Cabai/ Cabe Toraja Yang Lebat Berbuah 1

Budidaya cabai/ cabe katokkon dengan sistem hidroponik deep flow technique. Tanaman berbuah lebat.

Tanaman cabai itu berbuah merah merona memanjakan mata. Bentuk buahnya berbeda dengan cabai kebanyakan yang lonjong. Cabai katokkon berbentuk mirip buah paprika. Namun, ukuran buah kotokkon yang superpedas itu jauh lebih kecil.

Tanaman asal Tanatoraja, Provinsi Sulawesi Selatan, itu tumbuh subur dan berbuah lebat di halaman kantor Majalah Trubus di Kota Depok, Jawa Barat. Sudah bentuk buahnya aneh, tanaman itu tumbuh di talang hidroponik.

Cabai katokkon siap panen 2,5 bulan pascapindah tanam.
Cabai katokkon siap panen 2,5 bulan pascapindah tanam.

Itulah sebabnya para pejalan kaki acap mampir untuk melihat cabai itu. Gagasan menanam cabai itu muncul setelah Majalah Trubus mengunjungi sebuah pameran hortikultura di Jakarta pada Desember 2017. Di ekshibisi itu Trubus memperoleh dua buah cabai katokkon ranum dari peserta pameran.

Warnanya merah terang. Setelah tiba di kantor, tim budidaya Majalah Trubus membelah buah dan mengambil total 12 biji.

Nutrisi berbeda

Tim menjemur biji cabai itu selama dua hari lalu menyemai di pot persemaian. Ke-12 benih itu berkecambah dan tumbuh menjadi bibit. Bibit setinggi 10 cm—masing-masing terdiri atas 4 daun—yang akhirnya dipindahtanamkan ke talang hidroponik Deep Flow Technique (DFT).

Beberapa karyawan membawa pulang bibit cabai itu dan menanamanya di rumah. Tim menggunakan sistem hidroponik DFT karena memanfaatkan instalasi yang tersedia.

Buah cabai katokkon rata-rata kepedasan 400.000—691.000 Scoville Heat Unit (SHU).
Buah cabai katokkon rata-rata kepedasan 400.000—691.000 Scoville Heat Unit (SHU).

Tanaman pun tumbuh subur dengan daun hijau segar, terutama setelah 14 hari hidup di talang air. Menurut anggota tim, Supriyadi, kunci sukses hidroponik cabai katokkon menggunakan dua nutrisi berbeda saat masa vegetatif dan generatif.

Sejak bibit hingga tanaman menjelang berbunga menggunakan nutrisi khusus untuk pembentukan daun dan cabang. Pada fase itu tanaman memerlukan nitrogen. Kemudian setelah terbentuk bakal bunga Supriyadi menggunakan nutrisi untuk pembentukan buah.

Baca juga:  Bagaimana Membuat Tepung Umbi Sebagai Pengganti Terigu

Nilai Electrical conductivity (EC) dijaga di 3 atau kisaran 1.500—1.800 ppm. Sirkulasi nutrisi berlangsung terus-menerus dalam 24 jam. Satu setengah bulan kemudian, tanaman berbuah. Ketika buah muda, berwarna hijau kekuningan. Warna buah kerabat kentang itu berubah merah jambu dan berangsur-angsur merah terang seiring penambahan umur. Ketika itulah cabai katokkon hidroponik menyedot perhatian warga dan para pejalan kaki.

Ketika masih muda, buah cabai katokkon berwarna hijau.
Ketika masih muda, buah cabai katokkon berwarna hijau.

Menurut praktikus hidroponik di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Charlie Tjendapati, pekebun hidroponik lazim mengganti nutrisi saat tanaman berubah fase dari vegetatif ke generatif. Pekebun hortikultura di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, berpendapat serupa.

“Mengganti nutrisi mempertimbangkan kebutuhan hara setiap fase tanaman,” kata ayah 4 orang anak itu. Charlie mencontohkan, nitrogen dominan pada fase vegetatif.

Namun, pada fase generatif dominan fosfat. “Misal rumusan pupuk NPK 25-7-7 untuk vegetatif, begitu tanaman memasuki generatif komposisi NPK pun berubah, yakni menjadi 12-32-12,” kata Charlie. Optimalisasi nutrisi rata-rata dilakukan untuk penanaman industri atau skala luas.

“Jika untuk hobi tidak sebetulnya perlu mengganti nutrisi pada saat tanaman berganti fase pertumbuhan. Asalkan tanaman bagus dan sehat,” kata Charlie.

Waspada penyakit

Pehidroponik di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Ir. Kunto Herwibowo, menyarankan menjaga nilai EC di 2—2,5 atau sekitar 1.000—1.750 ppm saat tanaman memasuki fase generatif. Menurut pria yang mempopulerkan hidroponik tanpa atap itu nilai EC 2—2,5 ideal untuk tanaman cabai fase generatif. Adapun pH pada kisaran 6. Kunto mengatakan, jenis sistem hidroponik tidak terlalu berpengaruh.

Hal yang terpenting adalah menjaga air agar dinamis. Air yang dinamis memiliki kandungan oksigen yang tinggi. Oksigen terlarut berperan dalam respirasi sehingga pertumbuhan tanaman optimal.

Baca juga:  Cabai dan Paprika Capsicum Pilihan Pekebun
Bagian dalam cabai katokkon sekilas mirip paprika hanya lebih kecil.
Bagian dalam cabai katokkon sekilas mirip paprika hanya lebih kecil.

Menurut Ardy Seno, “Perubahan dari fase vegetatif ke generatif biasanya kebutuhan kalsium turun, magnesium turun, dan kalium naik.” Ardy mengatakan menanam cabai dengan sistem DFT tidak lazim. Pasalnya, hasil panen yang kurang maksimal.

Benih cabai katokkon.
Benih cabai katokkon.

Menurut pria yang menanam tomat indigo rose itu, keluarga cabai memiliki potensi penyakit tular akar. Jika satu tanaman terkena tular akar ditanam pada sistem DFT maka penyebarannya sangat cepat ke tanaman lainnya.

“Satu sistem bisa tertular semua,” katanya. Ardy merekomendasikan penanaman dengan teknik fertigasi untuk tanaman cabai. Pasalnya, hasil optimal dan lebih mencegah gangguan hama penyakit. Sistem fertigasi lebih terisolasi. Pasalnya satu tempat untuk satu tanaman. Nutrisi yang digunakan pun tidak tercampur. 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *