bertujuan memperbaiki konsep perniagaan kopi konvensional. Lazimnya tataniaga kopi konvensional hanya satu arah. “Arus yang bergerak hanya arus barang dan arus uang atau pembayaran,” katanya.

Baca juga:  Cara Membuat Pupuk Cair Aquascape dari Ampas Kopi dan Tips

Arus itu menjauhkan produsen dan konsumen, hanya menguntungkan pedagang. Adapun yang membedakan dengan sistem infinity chain adalah adanya nilai-nilai dalam sistem perdagangannya. “Pelaku tata niaga usaha harus mampu mempertahankan nilai produsen agar terapresiasi oleh konsumen,” kata Tauhid. Pria yang juga bergerak di bidang hubungan masyarakat itu menyatakan bahwa konsep infinity chain bersifat dua arah. Produsen dan konsumen menjadi bisa saling mengapresisasi.

“Saling apresiasi itu membentuk arus nilai yang sinambung,” katanya. Untuk menghubungkan antara konsumen dan produsen tentu memerlukan nilai tambah. “Nilai tambah yang dihasilkan murni hasil apresiasi, bukan sekadar nilai tambah yang diciptakan pedagang sebagai iming-iming penjualan produk,” kata Tauhid. Wikikopi berinteraksi dengan petani kopi melalui beberapa tahapan. Tahapan pertama sekadar mengoptimalkan kualitas kopi contohnya paham petik, jemur dengan baik, dan pemangkasan.

Tahapan kedua mengenai kemandirian. Mandiri pangan, mandiri pupuk, dan mandiri benih. “Kami mengajak pekebun menanam sendiri makanan sehari-hari mereka,” kata Tauhid. Selain itu juga mengajak menggunakan pupuk dan benih mandiri, sehingga tidak bergantung kepada industri pupuk dan benih. Meski fokus kepada edukasi, Wikikopi tidak menarik biaya untuk ilmu yang mereka sebarkan. Menurut Tauhid, perusahaannya menangguk laba dari kerja sama dan penjualan ide.

“Contohnya membantu pengelolaan kedai kopi sehingga Wikikopi memperoleh pembagian keuntungan,” kata Tauhid. Pemasukan lain berasal dari seminar atau pameran di mana mereka menjadi pengisi acara. Dengan cara itu, Tauhid berhasil membangkitkan kembali budidaya kopi di berbagai daerah. Nico alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (Stiper) Santo Thomas Aquinas, Jayapura itu dan Hermansyah membuktikannya.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x