Burung Cinta Tetap Sentosa 1
580-H024-1

Sepasang lovebird milik Hadi Sucipto tampil sehat dan cantik berkat perawatan intensif.

Kiat agar lovebird selalu sehat dengan konsumsi rutin vitamin dan menjaga kebersihan kandang.

Pehobi lovebird di Kota Malang, Provinsi Jawa Timur, Hadi Sucipto, masygul melihat piyik lovebird miliknya lesu,  berkulit pucat, dan tak berselera makan. Di badannya ada bintik-bintik merah seperti terkena cacar. Keesokan hari, anakan burung lovebird jenis biola parblue itu meregang nyawa. “Kalau jantan dan sudah dewasa, harga pasaran biola parblue tembus Rp80 juta—Rp90 juta per ekor,” ujar pehobi berusia 37 tahun itu.

Tak lama berselang 3 piyik lovebird lain milik Hadi menyusul. Pehobi itu gagal menyelamatkan burung cinta. Sejak kematian burung-burung itu, Hadi langsung mensterilkan kandang dan ruangan budidaya dengan larutan disinfektan. Harap mafhum, penularan penyakit itu amat cepat. Namun, karena jatuh cinta kepada lovebird, Hadi tak berhenti memeliharanya. Menurut drh. Awang Teja Satria di Malang, Jawa Timur, penyakit yang menyerang piyik Hadi akibat  virus. Pengendalian penyakit juga belum ada.

580-H025-1

Kandang baterai mencegah penularan penyakit.

Konsumsi vitamin

Untuk mencegah serangan virus itu terulang, kini setiap kali hendak memegang lovebird, Hadi mencuci tangannya terlebih dahulu dengan antiseptik berbentuk jeli. Inkubator tempat piyik juga harus bersih. Selain itu ia memberikan vitamin untuk menjaga ketahanan tubuh burung. Pemberian vitamin melalui air minum. Ia meneteskan 100 gram serbuk vitamin dalam 1,5 liter air. Hadi memberikan vitamin berdosis separuh wadah minum atau setara 50 ml.

Hadi memberikan vitamin itu setiap hari ketika burung sedang tidak mengerami. Tujuannya menjaga ketahanan tubuh lovebird dari serangan penyakit. Saat musim hujan, Hadi memberikan vitamin untuk stamina dan produksi lebih sering daripada saat kemarau. Pemilik Ring Onel lovebird itu memberikan vitamin dua kali sepekan saat burung mengerami telur.  Demikian juga ketika musim hujan, ia juga memberikan vitamin dua kali sepekan. Sebaliknya pada musim kemarau ia hanya sekali memberikan vitamin sepekan. Dengan perlakuan itu kesehatan burung lebih terjaga.

580-H025-2

Ragam disinfektan dan vitamin yang Hadi gunakan demi menjaga kesehatan si burung cinta.

Hadi menuturkan, menjaga stamina burung sebuah keharusan agar burung memiliki pertahanan diri yang cukup untuk melawan virus atau bakteri. Menurut Hadi penularan penyakit lewat pakan kadang terjadi. Untuk mencegah penularannya,  ia mensterilkan pakan berupa biji-bijian seperti bunga matahari, milet putih, dan biji kenari sebelum memberikan ke burung. Caranya pakan dicuci dengan air bersih dan dijemur hingga kering atau sekitar setengah hari.

Baca juga:  Selamat Datang Kambro

Langkah selanjutnya, Hadi menyangrai pakan itu di atas api kecil hingga keluar aromanya atau sekitar 10 menit. Setelah itu barulah pakan siap diberikan ke burung. “Banyak pehobi yang langsung memberikan biji-bijian tanpa dibersihkan apalagi sampai steril. Padahal risiko burung tertular penyakit besar,” ujar pehobi lovebird sejak 2008 itu. Selain steril, keragaman pakan juga menunjang kesehatan burung.

Pehobi dan penangkar lovebird di Surabaya, Jawa Timur, Sugianto Limanto, menggunakan pakan impor asal Belgia yang mengandung 25 macam biji-bijian. “Kami memberikan semau burung alias prinsipnya tidak ngirit,” ujar penangkar sejak 2013 itu. Sugianto juga memberikan pakan tambahan seperti sayuran kangkung dan pakan ramuan yang mengandung telur ayam, roti kering, dan minyak zaitun satu sendok teh sehari. Semua pakan itu membuat indukan tetap sehat dan fit.

580-H025-3

Hadi Sucipto mensterilkan pakan demi mencegah penularan penyakit.

Kandang baterai

Selain itu Hadi juga menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitar. Kebersihan kandang sangat berpengaruh terhadap perkembangan penyakit burung, terutama pada musim hujan. Harap mafhum, pada musim hujan perkembangan virus dan bakteri yang menyerang burung makin cepat tumbuh. Mikroorganisme berbahaya itu menyukai kelembapan tinggi dan kondisi itu kerap terjadi pada musim hujan. Hadi menggunakan sistem kandang baterai atau per kandang satu pasang burung.

Pria kelahiran Malang, 5 April 1981 itu semula menggunakan kandang koloni. Namun, risiko burung di kandang koloni tertular penyakit amat besar. Hadi pernah kehilangan 26 indukan lovebird dalam satu kandang koloni. Semula mati 14 ekor, keesokan hari 12 ekor kembali meregang nyawa. Lovebird jenis blorok dan jenis kekekan itu terkena penyakit nyilet. Gejalanya burung lesu dan bulu mengembang. Ia sempat berkonsultasi dengan dokter hewan di Malang.  Menurut dokter hewan burung masuk angin akut sehingga tidak tertolong.

Baca juga:  Jitu Ramal Mutasi Warna

Ia ingat betul saat itu, kondisi iklim sedang tidak kondusif. Kandang berada di tempat terbuka sehingga angin kerap berembus kencang. Kelembapan juga tinggi, sehingga burung susah untuk menjaga ketahanan tubuh meski konsumsi vitamin. Sejak saat itu, Hadi mengganti semua kandang koloni dengan sistem baterai. Menurut Hadi kandang baterai dan koloni masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan kandang koloni yaitu mudah memberi pakan, minum, dan membersihkan kandang.

580-H025-4

Pakan biji-bijian yang sudah disangrai meminimalisir penularan penyakit pada lovebird.

Tanpa membuka-buka kandang lagi, satu pekerjaan selesai. Namun kekurangan kandang koloni adalah penyakit mudah menular sehingga susah mengendalikan. Pemberian pakan, minum, dan membersihkan kandang baterai memang agak ribet. Kelebihan kandang baterai ketika terjadi serangan penyakit, pehobi lebih mudah mengendalikan. Penularannya juga lebih lambat. Menurut Hadi, intensif menjaga kebersihan kandang dan memelihara kesehatan burung adalah bukti kasih sayang pehobi kepada burung cinta.  (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *