Buah Tapal Batas: Elok Rupa dan Rasa

Buah Tapal Batas: Elok Rupa dan Rasa 1
Saat muda buah mentawak sebagai camilan, saat matang buah meja

Saat muda buah mentawak sebagai camilan, saat matang buah meja

Para pembeli mengerumuni lapak milik Aisah di pasar Balaikarangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Seorang pembeli memilih buah dua kepalan tangan, lalu menyerahkannya kepada Aisah. Perempuan pedagang itu lantas menghunjamkan pisau di permukaan buah yang tergenggam di tangan kiri. Hunjaman itu membuat daging buah yang tertutup kulit tebal dan berduri lembut itu terlihat. Bagian dalam buah mirip nangka, yakni terdapat dami dan nyamplung buah.

Aisah mencomot sebuah nyamplung buah seukuran kelereng berwarna jingga, lalu memberikannya kepada si pembeli, perempuan separuh baya. Ia mengunyah sesaat, lalu mengangguk pertanda jadi membeli buah yang dibelah itu. Aisah menjual buah itu dengan harga Rp3.000—Rp5.000 per buah, tergantung ukuran. Trubus yang melihat adegan itu penasaran sehingga ikut mencicip buah itu. Saat digigit daging buah terasa renyah seperti ubi jalar mentah. “Daging buah terasa renyah karena buah muda,” ujar Aisah.

Biji buah meranti rebus kerap menjadi suguhan sebagai camilan

Biji buah meranti rebus kerap menjadi suguhan sebagai camilan

Warga Desa Balaikarangan di tapal batas Indonesia dan Malaysia menyebut buah itu mentawak. Aisah menuturkan warga di sana lebih suka mengonsumsi mentawak muda sebagai camilan. “Bijinya juga enak kalau direbus atau disangrai,” ujar Aisah. Jika dibiarkan matang daging buah menjadi lembek dan berair, persis seperti cempedak Artocarpus cempeden. Rasanya manis dan masam sehingga menyegarkan. Ahli botani di Kota Bogor, Jawa Barat, Gregori Garnadi Hambali, menduga buah itu adalah Artocarpus rigidus.

Pohon anggota famili Moraceae itu ternyata tak hanya tumbuh di Pulau Kalimantan. Peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Yohanes Purwanto, menemukan tanaman kerabat nangka itu saat melakukan eksplorasi ke Sungai Tapa, sekitar 3 jam dari Kota Jambi, Provinsi Jambi. Di sana PT Wirakarya Sakti yang mengelola hutan tanaman industri menyisakan beberapa hektar lahan sebagai hutan konservasi.

Asam putar salah satu kerabat mangga

Asam putar salah satu kerabat mangga

Menurut Yohanes masyarakat Jawa dan Sunda menyebutnya buah mandalika. Pohon yang tingginya mencapai 20 m itu berkulit kasar dan kadang-kadang bersisik. Getahnya yang lengket kerap dimanfaatkan untuk membatik setelah dicampur dengan malam. Masyarakat Palembang, Sumatera Selatan, menggunakannya sebagai bahan pencuci luka binatang peliharaan. Bunga cempunik—sebutan lainnya—muncul soliter di batang pokok.

Dalam sekali pembungaan biasanya hanya 4 buah tumbuh menjadi buah matang. Buah berbentuk lonjong itu juga menjadi bahan sayuran ketika muda. Ketika matang, fungsi mentawak menjadi buah meja berwarna kuning emas, manis, dan sangat harum. Di hutan buah itu menjadi santapan kera. Sementara itu masyarakat  Balaikarangan juga mengonsumsi rebusan biji cempunik yang tunggal. Sayangnya cempunik alias mentawak kini semakin langka.

Mentawak di Balaikarangan hingga kini masih lestari. Pohon itu  tumbuh di halaman depan atau belakang rumah warga. Beberapa pohon juga tumbuh di tepi jalan, seperti tampak saat perjalanan dari Desa Balaikarangan ke Desa Sotok, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, sekitar 30 menit perjalanan bermobil. Pohon mentawak tumbuh menjulang hingga ketinggian mencapai  25 m dan tengah berbuah lebat. Menurut warga Desa Sotok, Makarius, musim buah mentawak biasanya bersamaan dengan musim durian yakni pada Desember—Februari.

Rambutan berambut pendek, diduga varian maritam

Rambutan berambut pendek, diduga varian maritam

Saat musim buah banyak lapak di pasar Balaikarangan yang menjual buah mentawak. Pasar Balaikarangan ibarat galeri buah-buahan eksotis. Selain mentawak, para pedagang juga menjajakan buah meranti. Meranti yang dimaksud bukanlah meranti Shorea sp yang sohor sebagai penghasil kayu. Menurut Greg Hambali kemungkinan buah meranti itu adalah Ostodes paniculata. “Tidak jelas alasan warga Balaikarangan menyebutnya buah meranti,” kata penjelajah buah eksotis asal Pontianak, Kalimantan Barat, Dedi Damhudi.

Baca juga:  Hemat Biaya Listrik 10%

Ciri khas meranti terlihat dari kulit buah yang terlihat keriput, tetapi keras sehingga mesti dipecahkan dengan cara ditumbuk untuk mendapatkan biji. Menurut Dedi masyarakat memang mengonsumsi biji buah meranti. Penangkar buah asal Pontianak, Simbul Haryadi, menuturkan mereka merebus biji meranti baru kemudian mengonsumsinya. Camat Sekayam, Niriu SSos menghidangkan biji buah meranti rebus saat Trubus berkunjung ke kediamannya. Kita mesti memecahkan kulit biji berwarna hitam dengan menggigitnya.

Buah pekawai, salah satu varian Durio kutejensis

Buah pekawai, salah satu varian Durio kutejensis

Setelah kulit pecah,  barulah kita  mengupas hingga tampak daging biji berwarna putih yang siap santap. Rasanya renyah dan gurih beraroma seperti kemiri. Di kebun durian milik Sa’id di tepi Sungai Sekayam, misalnya, tumbuh pohon meranti. “Ciri khas daun ostodes berwarna perak pada bagian bawah daun,” ujar Greg. Meranti berbuah sepanjang tahun. Itulah sebabnya biji buah meranti selalu tersedia di lapak-lapak pasar. Harga sekantung plastik berisi sekitar 250 g biji meranti rebus hanya Rp3.000.

Buah eksotis lain yang tumbuh di belantara tapal batas Indonesia dan Malaysia itu adalah rambutan berambut pendek, kaku, dan berwarna merah. Daging buah lembek dan berair seperti rambutan gelong. Rasanya manis menyegarkan. Greg Hambali menduga rambutan itu merupakan varian maritam Nephelium mutabile. Kerabat rambutan itu mudah dijumpai di Pulau Kalimantan. Trubus juga menjumpai tanaman anggota famili Sapindaceae itu saat berkunjung ke Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Asam paya alias kelubi, kerabat salak yang kerap dibuat manisan

Asam paya alias kelubi, kerabat salak yang kerap dibuat manisan

Ada lagi buah asam putar. Yang dimaksud bukanlah asam Tamarindus indica yang kerap digunakan untuk bumbu masakan. Di Pulau Kalimantan sebutan asam biasanya merujuk pada kerabat mangga-manggaan atau anggota famili Anacardiaceae. Sebutan putar di belakang nama asam karena untuk mengonsumsi buah itu dengan cara mengerat melingkar pada bagian tengah buah hingga bilah pisau mengenai bagian biji. Setelah itu putar kedua ujung buah dengan arah berlawanan, lalu cabut hingga kedua bagian buah terpisah.

Daging buah pun siap konsumsi dengan cara disendok. Sementara bagian yang ada biji bisa digerogot. Sayangnya daging buah berserat kasar sehingga saat dikonsumsi seratnya mesti dibuang. Rasanya juga masam. Ahli botani kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, keturunan Belanda, Dr André Joseph Guillaume Henri ‘Doc’ Kostermans, memberi nama spesies mangga itu Mangifera torquenda. Kerabat binjai itu salah satu jenis mangga yang ia temukan di bumi khatulistiwa.

Baca juga:  Warisan Kipas Pearsonii

Pulau Kalimantan memiliki keragaman jenis mangga-manggaan yang sangat tinggi. Kostermans dan Bompard dalam “Flora Malesiana” menyebutkan di Kalimantan terdapat 24 jenis mangga di antara 40 jenis di dunia. Di pasar ibukota kecamatan yang berbatasan dengan Malaysia itu peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Panca Jarot SP MSi,  yang turut bereksplorasi juga menemukan pekawai. Penampilannya mirip durian, tetapi berukuran mungil.

Panca Jarot Santosa (berkopiah), periset Balitbu di kedai penjual pekawai di Pasar Balaikarangan

Panca Jarot Santosa (berkopiah), periset Balitbu di kedai penjual pekawai di Pasar Balaikarangan

Greg Hambali menduga pekawai adalah Durio kutejensis. Nama spesies itu sama dengan lai, spesies durian yang dikenal berdaging jingga mentereng yang aromanya tidak setajam durian. Namun, penampilan pekawai berbeda dengan lai. Pekawai cenderung bulat, sedangkan lai cenderung lonjong. “Ciri khas kutejensis terlihat dari kelopak yang masih tersisa di pangkal buah meski buah sudah matang,” kata Greg.

Di belakang Pasar Balaikarangan, tak disangka Panca Jarot juga menemukan pohon buah eksotis lain, yakni matakucing yang tengah berbuah lebat. Ciri khas varian lengkeng Dimocarpus longan itu di permukaan kulit buah terdapat benjolan sehingga tampak seperti duri-duri tumpul saat buah masih muda. Saat matang benjolan pada kulit buah itu hilang, lalu berubah menjadi totol-totol kasar. Sementara daging buah mirip lengkeng, yaitu bening. Namun, daging buah tipis dan berair. Rasanya sangat manis.

Ihau—sebutan lain matakucing—tersebar di Pulau Kalimantan. Kerabat rambutan itu juga banyak tumbuh di desa-desa di sepanjang Sungai Kayan: Tanjungpalas, Penisir, Penjalin, dan Antutan, Kalimantan Timur. Di sana ratusan pohon ihau tampak menjulang hingga 30—50 m. Namun, menurut peneliti Pusat Kajian Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor (PKHT IPB), Prof Dr Roedhy Purwanto,  matakucing tak layak jual sebagai buah komersial karena terlalu manis dan basah. Bila diperbanyak menggunakan teknologi kultur jaringan, kadar air yang tinggi bisa direduksi.

Aneka buah eksotis yang ditemukan di kecamatan yang terkenal sebagai surganya durian enak itu menjadi bukti bahwa keragaman tanaman buah di sana sangat tinggi dan masih lestari. Beberapa jenis buah langka bahkan tumbuh di halaman-halaman rumah. Salah satunya buah kerumi yang tubuh di sebuah halaman  rumah di Desa Sotok, Kecamatan Sekayam. Sosok buahnya mirip mahkota dewa dan berwarna merah. Greg Hambali menduga kerumi adalah Lepisanthes alata. Warga Desa Sotok mengonsumsi biji kerumi untuk camilan seperti kacang.

Matakucing atau ihau, salah satu kerabat lengkeng yang sangat manis

Matakucing atau ihau, salah satu kerabat lengkeng yang sangat manis

Dalam perjalanan pulang dari Balaikarangan, Panca Jarot juga menjumpai pedagang buah yang menjual buah unik mirip salak. Ukuran buah mungil, seukuran buah duku. Uniknya, meski mirip salak, tapi buahnya bersepta tunggal. Sementara salak biasanya terdiri atas tiga septa. Greg menduga itu adalah asam paya Eleiodoxa conferta. Di Pulau Bangka, kelubi—sebutan lainnya—kerap dibuat asinan atau manisan karena rasa buah segar sangat masam.

Menurut Greg Hambali keragaman jenis buah di Kecamatan Sekayam dan sekitarnya wajib dilestarikan agar tidak punah. “Sekarang mungkin masih lestari karena di sana budaya mengonsumsi buah lokal masih terjaga. Namun, sampai kapan budaya itu bisa bertahan?” ujarnya. Oleh karena itu upaya penangkaran buah endemik mesti dirintis dari sekarang. “Jika tidak aneka jenis buah endemik itu akan punah seiring hilangnya budaya mengonsumsi buah lokal akibat modernisasi,” kata alumnus Universitas Birmingham, Inggris, itu. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x