Serangan hama ulat grayak pada bawang merah menjadi salah satu penyebab utama kegagalan panen.

Serangan hama ulat grayak pada bawang merah menjadi salah satu penyebab utama kegagalan panen.

Penjebak hama ulat grayak bertenaga surya efektif mengendalikan hama.

Tanaman bawang merah di lahan 1 hektare itu luluh-lantak akibat serangan larva Spodoptera litura. Ulat tentara itu menyerang sangat cepat, separuh tanaman hancur dalam semalam. Petani bawang merah di Desa Canden, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Giyanto, nyaris putus asa. Produksi menyusut tajam hingga setengahnya. Produksi bawang merah rata-rata 14 ton per hektare.

Dengan harga di tingkat petani Rp15.000 per kg, maka kerugian Giyanto mencapai Rp105-juta. Serangan hama ulat grayak itu akibat Giyanto terlambat mengantisipasi serangan hama. Saat itu pada 2014 ia dan petani di daerahnya hanya bergerak memberantas hama ketika terlihat tanda-tanda serangan pada daun. “Cara penanganan semacam itu tidak ada gunanya karena itu berarti sebenarnya telur ulat berada di daun sejak lama,” kata Giyanto.

Lebih praktis
Berdasar pengalaman itu, maka Giyanto sadar bahwa langkah paling jitu adalah pencegahan. Ayah 3 anak itu memanfaatkan perangkap hama pada malam hari. Ulat grayak hama nokturnal yang aktif mencari pakan pada malam hari. Ketika siang hama itu bersembunyi di balik tanah. Giyanto menggunakan perangkap bertenaga surya untuk menekan biaya produksi. Jika memanfaatkan listrik PLN, “Kami khawatir biaya listrik yang besar membebani petani,” ujarnya.

Keberhasilan light trap tenaga surya pada bawang merah di Bantul membuat petani juga memasang pada lahan cabai.

Keberhasilan light trap tenaga surya pada bawang merah di Bantul membuat petani juga memasang pada lahan cabai.

Alat itu canggih karena dilengkapi sensor cahaya sehingga lampu menyala secara otomatis saat malam dan mati ketika siang. Lampu akan menyala pada pukul 18.00 dan otomatis padam pada pukul 06.00 saat matahari terbit. Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kabupaten Bantul, Ir. Pulung Haryadi, M.Sc., mengatakan bahwa alat itu sebagai mencegah ngengat grayak hinggap di daun bawang dan bertelur.

“Pemasangan alat bertenaga surya itu intinya adalah mencegah penyebaran dan menekan populasi hama lewat telur ngengat,” ujar Pulung. Ia mengatakan, seekor ngengat menghasilkan 300 telur. Bahkan, hingga 1.000 telur. Itulah sebabnya populasi cepat berkembang. Alat perangkap hama itu amat praktis. Petani tidak perlu mengulur kabel dari sumber listrik PLN karena tergantikan oleh penyimpan energi matahari.

Baca juga:  Tunggal Jadi Mahal

Komponen alat itu sederhana, yaitu pembangkit dan alat penyimpan daya, lampu, dan perangkap berupa baskom berisi air. Giyanto mengungkapkan, untuk satu hektare lahan membutuhkan 6 unit penjebak hama atau light trap. Alat itu bentuknya kompak, sehingga petani mudah memibawa dan memindahkan ke berbagai tempat. Tinggi besi penopang hanya 150 cm. Bagian tiang yang tertanam dalam tanah sekitar 30 cm.

Perangkap hama buatan Balitsa menggunakan bahan yang murah, tetapi efektivitasnya tetap tinggi.

Perangkap hama buatan Balitsa menggunakan bahan yang murah, tetapi efektivitasnya tetap tinggi.

Itu adalah ketinggian ideal untuk menangkap ngengat grayak. Lampu pada peranti itu lampu TL atau lampu neon putih berdaya 8—10 watt. “Tingkat kecerahannya pas untuk menarik serangga berdatangan,” ujar Giyanto. Menurut lelaki berusia 46 tahun itu efektivitas penjebak hama cukup baik, hasil tangkapan serangga yang banyak dan beragam jenisnya. Ia biasa mengecek baskom berisi air bercampur detergen 2 hari sekali. Rata-rata 30 serangga mati di permukaan air.

Mudah dirakit
Pulung mengatakan, dengan alat itu petani di Bantul menikmati peningkatan produksi bawang merah. Laporan dari petani membuktikan bahwa pemanfaatkan alat itu ternyata mengurangi penggunaan pestisida hingga 50 persen. Syaratnya, petani harus menggunakan alat itu sejak awal tanam hingga panen. Keberhasilan pemakaian di lahan bawang merah membuat banyak petani di Jetis, Bantul, memasang alat itu di tengah lahan cabai.

Cabai juga tanaman inang ulat grayak. Menurut Pulung dengan alat itu tanaman cabai terhindar dari serangan ulat. “Sekarang harga cabai sangat mahal, sehingga alat ini bisa menjaga tanaman tetap berproduksi Kondisi itu andal dan sudah teruji pada lahan bawang merah, cabai, dan padi. Efektivitasnya memang belum 100%, tetapi pengurangan biaya pestisida hingga 50% bagi petani sudah sangat membantu dalam proses budidaya,” ujar Pulung.

Baca juga:  Elok Luar Dalam

Ahli hama dan penyakit sayuran di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Ir. Tony Koestoni Moekasan, juga mengembangkan teknologi penjebak serangga bersumber daya tenaga surya. Ia merangkai alat itu menggunakan bahan sederhana, harga terjangkau, dan memiliki kemampuan jebak yang andal. “Tujuannya utamanya memang untuk membantu petani yang ingin merakit sendiri dengan material yang murah dan mudah didapat,” ujarnya.

Ahli hama dan penyakit sayuran di Balai  Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Ir. Tony Koestoni Moekasan,

Ahli hama dan penyakit sayuran di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Ir. Tony Koestoni Moekasan,

Toni mengatakan, alatnya masih berbentuk purwarupa, dan mengalami pengujian di lahan milik petani yang bekerja sama dengan Balitsa di Bandung. Tony memanfaatkan bank daya atau power bank untuk telepon seluler biasa. Dengan penambahan alat berupa baterai penyimpan daya listrik dan sensor cahaya maka alat akan bekerja selama 11—12 jam secara otomatis. Itu berarti tidak kalah dengan produk serupa pabrikan yang harganya cukup mahal.

Penopang alat dan baskom jebak cukup dari bambu yang sangat murah dan bakal mudah diperoleh petani. Inovasi produk Balitsa adalah penggunaan lampu ultraviolet berdaya 10 watt sebagai sumber cahayanya. “Banyak penelitian di dalam dan luar negeri yang membuktikan bahwa serangga lebih tertarik pada gelombang cahaya ungu,” ujar Tony. Hasilnya tidak mengecewakan, pada 1 minggu ujicoba, hasil tangkapan yang awalnya jumlahnya 50 serangga, menurun hingga pada kisaran belasan ekor saja per malam.

Menurut Tony besarnya cahaya mempengaruhi banyaknya hama yang terjebak. Makin tinggi cahaya makin besar hasil jebakan. “Sebagai gambaran, hasil tangkapan hama pada solar cell dengan cahaya setara 20 watt lebih rendah dibanding dengan hasil tangkapan lampu perangkap elektrik 100—160 watt,” kata Tony. Namun, petani yang memakai lampu berdaya rendah dapat menyiasati dengan pengaturan jumlah alat jebak dan pengaturanl lokasi pemasangan.

Pemanfaatan lampu tenaga surya di lahan bawang merah atau cabai itu sangat berfaedah. Petani dapat memanfaatkan hama yang tertangkap lampu untuk memantau hama sejak dini. Misalnya petani mampu mengetahui hama imigran yang datang, menentukan nilai ambang ekonomi, dan potensi keparahan serangan.

“Bila pada lampu perangkap tertangkap lebih dari 50 ekor per malam, harus segera diadakan pengendalian dengan insektisida,” kata Toni. Itu sesuai patokan pengendalian hama terbaru. Petani harus segera mengendalikan hama pada 4 hari setelah ngengat terperangkap baik itu saat vegetatif maupun saat generatif. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d