580-H046-1

Penelitian yang dilakukan Adea Oktavia menggunakan fertigasi dengan irigasi tetes pada cabai di Agribussines Development Station (ADS) Cikarawang – Dramaga.

580-H046-2

Cabai rawit nirmala berbobot 2—3 g per buah dan lebih cepat panen dengan sistem fertigasi.

Pemberian pupuk melalui irigasi tetes meningkatkan produksi cabai hingga 4 kg per tanaman.

Syamsuddin Nugraha memanen 3—4 kg cabai rawit per tanaman dalam 2,5 bulan. Produksi itu melebihi produksi rata-rata cabai rawit nasional yang hanya 1,5 kg per tanaman. Petani di Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Nanggoroe Aceh Darussalam, itu memetik produksi tinggi setelah menerapkan teknologi pemupukan dan menambahkan media tanam sabut kelapa.

Di setiap guludan berukuran 1 m x 7 m, Syamsuddin menambahkan 10 kg serbuk sabut kelapa atau cocopeat sejak 2015. Penambahan bahan itu bertujuan untuk mencegah penyakit tular tanah. Setelah sabut kelapa tercampur merata dengan tanah, ia menutup dengan mulsa plastik. Pria 45 tahun itu membudidayakan cabai rawit varietas nirmala berjarak  tanam 1 m x 1 m.

Fertigasi

Syamsuddin menanam bibit cabai berumur 21 hari setelah semai. Populasi di  lahan 1 hektare mencapai 10.500—12.000 tanaman. Sejak penanaman itu ia memberikan nutrisi menggunakan sistem fertigasi dengan irigasi tetes. Sistem fertigasi merupakan pemberian air irigasi untuk penyiraman tanaman bersamaan dengan pemupukan melalui emiter di dekat perakaran tanaman.

580-H047-1

Syamsuddin Nugraha panen 4 kg cabai rawit per tanaman.

Fertigasi memudahkan serta mengefisiensikan penggunaan air dan pupuk secara tepat. Menurut alumnus Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara itu irigasi tetes memberikan air dan pupuk secara langsung ke setiap tanaman. Tanaman mendapatkan larutan pupuk dari spaghetti cube yang menancap di dekat perakaran tanaman. Syamsuddin mengatakan, frekuensi pemberian air dan nutrisi 2 kali sehari pada pukul 07.00 dan 15.00.

Baca juga:  Tabulampot Lebatkan Jeruk ala Italia

Durasi pemberian 30 menit. Pada fase vegetatif, umur tanaman 28—40 hari, ia memberikan pupuk tinggi nitrogen. Namun, saat tanaman memasuki fase generatif atau setelah berumur 40 hari, ia memberikan pupuk tinggi fosfor dan kalium.  Ia melarutkan 850 kg pupuk itu dalam sebuah drum plastik berkapasitas 500 liter. Kemudian ia memasukkan larutan itu ke tandon dan mengalirkan nutrisi itu melalui pompa listrik.

Tanaman magori atau berbuah perdana pada umur 60 hari. Menurut pria berusia 45 tahun itu, setiap tanaman menghasilkan 500—1.000 buah cabai rawit. Bobot cabai rawit yang berbentuk silindris sepanjang 4—6 cm dan berdiameter 0,8 itu mencapai 2—3 g per buah, setara 4 kg per tanaman atau 5—6 ton per ha sekali panen. Syamsuddin memanen cabai nirmala dengan interval panen 5—7 hari.

Ketika panen pada September 2017 harga cabai rawit di pasar lokal Medan, Sumatera Utara mencapai Rp 30.000—Rp 35.000 per kg. Syamsuddin mempertahankan umur cabai rawit hingga berumur 6 bulan. Artinya dalam satu periode budidaya, ia minimal 17 kali panen. Dalam satu kali budidaya, ia total memanen 84 ton per ha cabai. Produktivitas itu jauh lebih besar dibandingkan dengan budidaya tanpa fertigasi yang hanya 20 ton per ha.

Menurut Syamsuddin biaya pembelian sarana fertigasi mencapai Rp70 juta per ha. Ia dapat menggunakan sarana pemupukan dan penyiraman itu hingga 5—6 tahun. Dengan demikian maka untuk satu kali masa budidaya Syamsuddin memerlukan biaya pengadaan fertigasi hanya Rp3,5 juta per ha. Lonjakan produksi cabai yang signfikan itu mampu menutupi peningkatan biaya produksi.

580-H047-3

Adea Oktavia, alumnus Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB).

580-H047-2

Pemasangan sistem pengairan fertigasi dengan irigasi tetes.

Menurut Dosen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Anas D Susila, M.Si., sistem fertigasi menjadi solusi untuk kebun yang pasokan airnya terbatas. Sistem pengairan itu juga lebih praktis sehingga dapat meringankan kerja pekebun untuk menyiraman. Irigasi tetes juga menekan serangan penyakit pada daun dibandingkan dengan penyiraman melalui sprinkler.

Air tidak diaplikasikan lewat daun sehingga dapat mempertahankan daun dalam kondisi kering. Akibatnya daun dapat menekan kerentanan tanaman terhadap serangan penyakit. Hal itu juga menekan penggunaan fungisida. Menurut Susuila saat ini rekomendasi pemupukan sayuran di Indonesia masih sangat beragam. Pemupukan melalui fertigasi yang tepat dan sesuai dengan kemampuan tanah mensuplai hara tanaman sangat diperlukan. “Hal ini akan mempermudah petani mengadopsi teknologi fertigasi melalui irigasi tetes,” ujar Susila.

Menurut alumnus Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Adea Oktavia, S.P., penggunaan mulsa plastik hitam-perak mempertahankan struktur tanah tetap gembur, memelihara kelembapan tanah, mengurangi kehilangan unsur hara, dan menekan pertumbuhan gulma. Selain itu pemanfaatan mulsa juga mengurangi kerusakan tanaman cabai merah karena thrips, tungau, dan virus.

Ketiganya merupakan kendala penting dalam peningkatan hasil cabai merah. Secara tidak langsung, penggunaan mulsa sekaligus mengurangi penyemprotan pestisida. Selama menggunkan mulsa plastik, Syamsuddin hanya mengeluarkan biaya pengadaan pestisida Rp15 juta per ha. Bandingkan jika tanpa mulsa, maka biaya pestisida mencapai Rp35 juta per ha. (Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d