Petani padi di tepi Bengawan Solo masih bisa memanen padi meski saat kemarau.

Petani padi di tepi Bengawan Solo masih bisa memanen padi meski saat kemarau.

Kabupaten Bojonegoro menjadi lumbung pangan nasional.

Saat beberapa sentra padi gagal panen akibat kemarau panjang, Purwadi justru bersuka cita. Dari lahan 4 ha petani padi di Desa Gedongarum Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, itu memanen 44 ton gabah kering panen atau rata-rata 11 ton per hektare. Produksi itu lebih tinggi ketimbang panen sebelumnya yang hanya 9 ton per hektare. Kegembiraan Purwadi semakin memuncak karena menjual gabah Rp5.100 per kg.

“Sejak saya mulai bertani padi pada 1990-an, harga gabah pada musim panen saat ini paling tinggi,” ujarnya. Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Ir Akhmad Jupari MSi, harga jual gabah tinggi karena pasar kekurangan pasokan akibat beberapa sentra gagal panen saat kemarau. Purwadi dan para petani padi lainnya di Kecamatan Kanor dapat memanen padi saat kemarau karena memperoleh pasokan air dari Bengawan Solo.

“Saat ini minyak bumi memang memicu kemajuan luar biasa untuk kota ini. Namun, suatu saat akan habis. Ketika habis, masyarakat harus punya sumber penghasilan lain, salah satunya dari pertanian. Iklim dan letak Bojonegoro sangat mendukung, yakni berada di dataran rendah yang berlimpah sinar matahari dan hujan," kata Bupati Bojonegoro, Drs H Suyoto MSi.

“Saat ini minyak bumi memang memicu kemajuan luar biasa untuk kota ini. Namun, suatu saat akan habis. Ketika habis, masyarakat harus punya sumber penghasilan lain, salah satunya dari pertanian. Iklim dan letak Bojonegoro sangat mendukung, yakni berada di dataran rendah yang berlimpah sinar matahari dan hujan,” kata Bupati Bojonegoro, Drs H Suyoto MSi.

Hanya kemarau
Desa-desa di tepi Bengawan Solo memasang pompa bertenaga listrik untuk menyedot air sungai, lalu mengalirkannya ke sawah. Desa Gedongarum dan Desa Kedungprimpen memiliki lembaga Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA), unit usaha Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Sementara di Desa Gedongarum, HIPPA Tirta Jaya memiliki 4 unit pompa air listrik berkapasitas 10 dim dan 1 unit pompa berkapasitas 8 dim.

Pompa itu menyedot air sungai menuju saluran irigasi primer. Sebanyak 39 unit pompa bertenaga diesel berkapasitas 4, 6, dan 8 dim mempompa air di irigasi primer itu lagi ke saluran irigasi sekunder dan tersier. “Kapasitas pompa disesuaikan dengan luas areal tanam yang akan dialiri,” ujar Kepala Desa Gedongarum, Suherman. Pompa-pompa itu mampu mengairi hingga 503,996 ha sawah.

Dari jumlah areal tanam itu 130 ha di antaranya mengairi sawah di desa tetangga, yaitu Desa Temu dan 8 ha di Desa Pilang, sisanya Desa Gedongarum. Adapun di Desa Kedungprimpen HIPPA Sri Sedani memiliki 2 unit pompa air listrik berkapasitas 12 dim untuk mengalirkan air ke saluran primer dan 20 unit mesin pompa air diesel berkapasitas 6 dim untuk mengalirkan air ke saluran sekunder dan tersier.

Bojonegoro berencana mengembangkan agrosilvopastoral, yakni pemanfaatan tanaman pangan, tanaman kehutanan, dan tanaman pakan ternak.

Bojonegoro berencana mengembangkan agrosilvopastoral, yakni pemanfaatan tanaman pangan, tanaman kehutanan, dan tanaman pakan ternak.

Pompa-pompa itu mampu mengairi 350 ha lahan. Para petani membayar jasa pengairan kepada HIPPA dengan sistem bagi hasil, yaitu sebanyak sepertujuh dari total hasil panen. Jadi, jika petani panen 10 ton per hektar, maka menyerahkan 1,43 ton kepada HIPPA. Pemompaan air Bengawan Solo untuk mengairi sawah sejatinya berlangsung sejak 1990.

Harap mafhum, warga di tepi Bengawan Solo itu hanya bisa bercocok tanam saat kemarau. “Ketika hujan lahan pertanian di Kecamatan Kanor tergenang banjir,” ujar Camat Kanor, Subiyono. Namun, saat kemarau lahan kekurangan air. “Yang bisa tumbuh hanya tembakau dan kenaf,” ujar Jumadi, kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pertanian Kecamatan Kanor.

Baca juga:  Kapulaga untuk Diabetesi

Sayangnya harga tembakau sering tak pasti karena sangat tergantung kualitas ketika panen. Apalagi tanaman anggota famili Solanaceae itu juga baru bisa dipanen setelah berumur setahun. “Menanam padi lebih singkat dan lebih menguntungkan,” ujar Kasmuri, petani padi di Desa Kedungprimpen.

Warga menyedot air dari Bengawan Solo dengan pompa listrik,  lalu dialirkan ke areal tanam padi.

Warga menyedot air dari Bengawan Solo dengan pompa listrik, lalu dialirkan ke areal tanam padi.

Kawasan agropolitan
Pada 2013 HIPPA menjadi unit usaha Bumdes. “Dengan dikelola Bumdes diharapkan pemerintah desa bisa mengumpulkan dana pembangunan desa secara mandiri,” ujar Kepala Bidang Ekonomi, Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bojonegoro, Eryan Dewi Fatmawati SE MM. Dengan pompa penyedot air, maka Bengawan Solo yang semula hanya menjadi sumber bencana kini menjadi sumber berkah.

Ketika beberapa sentra padi kekeringan saat kemarau, petani padi di tepi Bengawan Solo justru panen padi, bahkan dengan harga jual tinggi. Itulah sebabnya Bupati Bojonegoro, Drs Suyoto MSi, optimis visinya menjadikan Kabupaten Bojonegoro sebagai lumbung pangan nasional bakal terwujud. Itu terbukti produksi padi Kabupaten Bojonegoro pada 2014 mencapai 900.000 ton.

Dalam dua tahun terakhir Kabupaten Bojonegoro mengembangkan sentra jamur tiram di Desa Klampok dan Mojodeso, Kecamatan Kapas.

Dalam dua tahun terakhir Kabupaten Bojonegoro mengembangkan sentra jamur tiram di Desa Klampok dan Mojodeso, Kecamatan Kapas.

Produksi itu dua kali lipat kebutuhan Kabupaten Bojonegoro yang hanya 450.000 ton per tahun. “Itu artinya produksi padi Bojonegoro surplus dan mampu memasok kebutuhan padi di luar Bojonegoro,” ujar Ir Akhmad Jupari MSi.

Suyoto kini juga tengah gencar mengembangkan kawasan agropolitan untuk beberapa komoditas unggulan seperti belimbing di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro, pada 2013 populasi belimbing di Kalitidu mencapai 29.605 pohon. Dengan akses jalan yang nyaman berupa paving, desa itu itu kini menjadi tujuan agrowisata.

Di sana para pengunjung memetik sendiri belimbing matang. Setiap tahun Kabupaten Bojonegoro juga menyelenggarakan festival belimbing untuk mempromosikan sentra buah Averrhoa carambola itu (baca: “Buah Bintang Unggulan Bojonegoro” halaman 44—45). Kecamatan Kalitidu juga memiliki sentra jambu biji daging merah, yaitu di Desa Mayanggeneng. Di sanalah Ali Fitron mengebunkan Psidium guajava di lahan 7.500 m2.

Warga lain lalu mengikuti jejak Ali. Data Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro menyebutkan pada 2014 jumlah pohon jambu biji merah yang sudah berproduksi mencapai 27.396 pohon.

Salak wedi, salak endemik Bojonegoro, salah satu komoditas andalan untuk kawasan agrowisata.

Salak wedi, salak endemik Bojonegoro, salah satu komoditas andalan untuk kawasan agrowisata.

Pesaing Nganjuk
Komoditas andalan lain Kabupaten Bojonegoro adalah salak yang berkembang di Desa Wedi, Bendo, dan Tanjungharjo—semua di di Kecamatan Kapas. Menurut pekebun salak di Desa Tanjungharjo, Sutrisno, ada dua jenis salak yang dikembangkan, yakni salak wedi dan salak kerbau. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Bojonegoro hingga 2013 luas areal tanam salak di Kecamatan Kapas mencapai 161,8 ha dengan populasi mencapai 226.400 tanaman.

Dari jumlah populasi itu hasil panen mencapai 1.357,4 ton per musim. “Musim panen raya salak biasanya pada Januari—Februari,” ujar Sutrisno. Menurut Ike Widyaningrum, dari Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kecamatan Kapas, saat ini Kecamatan Kapas tengah dipersiapkan menjadi kawasan agrowisata salak seperti di Desa Ngringinrejo yang menjadi kawasan agrowisata belimbing.

Selain buah-buahan tropis, Bojonegoro juga serius mengembangkan bawang merah. Selama ini sentra bawang merah terkenal di Jawa Timur adalah Kabupaten Nganjuk. Sejak 2004 Bojonegoro menyainginya. Menurut kepala Desa Pajeng, Kecamatan Gondang, Dedy Kristianto, banyak warganya yang semula menanam padi beralih ke bawang merah.

Baca juga:  Hari Pangan Sedunia ke-36: Ajang Pameran Produk Unggul

Saat kemarau mereka menyewakan lahan padi ke petani bawang merah asal Nganjuk. “Lama-kelamaan warga tertarik mengebunkan bawang merah karena lebih menguntungkan,” ujar Suparman, pekebun bawang merah di Desa Pajeng. Baru pada 2004 pekebun bawang merah terus bertambah. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro pada 2014 luas areal tanam bawang merah di Kabupaten Bojonegoro mencapai 1.211 ha.

Areal tanam terluas di Kecamatan Kedungadem, Gondang, dan Sekar. “Kini para tengkulak dari Nganjuk pun berdatangan ke Bojonegoro,” ujar Dedy. Camat Gondang, Ir Heri Widodo MSi, mengatakan pemerintah kecamatan memfasilitasi kebutuhan pekebun untuk mengatasi kendala dalam pengembangan bawang merah. Salah satunya pembuatan gudang-gudang untuk menunda penjualan saat harga bawang terjun bebas.

Dalam dua tahun terakhir jamur tiram juga berkembang di Bojonegoro, terutama di Desa Klampok, Kecamatan Kapas. Suyanto dan 25 petani lain membentuk kelompok tani Karya Tani. Kapasitas produksi petani bervariasi tergantung modal dan lahan yang dimiliki, yaitu 500—5.000 log. “Setiap log menghasilkan 0,5 kg jamur,” ujar Suyanto.

Jambu biji merah komoditas hortikultura yang penanamannya makin luas.

Jambu biji merah komoditas hortikultura yang penanamannya makin luas.

Sapi
Untuk mendukung program pemerintah berswasembada sapi, Kabupaten Bojonegoro gencar mengembangkan hewan ruminansia besar itu. Menurut Kepala Bidang Agribisnis Peternakan, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro, Wiwik Sulistyo SPt MM, populasi sapi di Bojonegoro mencapai 175.000 ekor. Jumlah itu bertambah seiring adanya rencana Bupati mengembangkan agrosilvopastoral, yaitu pemanfaatan kawasan untuk budidaya tanaman pertanian, tanaman kehutanan, dan tanaman pakan ternak.

Untuk meningkatkan pengetahuan para peternak, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) menyelenggarakan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) di tiga kecamatan yaitu Kedungadem, Kasiman, dan Temayang. Menurut guru besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Prof Dr drh Agik Suprayogi MSc, dengan SPR para peternak diharapkan mampu mandiri dan berdaulat dengan memperoleh akses informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penguatan kendali produksi dan pascaproduksi ternak.

Meski baru berjalan setahun, para peternak sapi di Kabupaten Bojonegoro mulai menerapkan beberapa inovasi teknologi. Salah satunya dalam hal pakan. Menurut H Sabad, kepala SPR di Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungadem, sebelumnya para peternak hanya mengandalkan pakan hijauan dari hasil mencari rumput atau umbaran. “Sekarang para peternak sudah bisa membuat cadangan pakan dengan teknik fermentasi,” ujar Sabad. Dengan cara itu peternak tidak lagi kesulitan pakan saat kemarau.

Berbagai kemajuan di bidang pertanian dan peternakan di Kabupaten Bojonegoro membuktikan bahwa warga Bojonegoro tidak terlena dengan sumber energi minyak bumi yang berlimpah. “Saat ini minyak bumi memang memicu kemajuan luar biasa untuk kota ini. Namun, suatu saat akan habis. Ketika habis, masyarakat harus punya sumber penghasilan lain,” tutur Suyoto.

Suyoto fokus mengembangkan dunia pertanian karena iklim dan letak Bojonegoro sangat mendukung, yakni berada di dataran rendah yang berlimpah sinar matahari dan hujan. Menurut Dinas Meteorologi setiap tahun Bojonegoro mendapat 1,4­juta m3 air hujan. Menurut Dinas Pertanian untuk memproduksi 1,5­juta ton gabah kering panen hanya membutuhkan 1­juta m3 air. “Artinya, Bojonegoro mempunyai potensi dan cuaca yang mendukung untuk pertanian, terutama padi dan buah­buahan,” kata Suyoto.

Untuk mewujudkan visi sebagai lumbung pangan nasional, Suyoto juga membuat program pembangunan 1.000 embung untuk menyimpan cadangan air. “Warga juga bisa memanfaatkannya untuk memelihara ikan sehingga asupan gizi masyarakat meningkat,” kata Suyoto. Dinas Pertanian juga aktif memberikan penyuluhan kepada petani melalui berbagai media, seperti pertemuan langsung dengan petani mau pun melalui siaran radio.

“Program penyuluhan melalui radio swasta ini berjalan selama 4 tahun,” ujar Kepala Seksi Sumber Daya Manusia Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Djoko Pudjo Wijono SP. Dengan berbagai upaya itu, Bojonegoro kini tak hanya dikenal sebagai lumbung energi, tapi juga sebagai lumbung pangan nasional. (Imam Wiguna/Peliput: Argohartono Arie Rahardjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d