Cabai Tanpa Pucuk Kuning 1
Laba produksi tinggi dan bebas pucuk kuning

Laba produksi tinggi dan bebas pucuk kuning

Cabai unggul produksi tinggi dan bebas pucuk kuning

Produktivas cabai keriting di lahan Mislan amat tinggi, hingga 1—1,2 kg per tanaman. Lazimnya produktivitas cabai keriting berkisar 0,8 kg. Itu sebabnya pekebun cabai di Pematangbandar, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, itu girang bukan main ketika panen hingga 3.000 kg dari 2.500 tanaman. Petani berumur 51 tahun itu menanam cabai dan padi di lahan 1 ha.

Mislan menanam Capsicum annuum berbarengan dengan padi. Ia membibitkan cabai selama 25 hari dan memindahkannya ke lahan berjarak 50—60 cm. Saat umur tanaman mencapai 80 hari, ia memanen buah tanaman anggota keluarga Solanaceae itu. Ia memanen dua kali dalam sepekan. “Panen bisa hingga 12 kali,” ujarnya. Selain produksi tinggi, kualitas cabai juga lebih baik, mulus dan berwarna merah mengilap.

Pucuk kuning
Selain itu, “Cabai bebas pucuk kuning,” ujar Mislan. Kesuksesan Mislan memanen cabai dengan produksi tinggi dan kualitas buah yang baik itu lantaran menggunakan benih cabai laba produksi PT East West Seed Indonesia, produsen benih di Purwakarta, Jawa Barat. Menurut Rizza Fariz Syaukany, spesialis cabai PT East West Seed Indonesia (PT EWSI), produktivitas laba memang tinggi, mencapai 1,2 kg per tanaman.

Sosok cabai tergolong bongsor. Sekilogram berisi 200 buah atau 5 gram per buah. Selain itu, “Laba tahan layu bakteri dan bebas ujung buah kuning,” ujar Rizza. Soal pucuk kuning, memang menjadi tantangan tersendiri bagi Mislan. Meski tidak menurunkan harga jual, keberadaannya menurunkan kualitas cabai. Buah yang terkena pucuk kuning warna merah pada buah tidak sempurna.

Pucuk kuning menyerang 30% dari total panen. Menurut Dr Ir Suwardi MAgr di Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Institut Pertanian Bogor, ujung buah cabai yang menguning kemungkinan akibat defisiensi kalsium (Ca). Tanaman cabai saat pertumbuhan generatif membutuhkan hara yang berimbang.

“Cabai laba berwarna merah mengilap saat tua dan berwarna hijau tua ketika masih muda.”

“Cabai laba berwarna merah mengilap saat tua dan berwarna hijau tua ketika masih muda.”

“Jika kekurangan kalsium pembentukan buah menjadi tidak sempurna,” ujar Suwardi. Untuk mengatasi kekurangan kalsium, Suwardi menyarankan menambahkan kapur 1 ton per hektar. Alumnus Tokyo University of Agriculture, Jepang, itu menjelaskan, daerah Simalungun, Sumatera Utara, rata-rata bersedimen masam. Akibatnya pH tanahnya rendah. Oleh sebab itu sebaiknya petani perlu menambahan kapur untuk meningkatkan pH tanah.

Baca juga:  Festival Cabai

Riset 2009
Karena produksi yang tinggi dan kualitas cabai yang dihasilkan prima, laba menjadi favorit petani cabai di Pematangbandar. Meski belum dilepas, hasil uji multilokasi di beberapa sentra yang tersebar di Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Lampung, dan Bengkulu menunjukkan hasil memuaskan. Varietas yang telah diriset sejak 2009 itu rencananya dilepas pada 2015.

Sosok tanaman laba tanpa cabang merunduk. “Buahnya berwarna merah mengilap saat tua dan berwarna hijau tua ketika masih muda,” ujar Rizza. Laba tumbuh dengan baik di daerah berketinggian 0—1000 meter di atas permukaan laut (dpl). Penanaman di dataran rendah dapat dipanen pada umur 75—80 hari. Itu seperti yang Mislan lakukan, memanen laba saat umur 80 hari. Sementara panen di dataran tinggi lebih lama, 100 hari.

Saat pertumbuhan generatif cabai membutuhkan hara seimbang.

Saat pertumbuhan generatif cabai membutuhkan hara seimbang.

Budidaya sayuran seperti cabai tergolong kompleks. Selain pemupukan teratur, aplikasi pestisida kerap dilakukan untuk mengatasi hama dan penyakit. Seperti pengalaman Mislan, memberikan pupuk dasar 50 kg NPK 16:16 dan 2,5 ton kompos. Takaran itu untuk mencukupi 3.000 tanaman. Setelah itu pemberian pupuk kocor 5 kg per 200 liter air. Konsentrasi pupuk bertambah di setiap minggunya.

Sementara untuk mengatasi serangan hama yang muncul seperti ulat, ia menyemprotkan pestisida berbahan aktif abamectin. Konsentrasi yang ia berikan sesuai label kemasan. Dari beragam perawatan itu, biaya produksi yang Mislan keluarkan mencapai Rp5.000 per batang. Sementara harga jual cabai Rp7.000 per kilogram. Mislan masih dapat menikmati manisnya laba dari menanam laba.

Aldo
Cabai produksi tinggi juga dikeluarkan PT Benih Citra Asia (BCA), produsen benih di Jember, Jawa Timur. PT BCA menyematkan nama aldo untuk benih cabai keriting yang berproduktivitas rata-rata 1 kg per tanaman itu. Produktivitas rata-rata cabai keriting 0,8 kg per tanaman. Keunggulannya, “Tahan virus gemini, layu bakteri, dan bebas ujung kuning,” kata Syahri Pane, bagian riset dan pemasaran PT BCA.

Tambahkan kapur untuk mengatasi defisiensi kalsium.

Tambahkan kapur untuk mengatasi defisiensi kalsium.

Sosok tanamannya semitegak dengan ruas pendek. Petani lebih menyukai sosok tanaman cabai itu, karena dari setiap ruas yang pendek itu akan muncul buah. Produksi buah tinggi. Sosok buahnya relatif besar, diameter 0,8—1 cm, warna buahnya merah tua. Pane menjelaskan, sentra penanaman cabai aldo di Sumatera, terutama di Lampung, Palembang, Aceh, dan Bengkulu. “Petani cabai di Sumatera menyukai sosok buah yang besar,” ujarnya.

Baca juga:  Wisnu Gardjito: Pejuang Industri Kelapa

Sementara cabai dengan sosok kecil (diameter 0,6—0,7 cm) lebih diminati petani cabai di Jawa. Di daerah berketinggian 0—1500 m dpl aldo mampu tumbuh dengan baik. Laba dan aldo kini menjadi harapan para pekebun di berbagai sentra untuk meraup untung. (Desi Sayyidati Rahimah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments