Cabai dan Inflasi 1

548_ 38-2Cabai Capsicum annuum merupakan komoditas pertanian yang memiliki fluktuasi harga yang sangat tajam. Selama Ramadan harga cabai (bersama-sama dengan harga komoditas lain) cenderung naik signifikan. Kenaikan harga menimbulkan dampak inflasi dalam perekonomian yang mengakibatkan daya beli masyarakat turun. Sayuran buah anggota famili Solanaceae itu termasuk produk yang volatil atau sensitif terhadap inflasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2015 terjadi inflasi 0,50%. Penyumbang inflasi terbesar itu adanya kenaikan harga cabai merah 22,22% dengan andil inflasi terbesar sebesar 0,1%. Sementara andil daging ayam ras terhadap inflasi hanya 0,06%, telur ayam ras (0,04%), dan bawang merah (0,03%). Kenaikan harga cabai merah sebenarnya bukan hal baru. Lonjakan harga cabai selalu terjadi hampir setiap tahun.

Produktivitas cabai menurun di musim hujan.

Produktivitas cabai menurun di musim hujan.

Fluktuasi harga dan inflasi
Jika harga cabai sangat tinggi, konsumen merasakan “pedasnya” harga cabai. Sementara kalau harga cabai sangat rendah maka petani merugi. Mengapa harga cabai sering berfluktuasi? Fluktuasi harga cabai dapat diterangkan dengan prinsip ekonomi yang sederhana, yakni keseimbangan penawaran dan permintaan. Ketika terjadi fenomena kelebihan penawaran atau excess supply, maka harga akan turun. Sebaliknya ketika terjadi fenomena kelebihan permintaan atau excess demand, harga akan naik jika tanpa intervensi pemerintah.

Beberapa penyebab utama fluktuasi harga cabai antara lain produksi tanaman tidak merata sepanjang tahun dan sangat tergantung musim. Produksi berkurang pada musim hujan dan berlebih pada musim kemarau. Sementara dari sisi konsumsi, masyarakat masih mengkonsumsi cabai dalam bentuk segar. Karena konsumsi masih dalam bentuk segar, maka komoditas cabai bersifat mudah rusak (perishable) dan memakan tempat (bulky/voluminous).

Permasalahan lainnya belum terwujudnya ragam, kuantitas, kualitas, dan kesinambungan pasokan yang sesuai dengan permintaan pasar dan preferensi konsumen. Ketidakseimbangan penawaran dan permintaan cabai berkaitan dengan skala usaha, lahan, dan pasar. Petani cabai pada umumnya berskala kecil sehingga menyebabkan inefisiensi teknis dan ekonomis. Tanaman cabai juga menghadapi persaingan dalam penggunaan lahan. Sebab, luas lahan yang tersedia semakin terbatas karena cepatnya alih fungsi lahan ke penggunaan nonpertanian.

Konsumsi cabai bubuk sebesar 400 ton.

Konsumsi cabai bubuk sebesar 400 ton.

Hal lain yang mempengaruhi ketidakseimbangan penawaran dan permintaan cabai adalah tidak berfungsinya program penyuluhan pertanian sehingga petani menghasilkan produk beragam, mutu rendah, dan tidak terjaminnya pasokan. Saluran pemasaran yang panjang dan struktur pasar yang oligopolistik menyebabkan petani dalam posisi tawar yang rendah.

Baca juga:  Swasembada Dua Rempah

Inflasi dapat memperlebar ketimpangan daya beli antara mereka yang kaya dan miskin dan mengurangi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu pemerintah selalu berupaya untuk mengendalikannya. Sayangnya, sering kali kebijakan pemerintah dalam mengendalikan inflasi lebih bersifat bias kepentingan konsumen. Pemerintah baru saja menerbitkan Peraturan Presiden No 71/2015 pada 15 Juni 2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting.

Ada 14 barang kebutuhan pokok atau barang penting yang menjadi fokus pengendalian pemerintah terkait dengan aspek ketersediaan dan stabilisasi harga. Cabai termasuk dalam 14 kebutuhan pokok atau barang penting itu. Komoditas lainnya adalah beras, kedelai sebagai bahan baku tempe, bawang merah, gula, minyak goreng, tepung terigu, daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, ikan segar dalam hal ini bandeng, ikan kembung, dan tongkol/tuna/cakalang.

Campur tangan pemerintah
Ketika harga cabai rendah, sayangnya pemerintah sering kali tidak berpihak kepada petani. Pemerintah sepertinya lebih berpihak kepada kepentingan konsumen. Ketika harga cabai tinggi, pilihan kebijakan pemerintah adalah menetapkan harga referensi tertinggi atau melakukan impor. Sementara ketika harga cabai rendah, pemerintah enggan menetapkan harga dasar atau referensi terendah floorprices untuk komoditas cabai.

Arief Daryanto PhD

Arief Daryanto PhD

Kita ingat Ramadan dan Lebaran pada 2014 harga cabai sangat rendah. Tiga alasan harga cabai demikian rendah ketika itu. Pertama, harga cabai pada musim tanam sebelumnya sangat bagus, maka banyak petani menanam cabai. Akibatnya terjadi kelebihan pasokan yang mengakibatkan harga jatuh. Kedua, kelebihan pasokan karena impor cabai sebagai antisipasi kekurangan pasokan. Ketiga, industri pengolahan cabai membeli bahan baku atau bubuk cabai kering impor, bukan berasal dari cabai segar yang berasal dari produksi dalam negeri.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, Indonesia sebenarnya dalam posisi surplus. Produksi cabai nasional 1,5-juta ton, sedangkan konsumsi dalam bentuk segar mencapai 1,2-juta ton. Konsumsi cabai olahan (bubuk) sebesar 400 ton. Cabai bubuk belum diproduksi dalam negeri. Walau secara nasional kita surplus, fluktuasi harga cabai selain karena fluktuasi pasokan oleh perubahan musim, juga disebabkan oleh distribusi produksi antarwilayah yang terpusat.

Baca juga:  Tempe Atasi Hipertensi

Sentra produksi cabai di Jawa dan Bali (55%) dan Sumatera (34%). Hanya sekitar 11% dari total produksi cabai terdistribusi di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Dengan demikian wilayah Jawa merupakan sentra produksi cabai sehingga pasokan cabai di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua sebagian besar dipasok dari Jawa. Kendala transportasi dan kondisi iklim menjadi penghambat lancarnya distribusi ke konsumen. Itu sering kali mengakibatkan peningkatan harga cabai di wilayah-wilayah tersebut.

Untuk stabilisasi pasokan dan harga cabai dibutuhkan dukungan kebijakan yang bersifat holistik dan tidak bersifat fragmented. Peningkatan produktivitas dan produksi dapat dilakukan antara lain dengan peningkatan akses terhadap benih baru, input pelengkap, dan jasa-jasa pertanian untuk peningkatan produksi cabai dalam memenuhi kebutuhan permintaan yang meningkat. Pengembangan keterkaitan pasar antara pasar petani skala kecil dengan pelaku-pelaku lain dalam rantai nilai juga diperlukan untuk meningkatkan posisi tawar para petani.

Strategi lain, peningkatan akses terhadap permodalan dan informasi pasar kepada para petani terutama yang berskala kecil dan peningkatan kapasitas organisasi atau kelembagaan untuk mencapai skala ekonomi. Peningkatan produktivitas dan produksi juga dengan peningkatan keahlian teknik budidaya cabai yang lebih modern dan penanganan pascapanen termasuk dukungan gudang penyimpanan lemari berpendingin (coldstorage).

Hal lain untuk meningkatkan produktivitas adalah dukungan kebijakan untuk para petani kecil agar lebih berorientasi kepada peningkatan komoditas dan kontinuitas produk serta ketepatan waktu dalam penghantaran. Para petani juga sebaiknya menjalin kemitraan dengan industri untuk mendapatkan akses teknologi baru, pendampingan/pembinaan, dan jaminan harga. Dari sisi permintaan pentingnya peningkatan promosi konsumsi ke arah penggunaan cabai olahan (saus, cabai giling) yang siklus hidupnya lebih lama.

Bagi pemerintah mengingat kompleksnya permasalahan untuk stabilisasi pasokan dan harga cabai, maka perlu disusun peta jalan dengan pendekatan holistik. Jangan asal kerja tetapi tidak dipahami peta jalan yang ingin diambil. Peta jalan yang sudah baik pun, perlu dimplementasikan secara sungguh-sungguh sehinga peta jalan itu bukan sekadar dokumen pepesan kosong. (Arief Daryanto PhD, Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis, Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *