Lada sehat berkat pupuk hayati berbahan urine kelinci dan susu fermentasi.

Lada sehat berkat pupuk hayati berbahan urine kelinci dan susu fermentasi.

Ramuan berbahan urine kelinci efektif mengatasi busuk pangkal lada.

Agus Utoyo girang bukan kepalang saat tanaman lada berumur 2 tahun miliknya berbunga. Untuk memastikan buah lada terbentuk sempurna dan berproduksi tinggi, petani di Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, itu menaburkan pupuk kandang di pangkal batang lada. Namun, ketika mengontrol tanaman pada pekan kedua, ia melihat 1 dari 15 lada sakit. Daun tanaman menguning dan beberapa tampak berguguran.

Bagian pucuk tanaman, sekitar sejengkal dari ujung, mengering. Warna hijau pangkal batang berubah kehitaman. Agus mengenali ciri itu sebagai tanda serangan busuk pangkal batang. Pengalaman mendiang sang ayah, serangan busuk pangkal batang tidak bisa ditangkal dengan pestisida apa pun. Enggan kecolongan seperti ayahnya, Agus Utoyo menyemprotkan pupuk hayati di seluruh tanaman, terutama bagian batang dan sekitar perakaran.

Agus Utoyo menanam ulang lada pada 2012.

Agus Utoyo menanam ulang lada pada 2012.

Fermentasi
Interval penyemprotan pupuk hayati cair itu 14 hari dengan frekuensi 2 kali. Setelah penyemprotan kedua, tanaman menunjukkan perbaikan. Tunas baru muncul di pucuk tanaman yang semula kering. Batang yang menghitam pun hijau kembali. Dua bulan pascapenyemprotan pertama, tanaman lada pulih total. Serangan busuk pangkal batang akibat cendawan Phytophthora capsici (dahulu P. palmivora) berasal dari pupuk kandang tambahan yang Agus tebar untuk meningkatkan produksi buah.

Agus langsung menebarkan pupuk itu sebelum terfermentasi sempurna. Menurut ahli lada dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Dr Ir Dyah Manohara cendawan anggota famili Pythiaceae itu dapat bergerak dan berenang aktif di lapisan air yang terdapat dalam lapisan tanah. Begitu menemukan inang—akar atau bagian tanaman—spora cendawan segera menempel dan mulai mencerna bagian tanaman itu.

Serangan cendawan yang dideskripsikann pertama kali oleh Leon H. Leonian pada 1922 itu mengakibatkan penyaluran air dan nutrisi dari akar terhambat. Dampaknya daun komoditas berjuluk raja rempah itu menguning dan pucuk tanaman mati. Selain itu pangkal batang melemah sampai lama-lama tanaman rebah. Gejala awal infeksi busuk pangkal adalah daun layu diikuti membusuknya pangkal batang.

Baca juga:  Faedah Okra di Mancanegara

Pangkal batang berubah warna menjadi hitam, jika lingkungan lembap tampak lendir kebiruan. Kerusakan tanaman lada akibat busuk batang berkisar 10—15% per tahun. Celakanya tanaman inang cendawan itu amat banyak seperti anggota keluarga Cucurbitaceae (melon, mentimun), Solanaceae (cabai), Fabaceae (kedelai), dan Piperaceae (lada). Phytophthora mudah tersebar terbawa dalam jaringan tanaman yang terinfeksi, tanah terkontaminasi, dan terbawa air hujan, irigasi, atau bergerak aktif dengan zoospora.

Kepala Bagian Balai Perlindungan Tanaman, Dinas Perkebunan Provinsi Lampung, Ir Jabuk MTA, menjelaskan busuk pangkal batang merupakan penyakit utama pada lada. Akibat penyakit itu petani bisa merugi hingga 80%. Bahkan pada serangan yang fatal dapat menyebabkan kematian tanaman. Penyakit busuk batang pertama kali dilaporkan di Sekampung, Provinsi Lampung, pada 1885, lalu menyebar ke Bangka, Bengkulu, Nangroe Aceh Darussalam, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

 Dr Ir Dyah Manohara, peneliti lada dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro)

Dr Ir Dyah Manohara, peneliti lada dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro)

Ramu pupuk
Mengetahui tidak ada pestisida yang mampu mengatasi cendawan busuk pangkal batang, Agus mencoba cara biologis menggunakan pupuk hayati. Ia meramu sendiri pupuk hayati dari bahan sederhana di sekitarnya. Bahan itu berupa campuran 20 l urine kelinci dan 2 botol kecil susu fermentasi yang beredar di pasaran lalu menambahkan gula merah sebanyak 5% volume urine.

Agus memasukkan campuran itu ke jeriken plastik tertutup rapat dengan selang untuk membuang gas hasil fermentasi. Setelah 15 hari, larutan induk pupuk hayati itu siap semprot. Sebelum menyemprotkan, Agus mengencerkan 1—1,5 gelas atau 250 ml larutan biang pupuk hayati dalam 15 liter air, lalu mengaduk rata. Agus menyemprotkan larutan itu ke seluruh bagian tanaman, terutama pangkal batang dan sekitar perakaran. Setangki berkapasitas 14 l cukup untuk 30 tanaman lada.

Baca juga:  Kandri Desa Akuaponik

Selain itu Agus juga memanfaatkan larutan itu untuk memfermentasi pupuk kandang. Ia menamambahkan segelas biang pupuk hayati ke dalam 25 liter air. Lalu Agus memasukkan pupuk kandang ke dalam plastik berkapasitas 20 kg hingga terisi setengah lalu menyiramkan larutan pupuk hayati hingga seluruh bagian basah tetapi tak sampai tergenang. Selanjutnya ia menambahkan lagi pupuk kandang hingga memenuhi plastik, menyiramkan lagi pupuk hayati, menutup plastik, dan memasukkan plastik ke dalam karung.

Urine kelinci berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi mikrob untuk mengatasi busuk pangkal batang.

Urine kelinci berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi mikrob untuk mengatasi busuk pangkal batang.

“Plastik tidak perlu diikat, cukup dilipat dan diberi pemberat. Biarkan hingga 15 hari sebagai masa fermentasi. Setelah itu pupuk sudah bisa diaplikasikan dengan aman,” ungkap Agus. Fermentasi bertujuan mematikan patogen yang terdapat pada pupuk kandang dan mendukung kehidupan mikrob pendukung kesuburan tanaman. Meski efektif mengatasi cendawan Phytophthora, Agus mengakui pupuk hayati kreasinya belum sempurna.

“Efektivitasnya bisa ditingkatkan dengan penambahan cendawan Trichoderma,” kata Agus. Trichoderma merupakan cendawan pengurai yang bersifat antagonis terhadap Phytophthora. Sayang sampai sekarang Agus kesulitan mendapatkan trichoderma. Menurut Agus keberhasilan penanganan dan pencegahan terhadap penyakit busuk pangkal batang karena peranan kondisi lingkungan tanaman lada.

Kelembapan tinggi di lingkungan perakaran menyebabkan cendawan mudah menyerang. Ia memilih lamtoro untuk pohon panjatan lantaran tidak memberikan naungan rapat sehingga cahaya matahari mampu mencapai lingkungan perakaran. Menurut guru besar Departemen Tanah dan Sumberdaya Lahan, Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Iswandi Anas Chaniago, beberapa mikrob tanah berperan sebagai antagonis bagi berbagai penyakit.

Namun, pada prisnsipnya yang berperan untuk menyembuhkan atau mengatasi penyakit adalah mikrob, bukan urine kelinci. Urine kelinci hanya berfungsi sebagai sumber nutrisi, unsur hara terutama nitrogen untuk memperbanyak mikrob yang akan digunakan untuk mengatasi suatu penyakit. Yang mampu mengatasi busuk batang seharusnya adalah bakteri yang sudah teruji seperti trichoderma atau penisilium yang teruji menanggulangi busuk pangkal. Kini Agus bernapas lega lantaran tanaman yang pernah terserang cendawan itu bebas Phytophthora, bahkan berbuah lebat. (Muhammad Awaluddin/Peliput: Desi Sayyidati Rahimah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d