Getah dari daun tin mampu membantu penyembuhan gangrene.

Getah dari daun tin mampu membantu penyembuhan gangrene.

Getah tin mempercepat penyembuhan luka gangren pada diabetesi.

Kadar gula darah mencapai 500 mg/dl membuat dokter memvonis Sri Sumarah menderita diabetes mellitus. Sri pun memutuskan pensiun dini sebagai pengajar. Untuk mengobati diabetesnya, ia menggunakan pengobatan medis sekaligus memperbaiki dan menjaga pola makan. Namun sewindu pascavonis diabetes, muncul luka di telapak kaki kanan bungsu dari 3 bersaudara itu. Luka yang muncul pada pertengahan 2016 itu tak kunjung sembuh. Malah setelah tiga bulan semakin melebar dan dalam seukuran kelereng.

Kondisi kaki wanita 64 tahun itu pun membengkak, berwarna kehitaman, saraf perasa di bagian kaki pun menjadi kurang peka. Kondisi itu membuat Sri mengalami kesulitan berjalan. Sang suami, Asmuni, berupaya mencari kesembuhan. Dari seorang terapis Asmuni mendapat saran menggunakan getah tanaman tin untuk menyembuhkan luka gangren.

Infeksi
Menurut dokter dan apiterapis di Kebayoran, Jakarta Selatan,  Dr. H. Hafuan Lutfie MBA, diabetes mellitus disebabkan oleh gaya hidup yang salah. Gaya hidup seperti kurang olahraga, asupan makanan yang tidak baik dan tidak terkontrol dapat memicu diabetes mellitus. Kebiasaan dalam keluarga juga berpengaruh. “Misalnya orang tua mempunyai pola makan yang tidak memperhatikan nutrisi sehingga menderita diabetes. Karena menggunakan pola hidup dan makan yang sama, anaknya pun dapat menjadi penderita diabetes,” kata Lutfie.

Teh daun tin membantu menurunkan kadar gula darah

Teh daun tin membantu menurunkan kadar gula darah

Menurut dokter alumnus Universitas Sriwijaya itu, luka tak kunjung sembuh alias gangren pada penderita diabetes terbentuk karena adanya luka yang terinfeksi bakteri. Pada diabetesi aliran darah untuk mengirimkan nutrisi ke bagian yang luka untuk penyembuhan terhambat. Akibatnya pembentukan jaringan baru pun terhambat dan menyebabkan gangren atau jaringan membusuk.

Baca juga:  Pilihan Pekebun Tin

Demi kesembuhan sang istri, Asmuni segera mencari tanaman tin. Ia akhirnya mendapatkan tin dari Priyo Catur Pamungkas, penyedia bibit tin di daerah Godean, Yogyakarta. Priyo dengan senang hati memberikan bibit dan daun tin gratis untuk pengobatan Sri, bahkan mempersilakan kembali lagi bila persediaan habis. Asmuni kemudian meneteskan getah daun tin ke luka gangren yang diderita istrinya. Penggunaannya hanya sedikit, cukup dioleskan merata pada permukaan luka. ”Gunakan 1 lembar daun berukuran besar atau 2—3 daun berukuran kecil,” kata Asmuni.

Beberapa saat setelah ditetesi getah tin, Sri merasakan seperti kesemutan di sekitar luka tadi. Tiba-tiba darah kotor berbau kurang sedap keluar dari luka itu dalam jumlah banyak. “Rasanya seperti darah tersedot keluar,” kata Sri. Sejak itu, setiap hari Sri meneteskan getah dari daun tin ke luka di kakinya. Berselang 3 hari, lukanya membaik dan muncul lapisan putih tipis menutupi luka gangrennya. Cairan yang keluar dari luka pun tinggal sedikit dan tidak berbau. Yang lebih menggembirakan, Sri dapat berjalan kembali walaupun harus perlahan dan hati-hati. Satu bulan sejak pertamakali menggunakan getah daun tin, luka gangrennya sudah tertutup dan rata dengan permukaan telapak kakinya. Kaki yang tadinya menghitam sudah kembali putih. Saraf perasa di telapak kakinya pun sudah kembali normal.

Sri Sumarah menyembuhkan luka gangren menggunakan getah daun tin.

Sri Sumarah menyembuhkan luka gangren menggunakan getah daun tin.

Berbarengan dengan terapi itu Sri mengonsumsi teh daun tin untuk mengatasi gula darahnya yang tinggi. Sri juga tetap mengonsumsi obat medis. Konsumsi teh daun tin 2 kali sehari pagi dan sore sebanyak 1 gelas yang didapat dengan menyeduh teh celup daun tin. Dengan kombinasi itu, kondisi gula darah Sri kini stabil di kisaran 180 mg/dl.

Baca juga:  Melukis Dewi di Atas Sawah

Menurut ahli akupuntur dan ramuan herbal di Taman Sringanis, Kota Bogor, Joko Sukisno, tanaman tin berkhasiat untuk pengobatan gula darah tinggi dan gangren. Sebab getah tin bersifat antiseptik dan antibiotik. Menurut Joko, gangren terjadi karena adanya luka yang tidak segera sembuh oleh sistem tubuh lantaran pasokan nutrisi dan oksigen kurang. Hal itu karena tingginya kandungan gula dalam darah. Kondisi itu diperburuk dengan adanya infeksi di luka yang tidak dapat diatasi sel darah putih. Penggunaan antibiotik kimia yang terlalu tinggi dosisnya malah memperparah nekrosis yang terjadi.

Kisah Sri yang sembuh gangren menggunakan getah daun tin diberitakan oleh Priyo di media sosial dan mendapat respon luar biasa. Banyak temannya ikut membagikan kabar itu dan mencoba keampuhan getah daun tin. “Terakhir, ada yang mengabarkan kesembuhan gangrennya setelah mengoles dengan getah tin,” kata Priyo.

Minyak zaitun berkhasiat antibiotik.

Minyak zaitun berkhasiat antibiotik.

Hal itu selaras dengan penelitian Imam Syafi’I dari Program Studi Kimia Universitas Negeri Semarang. Ia melakukan penelitian menggunakan bubuk daun kering tanaman tin. Aktivitas antimikrob ekstrak diuji secara invitro terhadap 2 spesies bakteri yaitu Bacillus subtilis dan Escherichia coli dengan metode difusi cawan piring. Hasilnya, daya antimikrob ekstrak metanol daun tin lebih efektif ketimbang ekstrak eter. Dengan begitu dapat disimpulkan daun tin dapat berfungsi sebagai antibiotik yang berfungsi mengendalikan bakteri patogen.

Minyak kelapa dapat menurunkan kadar gula darah.

Minyak kelapa dapat menurunkan kadar gula darah.

Menurut Joko selain tin, herbal lain untuk mengatasi gangren yakni minyak kelapa dan zaitun. Dengan konsumsi minyak kelapa atau minyak zaitun kadar gula darah akan turun. Aktivitas sel darah putih pun meningkat sehingga mampu menangkal dan mengatasi infeksi di tubuh. Bahan bahan itu juga mengandung vitamin A, E, dan nutrisi yang baik untuk memperbaiki kerusakan sel. (Muhammad Awaluddin)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d