Bonsai Taxodium sp berkarakter kokoh dan garang

Bonsai Taxodium sp berkarakter kokoh dan garang

Pameran bonsai terbesar dunia di Quensland, Australia.

Mengenakan kemeja lengan panjang biru dipadu celana panjang abu-abu kecokelatan tak menyulitkan Shinichi Nakajima beraksi. Tangannya cekatan memangkas ranting-ranting Junipernus sp setinggi 50-an cm. Pebonsai asal Tokyo, Jepang, itu membentuknya menjadi bonsai bergaya moyogi atau tanaman tegak tapi berlekuk. Satu atraksi selesai, Nakajima beranjak ke aksi berikutnya.

Tiga pohon setinggi 20—50 cm siap menerima sentuhan pertama Nakajima. Pebonsai kelahiran 1948 itu menggabungkan ketiganya dalam satu pot. Pohon tertinggi berada di tengah, sementara yang lebih pendek di kanan dan kiri dengan posisi agak menjorok. Penggabungan itu menjadikan penampilan ketiganya solid dan berkarakter.

Nikujn Parekh beraksi membentuk saike atau miniatur alam

Nikujn Parekh beraksi membentuk saike atau miniatur alam

Gold Coast
Demonstrasi yang tak kalah menarik dilakukan pebonsai asal India, Nikujn dan Jyoti Parekh. Keduanya menggabungkan beberapa bonsai buxus dengan batu menjadi gaya saike atau miniatur alam. Saike berbeda dengan group planting. Saike menambahkan unsur alam, seperti danau, sungai, atau rumah-rumahan, sementara group planting hanya tanaman.

Tak ketinggalan dari Tiongkok, penampilan pertama oleh Brook Zhau dibantu rekannya membentuk sebuah bonsai Melaleuca iinariifolia. Sementara Chen Wen Juan yang juga seorang artis juga membentuk bonsai yang melekat pada batu dengan pohon cemara. Saya mewakili Indonesia mengerjakan pohon Ficus microcarpa yang masih terlalu liar dan tinggi. Saya bonsai pohon itu dengan gaya miring yang ditanam di sebuah pot lebar.

Brook Zhau dibantu rekannya dari Tiongkok membentuk sebuah bonsai cemara

Brook Zhau dibantu rekannya dari Tiongkok membentuk sebuah bonsai cemara

Para pebonsai itu beraksi dalam ajang pemeran bonsai yang diselenggarakan Bonsai Club International (BCI), sebuah organisasi bonsai internasional terbesar di dunia. Setiap tahun, BCI menyelenggarakan konvension di seluruh penjuru dunia. Pada pameran yang berlangsung 21–24 Agustus 2014 dipilihlah kota Gold Coast, Queensland, Australia. Sebuah kota di pantai timur Australia yang amat elok itu menjadi tempat pameran bertemakan “Sunrise on Australian Bonsai”.

Baca juga:  Cara Pembuatan Cobon Alias Bonsai Kelapa

Terbesar
Pameran bonsai itu terbesar di Australia. Total peserta mencapai 400 orang dari 16 negara seperti Tiongkok, Jepang, Filipina, India, Vietnam, Indonesia, dan Hong Kong. Selain demonstrasi bonsai, peragaan yang tak kalah menarik adalah pembuatan pot istimewa oleh Gong Li Min. Lelaki asal Tiongkok itu membuat pot persegi yang meninggi dari bahan keramik. Pot langsing itu cocok untuk bonsai bergaya cascade atau menggantung. Selain itu, ada pula seminar suiseki oleh Tom Elias, presiden BCI dari Amerika Serikat.

Pameran yang diselenggarakan di aula Surfer Paradise Hotel itu menampilkan 80 bonsai dan 80 suiseki. Sebagaian besar pohon berasal dari negara bagian Queensland, sisanya dari Canberra. Pohon-pohon itu di antaranya beringin, pinus, ulmus, azalea, bugenvil, dan celtis.

Jyoti Parekh pebonsai dari India (kiri), Tonny Bebb (Australia), dan Budi Sulistyo (Indonesia)

Jyoti Parekh pebonsai dari India (kiri), Tonny Bebb (Australia), dan Budi Sulistyo (Indonesia)

Pohon-pohon itu berbatang kokoh, tajuk rimbun dan karakter kulit batang yang terlihat tua. Bougenvil dan azalea juga dianugerahi Tuhan berbunga cantik. Sehingga komposisi batang, tajuk, ranting dan bunga yang tepat akan membuat bonsai itu tampak sempurna.

Yang menarik adalah pohon lokal Australia seperti Taxodium sp. Sejatinya pohon itu bisa tinggi hingga 40 meter dengan diameter batang mencapai 3 meter. Warna batangnya yang abu-abu cokelat sampai merah cokelat memberikan kesan kokoh dan garang.

Terfavorit
Tidak kalah seru adalah lomba desain bonsai secara kelompok. Setiap kelompok beranggota 3 orang. Mula-mula panitia membagikan 3 pohon bahan bonsai untuk semua kelompok.

Ficus rubiginosa

Ficus rubiginosa

Peraturannya sederhana. Saat anggota pertama mendesain, 2 anggota lain berada di belakang panggung. Beberapa menit kemudian, anggota ke-2 menggantikan, sementara anggota ke-1 menunggu di belakang panggung dengan anggota ke-3. Selanjutnya anggota ke-3 menggantikan anggota ke-2. Demikian seterusnya.

Baca juga:  Bonsai ala Valanavis

Kesulitan dari lomba itu adalah desain anggota pertama bisa sama sekali tak dipahami anggota lain, sehingga menimbulkan kebingungan di antara anggota. Grup saya bersama Jyoti Parekh dari India, dan Tonny Bebb dari Australia dianggap sebagai yang terbaik oleh para penonton. Kunci kemenangan kami adalah kedewasaan menilai kemampuan rekan sehingga mampu melanjutkan desain. (Ir Budi Sulistyo, praktikus bonsai di Jakarta)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments