Cabai rawit prima, termasuk jenis paling pedas, kandungan kapsaisin mencapai 980 ppm.

Cabai rawit prima, termasuk jenis paling pedas, kandungan kapsaisin mencapai 980 ppm.

Dua varieas cabai rawit baru, produktif dan superpedas: prima agrihorti dan rabani agrihorti.

Keringat mengucur dari dahi para pengunjung kedai tahu sumedang Mang Ole di Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Rupanya mereka kepedasan saat menyantap tahu sumedang yang disajikan berasama cabai rawit. “Konsumsi tahu sumedang tidak mantap rasanya jika tidak dibarengi cabai,” kata Ade Solehudin, pemilik kedai tahu sumedang Mang Ole.

Apalagi cabai rawit yang disantap adalah varietas prima agrihorti hasil produksi kebun milik Balitsa. Itu adalah varietas cabai rawit baru yang dirilis Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) pada 2015. Ade menyukai cabai rawit anyar itu karena tingkat kepedasannya yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian Balitsa prima agrihorti mengandung 980 ppm kapsaisin.

Cabai rawit prima agrihorti, varietas anyar dari Balitsa dilepas pada 2015.

Cabai rawit prima agrihorti, varietas anyar dari Balitsa dilepas pada 2015.

Hasil seleksi
Tingkat kepedasan prima agrihorti mengalahkan varietas cabai rawit lain di Indonesia yang lebih dulu dikenal sangat pedas, yaitu cabai rawit hiyung yang tingkat kepedasannya hanya 802 ppm. “Dengan rasa pedas yang tinggi, membuat para pengunjung melahap tahu lebih banyak untuk mengimbangi rasa pedas cabai rawit,” tutur Ade. Varietas prima agrihorti temuan para periset Balitsa, yakni Ir Yenny Kusandriani, Dr Liferdi Lukman SP MSi, dan Drs Luthfy.

Varietas itu merupakan hasil seleksi dari populasi berkode R-29 yang seluruhnya berasal dari dalam negeri. Dari populasi itu terpilihlah prima agrihorti karena memiliki berbagai keunggulan antara lain produktivitasnya tinggi. Dari setiap tanaman mampu menghasilkan 471—881 buah cabai rawit. Ciri khas prima agrihorti terlihat dari warna buah kuning kehijauan saat muda, dan merah ketika tua.

Cabai rawit rabani agrihorti, cocok di dataran tinggi.

Cabai rawit rabani agrihorti, cocok di dataran tinggi.

Bobot cabai rawit yang adaptif di dataran tinggi itu mencapai 2,1—3,2 gram per buah. Ukuran buah prima agrihorti tergolong jumbo dengan panjang 5,88—6,85 cm dan diameter 1—1,27 cm. Popoulasi tanaman mencapai 13.300 tanaman per ha. Jadi, total hasil panen mencapai 9,64—20,25 ton per hektare. Jumlah hasil panen itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata produktivitas cabai rawit nasional tahun 2015 yang hanya 4,45 ton per hektare.

Baca juga:  Yang Gosong Tetap Elok

Cabai yang adaptif tumbuh di dataran tinggi itu mulai berbunga saat tanaman berumur 45—71 hari setelah tanam (HST) dan mulai panen pada umur 115—149 HST. Umur berbunga hampir sama dengan cabai rawit pada umumnya ditanaman pada dataran rendah yang mulai berbunga pada umur 44—50 HST. Namun, lebih lama umur panennya jika dibandingkan cabai dataran medium yang mulai panen pada umur 75—120 HST.

Untuk konsumen yang kurang suka cabai terlalu pedas, varietas cabai rawit terbaru lain yang dirilis Balitsa, yaitu varietas rabani agrihorti, dapat menjadi pilihan. Cabai rawit hasil seleksi dari populasi plasma nutfah berkode R-01 yang juga berasal dari tanahair itu hanya mengandung 610 ppm kapsaisin. Meski demikian cabai rawit itu memiliki keunggulan karena produktivitasnya tergolong tinggi. Dari setiap tanaman rabani mampu menghasilkan 260—1.058 buah.

Cabai rawit rabani agrihorti, memiliki potensi produktivitas hingga 13,18 ton per hektare.

Cabai rawit rabani agrihorti, memiliki potensi produktivitas hingga 13,18 ton per hektare.

Ukuran buah rabani agrihorti lebih kecil daripada prima agrihorti, yakni panjang buah 4,26—4,95 cm dan diameter 0,83—1,28 cm. Bobot setiap buah hanya 1,3—1,6 atau total 367—1.302 gram per tanaman. Jika populasi dalam satu hektare mencapai 13.300 tanaman, maka potensi hasil panen mencapai 4,16—13,18 ton per hektare. Jumlah hasil panen itu juga lebih tinggi daripada rata-rata produktivitas cabai rawit nasional.

Tahan simpan
Keunggulan lain adalah daya simpan lebih lama, yakni tahan hingga 9—10 hari saat disimpan pada suhu kamar (21—23°C). Biasanya cabai rawit hanya tahan 4—7 hari setelah panen. Rabani juga tergolong berumur genjah di dataran tinggi, karena mulai berbunga pada 50—77 HST dan mulai panen pada 130—159 HST.

Baca juga:  Amat Banyak Aral Avokad

Dengan berbagai keunggulan itu maka pantas bila Asep Halim tertarik mengebunkan kedua varietas itu. Ia membudidayakan masing-masing 400 tanaman di lahan miliknya di Desa Kalimukti, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, pada 2014. Dari populasi itu ia memanen rata-rata 1—1,3 kg per tanaman atau total 400—520 kg. Ia menjual hasil panen ke pasar induk dengan harga Rp20.000—Rp25.000 per kg.

 ” width=”300″ height=”233″>

Dr Liferdi Lukman SP MSi, peneliti sekaligus Kepala Balai Tanaman Sayuran.
>

Menurut Asep konsumen lebih menyukai prima agrihorti karena rasanya sangat pedas. “Jadi kalau membuat sambal biasanya butuh 10 cabai rawit. Kalau menggunakan prima cukup 5 buah saja,” kata petani sejak 1996 itu. Menurut Kepala Balai Tanaman Sayuran, Dr Liferdi Lukman SP MSi, hampir setiap tahun terjadi permasalahan meroketnya harga cabai rawit hingga Rp100.000 per kg akibat kekurangan pasokan.

Lukman berharap kedua varietas itu dapat memenuhi kebutuhan cabai rawit yang tinggi karena memiliki keunggulan produktivitas tinggi. Para pekebun juga bisa menghemat biaya benih karena kebutuhan benih lebih sedikit, yaitu hanya 100—120 g per hektare, benih lain 200 gram per hektare. “Dengan dilepasnya varietas cabai baru itu maka petani bisa memilih varietas cabai yang cocok sehingga tidak terjadi inflasi karena kelangkaan cabai,” kata Lukman. (Fauzi Haidar SSos, anggota staf Hubungan Masyarakat Balai Penelitian Tanaman Sayuran)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d