Budidaya Bandeng: Lebih Singkat Lebih Banyak 1
Djuli Junaedi (kanan) bersama Iis Sutisna

Djuli Junaedi (kanan) bersama Iis Sutisna

Djuli Junaedi hanya membutuhkan waktu 3 bulan untuk memanen bandeng berukuran 3—4 per kilogram.

Aktivitas di sebuah bangunan di Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, cukup sibuk. Para pekerja mengangkut bandeng dari tambak menggunakan keranjang bambu. Mereka lalu menimbang, memasukkannya ke drum plastik, dan menambahkan es batu. Ikan anggota keluarga Chanidae itu pun siap kirim ke Bandung, Jakarta, Serang, dan Tangerang.

“Jika kondisi baik, panen bandeng bisa mencapai 10 ton sehari,” ujar Djuli Junaedi, pemilik tambak itu. Sementara permintaan bandeng bisa lebih dari 10 ton per hari. Djuli memanen Chanos chanos itu lebih cepat dibanding petambak bandeng pada umumnya. Untuk menghasilkan bandeng berukuran 3—4 ekor per kilogram, ia hanya membutuhkan 3 bulan; petambak lain membutuhkan waktu 7 bulan.

Budidaya bandeng dengan pakan khusus mempercepat waktu panen

Budidaya bandeng dengan pakan khusus mempercepat waktu panen

Lebih cepat
Menurut Djuli, “Panen lebih singkat karena pertumbuhan bandeng lebih cepat.”  Dari tambak seluas satu hektar ia panen 1 ton bandeng. Sementara luas total tambak ayah tiga anak itu mencapai puluhan ha. Kunci keberhasilan budidaya bandeng Djuli pada penggunaan pakan. Ia menggunakan pakan khusus untuk bandeng produksi PT Citra Mandiri Kencana (CMK).

Menurut Manajer Pemasaran PT CMK, Iis Sutisna, pakan itu sengaja diformulasikan khusus untuk bandeng. Tujuannya memenuhi harapan petani untuk menghasilkan bandeng yang cepat tumbuh. Menurut Erik Sutikno dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah, panen 3 bulan dengan ukuran sekilogram isi 4 tergolong cepat.

“Petambak biasanya memanen bandeng berumur 6 bulan. Bahkan, di daerah miskin hara umur panen sampai 7 bulan,” ujarnya. Erik menjelaskan,  bandeng tergolong omnivor alias pemakan segala sehingga dengan pakan alami berupa klekap pun mampu tumbuh. “Bandeng tergolong ikan pemakan segala, sehingga petambak cukup mengandalkan pakan alami,” ujar Sutisna sepakat.

Baca juga:  Berkebun di Mana Saja Bisa

Sayangnya, jika hanya mengandalkan pakan alami waktu panen bandeng relatif lama. Oleh karena itu petambak bisa memberikan pakan tambahan. Erik menjelaskan, agar pertumbuhan bandeng cepat, pakan sebaiknya mengandung protein 25—28% untuk pembesaran, sedangkan pembibitan 30%. Sementara karbohidrat 35—40%. “Kandungan protein dapat diturunkan, tetapi sebaiknya diberi enzim tambahan untuk mempercepat pertumbuhan bandeng,” ujar Erik.

Bandeng hasil panen ditimbang, dimasukkan ke dalam drum, dan siap dikirim ke pasar

Bandeng hasil panen ditimbang, dimasukkan ke dalam drum, dan siap dikirim ke pasar

Lebih untung
Djuli memberikan pakan dua kali sehari, pukul 10.00 dan 14.00. Ia menyebarkan pakan ke petakan tertentu dan bandeng pun akan mencari pakan. Usai penebaran, pakan mengambang di atas permukaan air dan dengan segera bandeng menyergap pakan-pakan itu. Total kebutuhan pakan 2 ton per ha dalam satu periode budidaya. Selain pertumbuhan cepat, keunggulan lain menggunakan pakan khusus yakni rasa lebih gurih.

Penampilan bandeng juga terlihat lebih berisi di bagian punggung. Budidaya bandeng ala Djuli pada dasarnya sama seperti petambak lain. Djuli mengangkat lumpur di tambak. Lalu menyemprotkan pestisida untuk mengendalikan ikan predator seperti kepiting dan berang-berang. Setelah itu ia menjemur lahan selama 3—7 hari dan mengalirkan air ke tambak. Ia menaburkan 200 kg Urea per ha. Sepekan kemudian ia menambahkan air hingga 50 cm.

Pemberian pakan dua kali sehari, pukul 10.00 dan 14.00

Pemberian pakan dua kali sehari, pukul 10.00 dan 14.00

Penebaran 4.000 bibit berukuran 6—7 cm per ha. “Jika kepadatan terlalu tinggi berisiko kematian,” ujarnya. Semula pria berusia 44 tahun itu menebar 6.000 bibit per ha. Lantaran kepadatan terlalu tinggi, nener atau bibit bandeng mati serempak lalu mengambang. Djuli pun mengurangi kepadatan bibit menjadi 4.000 ekor. Kini tingkat kelulusan hidup mencapai 90%. Biaya produksi Djuli mencapai Rp12-juta per ha.

Baca juga:  Bandeng-Rumput Laut Sekolam

Adapun petambak yang membudidayakan bandeng secara alami, tanpa pemberian pakan, mengeluarkan biaya Rp3-juta per ha. Namun, masa panen mencapai 7 bulan dengan produksi 700—800 kg per ha. Artinya produksi bandeng di tambak Djuli 200—300 kg lebih banyak. Dengan harga jual Rp18.000 per kg, selisih produksi itu setara Rp36-juta—Rp54-juta. Meski mengeluarkan biaya pakan yang relatif besar, Duli tetap dapat meraup untung lebih besar dan waktu budidaya singkat.

Pria 44 tahun itu semula juga menerapkan budidaya bandeng alami, hanya mengandalkan klekap sebagai pakan. Namun, karena panen terlalu lama dan ukuran bandeng relatif kecil, ia beralih menggunakan pakan khusus pada 2003. Ia mencoba beberapa produk pakan pabrikan. Namun, menemukan pakan yang tepat untuk bandeng relatif sulit. Pada 2006 baru ia menemukan pakan yang tepat untuk bandeng. Dengan pemberian pakan yang tepat bandeng pun panen cepat (Desi Sayyidati Rahimah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *