Budidaya Kroto Tanpa Ratu Semut

Ade Yustira sukses panen kroto tanpa ratu semut.

Tiga gubuk berdinding anyaman bambu dan beratap terpal itu ringkih. Pintu masuk ke ruang berukuran minimal 5 m x 5 m pun terlihat seadanya. Tiada sangka para penghuni gubuk bambu itu bernilai Rp200-juta. Di sana hidup triliunan semut rangrang dalam 4.000 stoples plastik. Mereka beranak-pinak menghasilkan kroto dan semut muda tanpa kehadiran sang ratu seekor pun.

Teknik beternak semut rangrang Oecophylla smaragdina ala Ade itu menarik minat komunitas burung, komunitas mancing, dan peternak satwa lainnya. Kroto yang dihasilkan peternakan lebih berkualitas karena kadar air lebih rendah. Di alam kadar air tinggi karena kerapkali sarang kehujanan.

Setiap hari sejak November 2013 mereka berdatangan untuk belajar beternak rangrang ala Ade. “Minimal setiap hari datang 10 orang untuk belajar beternak. Jumlahnya meningkat pada akhir pekan,” kata Arifin, anggota staf Ade sambil menyodorkan buku tamu pada Trubus.

Harap mafhum, dahulu beternak semut rangrang penghasil kroto dianggap seperti beternak lebah yang membutuhkan ratu untuk memimpin sebuah koloni. Lazimnya 1 koloni mendiami wadah berupa satu stoples plastik.

Telur pekerja

Semula Ade mengamati semut rangrang yang tercerai-berai dari koloni utama karena sarangnya dipanen pemburu kroto ternyata tetap bertahan hidup. Mereka yang tersisa kembali menyatu, berkelompok, lalu membuat sarang baru meski sang ratu telah dirampok pemburu.

Lazimnya 3 pekan kemudian jumlah semut rangrang kembali berlimpah seperti tidak pernah terganggu. “Saya mengamati semut rangrang di pohon petai, mangga, rambutan, dan sawo,” katanya.

Satu koloni bisa mendiami sarang berupa 30 stoples, 100 stoples, 500 stoples, hingga 1.000 stoples

Satu koloni bisa mendiami sarang berupa 30 stoples, 100 stoples, 500 stoples, hingga 1.000 stoples

Misteri itu terkuak kala Ade menelusuri sejumlah literatur semut rangrang yang dipublikasikan Harvard University dan Kasetsart University sebelum era 80-an. Di beragam penelitian itu disebutkan ada 4 kasta semut rangrang: ratu, calon ratu, pekerja, dan pejantan.

Yang disebut pertama hingga ketiga berjenis kelamin betina sehingga mereka semua bertelur fertil. Hanya pejantan yang tidak bertelur. Ratu dan calon ratu menghasilkan hingga 100.000 butir dalam sekali bertelur, sementara seekor semut pekerja bertelur sebanyak 30.000 butir.

Tugas semut ratu ialah memimpin koloni, bertelur, serta menstabilkan semut pekerja agar giat mencari pakan. Sementara calon ratu bertugas sederhana: bertelur. Yang paling berat semut pekerja yang terdiri dari semut pencari pakan, perawat telur, penjaga kebersihan, dan penjaga sarang dari ancaman luar.

Di samping tugas utama itu semut pekerja juga kawin dan bertelur dengan jumlah telur sepertiga dari jumlah telur ratu. Semut yang paling ringan tugasnya ialah pejantan yang bertugas kawin, tapi setelah kawin ia mati.

Publikasi klasik di mancanegara itu belum diketahui banyak kalangan di Indonesia. Kebanyakan literatur tanahair pun menyebut mustahil beternak semut rangrang tanpa ratu karena telur dari betina pekerja infertil sehingga tidak dapat dibuahi.

“Belum ada riset yang mengungkap bahwa semut rangrang bisa dibudidaya. Tanpa ratu populasi tidak bertambah sehingga semut pekerja pergi atau mati,” tutur Peneliti serangga dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Wara Asfiya.

Satwa harapan

Menurut anggota staf pengajar di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Ir Hotnida CH Siregar MSi, fakta di lapangan yang membuktikan semut rangrang dapat diternak tanpa ratu merupakan kabar baik. “Ini luar biasa, dulu kalangan akademisi menyebut semut rangrang sebagai hama.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x