Cabai: Aman di Bawah Naungan

580-H050-1

Lahan cabai milik Bambang Nuryono di Purbalingga, Jawa Tengah.

580-H051-1

Sungkup plastik meningkatkan panen cabai hingga 1.300 gram per batang.

Sungkup plastik meningkatkan produksi cabai sekaligus mencegah patek.

Jonny Prabowo menuai 900 gram cabai merah keriting per tanaman. Produksi itu hampir dua kali lipat panen sebelumnya yang hanya 500 gram per tanaman. Petani cabai merah keriting di Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, itu tidak mengganti varietas cabai. Ia hanya  memasang sungkup plastik saat tanaman berumur 70 hari setelah tanam. Jonny menanam cabai di lahan 3.000 m2. Populasi mencapai 4.500 tanaman.

Sungkup itu menaungi tanaman menjelang berbuah. Fungsinya seperti atap. Jadi sepanjang guludan beratap plastik putih (plastik UV). Ketinggian sungkup dua meter dari permukaan tanah. Menurut Jonny untuk membangun sungkup di lahan 3.000 m2 memerlukan biaya kira-kira Rp10 juta. Itu terdiri atas biaya pengadaan plastik ultraviolet (UV), bambu atau ajir, stapler, tali majun, serta pemasangannya.

Sungkup plastik

Menurut Jonny perlengkapan itu dapat digunakan hingga tiga kali periode budidaya. Artinya dalam sekali budidaya cabai, Jonny memerlukan tambahan biaya Rp3 jutaan.  Bagi Jonny pemasangan sungkup sangat ekonomis karena peningkatan produksi. Menurut Kepala Sub Direktorat Jendral Hortikultura, Kementerian Pertanian, Dr. M. Agung Sunusi, S.P.,M.P., penyebab lonjakan produksi karena umur cabai lebih lama, bisa muncul buah kedua.

Selain itu sungkup juga mencegah serangan cendawan Colletotrichum capsici penyebab penyakit antraknosa atau patek yang merugikan petani. “Kalau tidak pakai naungan, saya menjamin hasil panen habis terserang patek,” ujar Jonny. Ia mendapat ide pemasangan sungkup plastik dari temannya sesama petani cabai dan bawang merah di Purbalingga, yakni Bambang Nuryono.

Mereka tergabung dalam Asosiasi Petani Hortikultura Purbalingga (APHP). Namun, konstruksi yang dibuat menggunakan material bambu atau kayu yang banyak memakan biaya, sehingga tidak diterapkan lagi. Bambang menerapkan sungkup plastik hasil modifikasi dari sungkup sebelumnya yakni mengganti sebagian material bambu dengan tali majun.

Tali itu biasa digunakan untuk pengikatan galar yaitu pengikatan bambu untuk media rambat tanaman, dan penyangga tanaman agar tidak menempel pada tanah. Selanjutnya, ia memasang plastik menggunakan stapler, sedangkan metode lama dijahit. Modifikasi sungkup itu dapat menekan biaya dan waktu pemasangan. Petani alumnus SMA Negeri 1 Bobotsari, Purbalingga, itu memasang sungkup plastik saat cabai atau bawang merah berumur 70—75 hari.

“Saat cabai memasuki masa akhir produksi bunga pertama, atap plastik perlu digulung ke tengah agar tanaman terkena hujan atau jika ada badai. Proses itu dilakukan untuk mengurangi serangan thrips, serta merangsang bunga kedua muncul,” kata Bambang. Menurut Bambang sebagian wilayah di Indonesia yang menanam cabai pada Agustus akan panen pada musim hujan. Kendala petani antara lain berkurangnya sumber air pada awal tanam dan serangan penyakit akibat yang ditularkan oleh tungau dan kutu kebul.

Bila budidaya cabai tanpa sungkup, selama 3,5 bulan hingga panen, banyak cabai yang harus dipetik dan dibuang karena patek (antraknosa) maupun busuk buah. Pemetikan cabai yang terkena penyakit harus secepatnya agar tidak menular. Pemberian sungkup memberikan perbedaan nyata. Umur tanaman cabai Bambang mencapai 6 bulan (3,5 bulan masa panen). Namun, tanpa sungkup plastik cabai tidak bisa dipertahankan.

Bambang sulit mengendalikan penyakit yang menyerang tanaman akibatnya produksi pun anjlok hanya 500 gram per tanaman. Adanya sungkup plastik membuat cabai masih bisa berproduksi hingga muncul buah ketiga. Bambang mengatakan, mengandalkan pestisida pun tak mampu mencegah serangan hama atau penyakit.

Pria kelahiran Purbalingga itu mengatakan, tanpa sungkup jadwal penyemprotan sering terganggu akibat hujan. Selain itu, proses sanitasinya memerlukan tenaga kerja yang teliti dan telaten. Ia merasakan manfaat sungkup pastik sangat besar bagi petani, yakni peningkatan panen dengan sungkup plastik menghasilkan 1.150–1.300 gram  per tanaman, sedangkan tanpa sungkup plastik hanya sekitar 650–1.000 gram per tanaman.

580-H051-2

Bambang Nuryono, Ketua Asosiasi Petani Hortikultura Purbalingga (APHP), Jawa Tengah menggunakan sungkup plastik saat cabai berumur 75 HST (awal panen).

580-H051-2 (2)

Cabai merah keriting yang terserak patek sering kali mengakibatkan gagal panen.

Hemat

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga, Ir. Lily Purwati, menyarankan petani menggunakan naungan berupa sungkup plastik, agar patek tidak cepat menyebar. Ia berharap penyakit menurun dan umur panen bertambah. Penggunaan sungkup plastik menekan biaya penggunaan pestisida. “Hasil meningkat dan petani dapat menghemat pestisida.” Biasanya petani menyemprot fungisida tiga kali per pekan, kini hanya sekali per pekan,” ujar Lily.

Bambang menghitung keuntungan penggunaan sungkup. Populasi cabai dalam satu hektare mencapai 17.000 tanaman. Jika menghitung buah yang terbuang 150 gram per batang dengan harga rata-rata Rp20.000, maka dalam satu hektare dapat membuang Rp51 juta. Dalam rentang satu tahun, budidaya cabai menemui harga panen yang fluktuatif. Namun, dalam enam tahun terakhir, harga cabai cenderung tinggi pada Oktober, November, Desember, dan Januari sebab cabai langka.

Hema Hayati dari Magister Konservasi Sumberdaya Lahan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, membuktikan penggunaan sungkup plastik mencegah serangan penyakit antraknosa. Penelitian itu menggunakan 2 faktor yaitu jenis mulsa dan persentase naungan. Hasil penelitian menunjukkan, jenis mulsa disertai intensitas naungan mengurangi persentase penyakit antraknosa baik pada buah maupun pada tanaman cabai. Mulsa sekam padi menekan persentase serangan pada tanaman, sedangkan mulsa kulit kopi meningkatkan bobot buah cabai. Naungan 55%, 65%, dan 75% dapat meningkatkan bobot buah cabai.

Peneliti dari Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jawa Timur, Imam Wahyudi mengatakan, terjadi interaksi antara perlakuan tinggi dan jenis bahan naungan pembibitan pada pertumbuhan vegetatif tanaman. Naungan setinggi 65 cm dan jenis naungan (plastik dan jaring) memberikan hasil terbaik dibanding dengan beberapa perlakuan yang lainnya.

Pada pertemuan petani cabai dari berbagai wilayah yang diselenggarakan di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat pada Februari 2018, inovasi budidaya cabai dengan sungkup plastik dijadikan program nasional oleh Kementerian Pertanian. Program bantu tanam cabai 2018 seluas 15.000 hektare menjadikan plastik sungkup sebagai salah satu jenis bantuan. (Marietta Ramadhani)

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x