Bonsai cherry berbunga dekat bebatuan melambangkan gairah dan semangat.

Bonsai cherry berbunga dekat bebatuan melambangkan gairah dan semangat.

Puisi kuno berumur 600 tahun menginspirasi Yamada Kaori untuk membuat bonsai nan elok.

Lobi utama Omiya Bonsai Art Museum penuh sesak. Puluhan pengunjung berusia remaja, muda, dan tua asyik menikmati keindahan bonsai sakura bergaya tertiup angin. Angin mengempas puluhan ranting pohon itu sehingga seolah melambai-lambai. Tajuknya kian indah dengan ratusan mata tunas bunga siap mekar menyambut musim semi Jepang yang jatuh pada April 2015.

“Pengunjung diajak membayangkan sosok sakura ini beberapa pekan ke depan,” kata Brad Semans, penerjemah asal Amerika Serikat, berkisah kepada 20 pengunjung khusus berbahasa Inggris. Tentu dalam dua pekan ke depan bonsai karya Yamada Kaori berjudul shidare zakura itu bakal banjir bunga. Bonsai sakura, menurut Kaori, mengajak pemiliknya menghargai setiap fase kehidupan.

Bonsai tanpa daun menggambarkan musim semi dan musim gugur.

Bonsai tanpa daun menggambarkan musim semi dan musim gugur.

Miniatur alam
Empat fase kehidupan itu adalah tumbuh, mekar, gugur, dan tumbuh kembali dalam putaran waktu 4 musim di Jepang. Benar saja pada April 2015 karya Kaori menjadi daya tarik utama museum. “Lazimnya bonsai cherry bergaya tegak dengan sosok medium. Ini benar-benar mungil, bergaya cascade (tertiup angin, Red), juga bertabur bunga layaknya di alam bebas,” kata Rumiko Ishida, kurator museum.

Sejatinya cherry dan sakura—sebagai bunga potong atau tanaman hias pot—sudah akrab di masyarakat Jepang. Mereka tersedia di toko bunga di setiap pusat belanja kota. Bedanya sosok yang dijual bebas mirip potongan ranting bertabur bunga ketimbang pohon utuh yang muncul pada karya Kaori. Pohon bertabur bunga memang menjadi salah satu ciri khas karya Yamada Kaori.

Cemara dan bambu simbol membersihkan pikiran jahat dan gelap.

Cemara dan bambu simbol membersihkan pikiran jahat dan gelap.

“Kecantikan bunga mudah ditangkap oleh anak muda,” kata generasi ke-5 pemilik Nurseri Bonsai Seiko-en itu. Oleh karena itu Kaori kerap menghadirkan bunga dalam setiap karya meski tak melulu berasal dari tanaman utama. Sebut saja bonsai kohauchiwa maple yang terkenal daunnya berubah merah pada musim gugur. Kaori menghadirkan kembang dengan menanam rerumputan yang berbunga di bawah tajuk.

Baca juga:  Juara Setelah Mati Cabang

“Publik Jepang menyebut karya Nurseri Seiko sebagai saika style,” kata Brad. Umumnya sepot bonsai terdiri dari tanaman tunggal, sementara saika style menggunakan lebih dari satu tanaman berbeda jenis. Bahkan Kaori berani keluar pakem dengan memasukkan rerumputan ke dalam pot untuk menghadirkan kehidupan di alam nyata. Sejatinya teknik menyatukan beberapa tanaman dalam sebuah pot telah dikenal dalam dunia bonsai, bedanya selama ini penggabungan terdiri dari spesies sejenis.

Cherry bunga pink lambang cinta, mengalahkan kejahatan.

Cherry bunga pink lambang cinta, mengalahkan kejahatan.

Sepuluh esensi
Keberanian Kaori keluar dari pakem bonsai—yang secara tradisional identik dengan tanaman kayu—bukan tanpa dasar. Perempuan alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Rikkyo, Jepang, itu mengobrak-abrik literatur kuno tentang bonsai dari perpustakaan Universitas Kyoto. Ia menemukan sebuah puisi berjudul Bonsan Juttoku dalam literatur yang terbit pada 1351.

Naskah itu mengisahkan sepuluh prinsip dari bonsan. “Dari karakter kanji terlihat jelas. Dahulu namanya bukan bonsai, tetapi bonsan,” kata Kaori. “Bon artinya pot; san berarti gunung,” ujar Kaori sambil menunjukkan kanji bonsan. Secara sederhana bonsan adalah pemandangan pegunungan dalam pot yang diperluas menjadi pemandangan alam dalam pot. Barang kali lebih mirip dengan istilah seni penjing yang juga dikenal di Indonesia.

Sakura di musim semi

Sakura di musim semi

Menurut praktikus bonsai di Jakarta, Robert Steven, penjing adalah bahasa Mandarin yang berarti panorama alam dalam pot atau lebih tepatnya cuplikan alam yang indah dalam pot. Dengan demikian panorama dapat berupa air dan lahan, batu, juga tanaman. Yang disebut terakhir dikenal di Indonesia dan Jepang sebagai bonsai.

Yamada Kaori wanita pebonsai asal Jepang.

Yamada Kaori wanita pebonsai asal Jepang.

Menurut Kaori di Tiongkok pada masa silam sering kali seniman bonsai adalah pelukis dan pujangga sehingga karya bonsai juga terinspirasi oleh lukisan dan puisi. “Ketiganya saling mempengaruhi dan merekam perkembangan seni yang lain,” kata Kaori. Maksudnya sering kali karya bonsai tertuang dalam lukisan dan puisi. Sebaliknya, sosok karya bonsai berasal dari inspirasi keindahan alam yang terekam dalam lukisan dan puisi.

Baca juga:  Fulus Besar Kurban

Menurut Robert Steven, upaya Kaori Yamada, mengingatkan kembali esensi bonsai patut diacungi jempol. “Bonsai memang perlu didekatkan dengan generasi muda. Pehobinya juga harus diperluas tidak melulu pria. Soal keindahan bonsai, Indonesia tidak kalah dengan Jepang sehingga usaha Kaori juga perlu diikuti di Indonesia,” kata Robert. Di Jepang saat ini tercatat 3 perempuan pebonsai. (Destika Cahyana, mahasiswa Sekolah Pascasarjana Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Chiba, Jepang dan peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d