Burja Buruan Pasar 1
Burja di Peternakan Kambing Burja di Kota Batu, Jawa Timur, milik Martinus Alexander Kaunang

Burja di Peternakan Kambing Burja di Kota Batu, Jawa Timur, milik Martinus Alexander Kaunang

Permintaan pasar burja masih terbentang.

Omzet Iska Susan Priatna (40) dan peternak mitra sungguh menggiurkan, Rp250-juta—Rp550-juta per bulan. Itu dari perniagaan kambing burja—hasil persilangan kambing jantan boer dan betina jawa. Peternak di Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu menjual rata-rata 100 ekor setiap bulan.  Harga jual seekor burja Rp2,5-juta—Rp5,5-juta. Dengan laba bersih Rp1-juta per ekor saja, keuntungannya sungguh aduhai, Rp100-juta.

Burja kini menjadi andalan baru Iska untuk mengisi pundi-pundinya. Sebelumnya Iska berprofesi sebagai karyawan swasta di sebuah restoran cepat saji berpenghasilan Rp3-juta per bulan. Martinus Alexander Kaunang di Desa Pandanrejo, Kotamadya Batu, memelihara 2.000 kambing terdiri atas burja sebanyak 750 ekor, boer (700), dan jawa (550) di lahan 20 ha. Dengan populasi sebanyak itu Alexander mampu menjual rata-rata 200 pejantan burja dan 20—25 boer per bulan.

Tonny Mariza Hariyanto beternak burja sejak 2013

Tonny Mariza Hariyanto beternak burja sejak 2013

Pasar besar
Martinus menjual pejantan burja berumur 4 bulan berbobot 25 kg. Harganya Rp1,35-juta per ekor, sedangkan pejantan boer berumur 6—12 bulan Rp15-juta—Rp25-juta per ekor. Omzet Martinus Alexander dari penjualan pejantan burja Rp270-juta, pejantan boer Rp375-juta—Rp625-juta sebulan. Total jenderal omzet pemilik Peternakan Kambing Burja itu Rp645-juta—Rp895-juta per bulan.

Bukan hanya Alexander dan Iska yang mencecap manisnya beternak burja. Tonny Mariza Hariyanto, juga sukses mendulang laba dari burja.  Pendapatan Tonny meningkat 73% dari semula Rp3-juta menjadi Rp11-juta per bulan sejak Desember 2013. Warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu membudidayakan burja di lahan 300 m2. Dalam sebulan Tonny menjual 10 kambing burja seharga rata-rata Rp1,375-juta per ekor ke rumah makan di Surabaya, Jawa Timur.

Ia menjual burja seharga Rp55.000 per kg bobot hidup. Dengan bobot rata-rata 25 kg, harga per ekor Rp1,375-juta. Dari perniagaan itu laba bersihnya mencapai Rp5-juta—Rp7-juta. Menurut Iska dan Alexander beternak burja berprospek cerah. Setiap tahun permintaan burja cenderung meningkat. Saat mulai usaha pada 2008 Iska rata-rata menjual 20—30 ekor per bulan. Pada 2014 ketua kelompok ternak Harta Abadi Sentosa itu mampu menjual 100 ekor per bulan.

Sementara permintaan yang datang ke Tonny lebih dari 200 kambing per bulan untuk wilayah Surabaya. Sayang pria penggemar fotografi itu belum bisa memenuhi permintaan pasar. Sebab kapasitas produksi milik Tonny hanya 10 ekor per bulan. Konsumen menginginkan burja berumur 5 bulan dan bentuk tubuh tampak bulat. Selain itu bobot tubuh kambing 20—25 kg. Saat ini Alexander menjual 200 burja per bulan. Padahal, “Permintaan yang datang mencapai 1.000 ekor setiap bulan,” katanya.

Baca juga:  Meski Hujan Karambola Legit

Permintaan pasar akan burja kian meningkat karena citarasa daging burja lebih lezat. Daging kambing burja amat empuk dan lembut. “Daging burja cocok untuk hidangan satai,” kata Iska. Selain itu kelebihan lain adalah karkas kambing burja yang tinggi mencapai 55%. Artinya, dari 100 kg bobot hidup mampu dihasilkan 55 kg daging. Sementara kambing lokal berkarkas hanya 45—48%.

Bagi peternak membesarkan burja juga menguntungkan. Sebab penambahan bobot relatif cepat. Cempe alias anakan burja baru lahir berbobot 3—3,5 kg. Laju pertumbuhan bobot mencapai 200 g per ekor per hari. Kambing burja berumur 4 bulan bisa berbobot 20—25 kg per ekor. Bandingkan dengan bobot kambing jawa pada umur sama hanya 15 kg.

Satai kambing burja lebih empuk

Satai kambing burja lebih empuk

Aral mengadang
Di balik gurihnya bisnis burja, peternak mesti waspada menghadapi berbagai kendala. Ketersediaan pakan faktor utama beternak kambing. “Biaya pakan mencapai 70%,” kata Iska. Untuk menghemat biaya pakan, ia bekerja sama dengan petani sayuran dan hortikultura. Iska memanfaatkan limbah pertanian seperti kangkung dan tongkol jagung yang difermentasi sebagai pakan ternak.

Sebagi gantinya petani mengambil kotoran ternak sebagai pupuk tanaman. Simbiosis mutualisme itu berlangsung sejak 2006 hingga sekarang. Selain itu, pemanfaatan limbah pertanian juga untuk menyiasati kurangnya pasokan hijauan saat kemarau.  Hambatan lain adalah harga pejantan boer yang tinggi mencapai Rp28-juta—Rp30-juta per ekor menjadi hambatan. Untuk menghasilkan burja peternak mesti memiliki pejantan boer. Harga boer yang tinggi menyulitkan peternak pemula.

Di sisi lain hambatan itu justru menimbulkan peluang untuk memasarkan semen. “Untuk mengatasi harga indukan tinggi, peternak bisa membeli semen pejantan boer,” kata Iska. Harga semen antarpeternak bervariasi. Tonny mematok harga semen Rp30.000—Rp100.000 per straw atau tabung. Dengan semen pejantan boer murni, peternak tidak perlu memiliki indukan. Peternak yang memiliki semen boer menghasilkan burja dengan inseminasi buatan.

Menurut Iska, perbanyakan burja dengan inseminasi buatan juga menjadi rintangan. Sebab, “Keberhasilan penyilangan dengan inseminasi buatan rendah hanya 30%,” kata pria kelahiran Malang, itu. Artinya dari 10 betina jawa yang diinseminasi hanya 3 yang melahirkan burja. Menurut peneliti di Balai Penelitian Ternak, Jawa Barat, Ir Bambang Setiadi MS, keberhasilan inseminasi buatan dipengaruhi beberapa faktor.

Baca juga:  Pilihan Longan Anyar

Misalnya kambing harus masuk masa berahi. Waktu tepat untuk melakukan inseminasi lazimnya 16 jam setelah kambing betina berahi. “Saat itu terjadi ovulasi dan betina siap menerima semen dari pejantan,” kata Bambang. Lebih lanjut alumnus Jurusan Ilmu Ternak Institut Pertanian Bogor itu mengatakan posisi betina saat diinseminasi tidak boleh berdiri. Sebab uterus kambing agak berkelok.

Jika betina berdiri kemungkinan semen masuk ke uterus kecil. “Jadi posisi kambing mesti menungging,” ujar Bambang. Selain itu, konsentrasi spermatozoa harus padat yaitu lebih dari 50-juta per cc. Makin padat semakin bagus karena pergerakan sperma lebih aktif. Yang terpenting, “Cek daya hidup spermatozoa sebelum melakukan inseminasi,” kata peneliti utama bidang pemuliaan dan genetika ternak itu.

Beternak kambing burja lebih menguntungkan daripada kambing lokal

Beternak kambing burja lebih menguntungkan daripada kambing lokal

Bisnis semen
Selain penjualan kambing, peternak juga berpeluang menjual semen. Konsumen memang membutuhkan semen pejantan burja. Tonny menjual semen Rp30.000—Rp100.000 per straw atau tabung (kemasan semen beku) bervolume 0,25 cc. Ia menjual 20 tabung per bulan sehingga menangguk omzet Rp600.000—Rp2-juta. Menurut Tonny laba bersih penjualan 20 tabung semen mencapai Rp300.000—Rp1-juta. Selain itu permintaan semen boer murni pun sangat tinggi mencapai 150—300 tabung.

Kini Tonny baru bisa menjual 20 tabung per bulan. Peternak memerlukan semen boer untuk  mendapatkan kambing keturunan boer. “Peternak ingin mengetahui kualitas burja,” kata pria kelahiran Surabaya itu.  Menurut  Direktorat   Bina  Produksi Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan Jakarta, pada 2008 populasi kambing di Indonesia 15,6-juta ekor. Dibandingkan populasi lima tahun sebelumnya menunjukkan kenaikan populasi 3,3% per tahun.

Peningkatan populasi terjadi karena bertambahnya peternak yang memelihara kambing untuk meningkatkan pendapatan seperti Tonny. Lembaga itu juga menyatakan kebutuhan daging dalam negeri meningkat dari tahun ke tahun. Konsumsi rata-rata daging kambing 5,6 juta ekor per tahun. Dari jumlah itu baru 40% yang bisa dipasok dari produksi dalam negeri. Ceruk pasar kambing burja dan semen boer murni terbuka lebar. Oleh karena itu, Tonny bermitra dengan 200 peternak di Kabupaten Malang untuk memenuhi permintaan daging burja dan semen boer murni. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *