Buah Merah Papua Kini Berbuah di Kediri

Buah Merah Papua Kini Berbuah di Kediri 1

Buah merah papua tumbuh subur dan berbuah lebat di Kediri, Jawa Timur.

Tanaman anggota famili Pandanaceae itu berasal dari Papua. Pada 2005 tanaman itu naik daun sebagai herbal kaya antioksidan. Periset dari Institut Pertanian Bogor, Drs. I Made Budi, M.S. membuktikan bahwa buah merah mengandung antioksidan.

Pandan setinggi 2,4 meter itu menarik perhatian para tetangga Mat Usman Kamdari. Musababnya, buah-buah sepanjang hampir satu meter menyembul di antara dedaunan. Warnanya merah mencolok, amat kontras dengan hijau daun. Jumlahnya bukan satu atau dua, tetapi lima buah.

Tetangga Usman di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, itu kerap datang dan memandangi buah Pandanus conoideus. Harap mafhum, buah merah bukan tanaman khas Kediri.

Periset gizi Prof. Dr. Muhilal pernah meneliti kekurangan vitamin A di Papua yang jauh lebih kecil ketimbang di Jawa sekalipun. Itu karena masyarakat Papua terbiasa menyantap buah merah yang mengandung 700 ppm betakaroten.

Pewarna pakaian

Buah merah berbuah di Kediri amat menarik. Pasalnya, beberapa orang yang menanamnya di Jawa belum berhasil membuahkan. Di kebun koleksi plasma nutfah milik Gregori Garnadi Hambali di Kota Bogor, Jawa Barat, misalnya, buah merah juga tak kunjung berbuah. Apalagi tanaman di halaman Usman berumur tiga tahun itu juga produktif, menghasilkan 10 buah.

Usman mengatakan, tanaman magori atau berbuah perdana ketika berumur setahun. Ketika itu hanya menghasilkan satu buah. Produksi meningkat pada pembuahan kedua, setahun berselang. Tanaman menghasilkan tiga buah.

Pada April 2018, saat tanaman berumur tiga tahun memunculkan 10 buah. Warga berdatangan ke rumah Mat Usman Kamdari karena penasaran dengan bentuk buahnya yang unik sementara tanaman mirip pandan di pinggir sungai. Pria 74 tahun itu menuturkan, “Saya tertarik menanamnya setelah melihat daun mudanya yang cantik. Bentuknya seperti spiral dan meliuk-liuk.”

Tamam Muslih, Mat Usman Kamdari, dan Subandi memagang buah merah hasil panen di halaman.

Tamam Muslih, Mat Usman Kamdari, dan Subandi memagang buah merah hasil panen di halaman.

Usman Kamdari mendapatkan bibit buah merah dari penangkar di Kediri, Tamam Muslih. Sementara itu Tamam mendapatkan bibit dari seorang dosen di Papua yang pulang kampung ke Kediri. “Saya mendapatkan satu bibit berupa anakan setinggi satu meter,” ujar Taman. Ia menanam bibit itu bermedia tanah. Tanpa pupuk kandang dan pupuk kimia.

Baca juga:  Maitake Manjur Atasi Alergi

“Saya dapat cerita kalau di Papua sana, buah merah tumbuh begitu saja. Jadi waktu saya tanam di sini tidak saya beri pupuk, hanya media tanah,” ujar Tamam.

Tanaman buah merah di kebun Tamam tumbuh subur dan muncul anakan di sekitarnya. “Buah merah di kebun saya belum sempat berbuah, tetapi sudah muncul anakan. Anakan itulah yang kemudian Kamdari beli dan tanam di halaman rumahnya tiga tahun silam,” ujar Tamam.

Kamdari membeli bibit buah merah dari Tamam Rp300.000. Kakek 12 cucu itu memperlakukan buah merah di halaman rumahnya seperti Tamam, tanpa pupuk sama sekali.

Pohon buah merah berumur kurang lebih 3—4 tahun.

Pohon buah merah berumur kurang lebih 3—4 tahun.

“Paling hanya saya siram waktu tanahnya terlihat kering,” ujar Usman. Namun, perlakuan yang sama itu menghasilkan kondisi tanaman yang berbeda. Di halaman rumah Usman, buah merah tumbuh subur dan berbuah lebat. Usman pernah merebus buah merah itu tetapi jadi lengket-lengket.

Permintaan bibit

Masyarakat Papua mengolah buah merah dengan cara mengempa hingga keluaran cairan berwarna merah pekat. Cairan itulah yang terbukti secara empiris mengatasi beragam penyakit. Meski terbukti berkhasiat, konsumsi buah merah harus sangat hati-hati.

Herbalis di Kotamadya Batu, Jawa Timur, Wahyu Suprapto, menuturkan konsumsi buah merah sebagai herbal harus hati-hati dan butuh pengetahuan lebih banyak dibandingkan dengan herbal dari pulau Jawa seperti jahe, kencur, dan kunyit.

Anakan atau bibit buah merah.

Anakan atau bibit buah merah.

“Konsumsi buah merah dosisnya harus pas karena kalau kebanyakan malah bisa membahayakan kesehatan. Berbeda halnya dengan herbal dari pulau Jawa, misalnya jahe. Untuk mengonsumsi jahe, dosisnya lebih fleksibel,” ujar Wahyu yang juga mengajar di Jurusan Obat Tradisional di Universitas Airlangga.

Baca juga:  Sim salabim data pangan

Usman menjual buah merah ke pasar Kediri, Jawa Timur. Ia melepas buah merah sepanjang kurang lebih semester Rp150.000—Rp200.000 per buah.

Butuh tangga untuk memanen buah merah.

Butuh tangga untuk memanen buah merah.

Tanaman di halaman rumahnya menghasilkan banyak bibit yang tumbuh di permukaan tanah. Ia memotongbibit itu dan memindahkannya ke polibag. “Bibitnya sudah saya jual ke beberapa teman dan saudara di Blitar, Nganjuk, hingga Banten. Bibitnya saya jual Rp200.000,” ujar Usman.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
4 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
4
0
Would love your thoughts, please comment.x