Bocah Belajar Hidroponik 1
Kunjungan para siswa SDN 138 Pekanbaru di kebun hidroponik Universitas Islam Riau

Kunjungan para siswa SDN 138 Pekanbaru di kebun hidroponik Universitas Islam Riau

Pengenalan hidroponik ke sekolah-sekolah membangun kemandirian pangan sejak dini.

Selvia Geraldine Silaban asyik mengamati daun selada yang tumbuh di atas talang. Siswi kelas 6 Sekolah Dasar Negeri 138 Pekanbaru, Provinsi Riau, itu heran melihat sayuran tumbuh tanpa tanah. Meski orang tua Selvia petani sayuran, sepanjang hidupnya ia baru pertama kali melihat budidaya tanaman anggota famili Brasicaceae itu tanpa tanah atau hidroponik.

Hari itu, Sabtu 7 Februari 2015 Selvia dan rombongan siswa SDN 138 mengunjungi greenhouse Unit Pertanian Kebun Agro Universitas Islam Riau, di Desa Kubang Raya, Kecamatan Siakhulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. “Agar para siswa tidak mengenal pertanian sekadar dari buku saja, tetapi tahu secara fisik dan mempraktikannya,” kata Hasra Isnaldi MPd, kepala sekolah itu.

Hidroponik percontohan Bank Indonesia di Jalan Ronggowarsito, Kecamatan Sail, Kota Pekanbaru, Riau

Hidroponik percontohan Bank Indonesia di Jalan Ronggowarsito, Kecamatan Sail, Kota Pekanbaru, Riau

Baru
Kunjungan itu tentu saja amat menarik bagi para siswa, karena hidroponik masih menjadi hal baru di Pekanbaru. “Selama ini anak-anak tahunya menanam sayuran ya di tanah. Padahal, teknologi pertanian sangat maju sehingga bisa menanam tanpa tanah atau berhidroponik,” kata Isnaldi.

Hidroponik memang sedang tren di bumi Lancang Kuning. Bank Indonesia (BI) wilayah Pekanbaru bersama Komunitas Hidroponik Pekanbaru (KHP) mengampanyekan kemandirian pangan dengan memanfaatkan pekarangan rumah untuk memproduksi sayuran sendiri. “Sistem budidaya yang paling tepat saat ini adalah hidroponik,” ujar Mahdi Muhammad, kepala BI cabang Provinsi Riau dalam sambutan acara penguatan kelembagaan klaster hidroponik oleh BI pada 6 Februari 2015.

Setelah acara itu selesai, BI mengajak Trubus mengunjungi sekolah atau perguruan tinggi yang mengebunkan sayuran berteknologi hidroponik seperti Universitas Islam Riau (UIR). Di sana Trubus melihat para siswa SD 138 memanen sayuran hasil budidaya hidroponik yang benar. Kemudian mereka mengemas hasil panen dengan plastik transparan sehingga cantik dan layak jual.

Baca juga:  Sukses Pijahkan Gabus

Dosen Fakultas Ekonomi UIR, Hasrizal Hasan SE MM, mengungkapkan, antusiasme masyarakat Pekanbaru terhadap sayuarn hidroponik sangat tinggi, terlebih lagi sekolah-sekolah. Itu sejak kebun hidroponik UIR dibuka untuk umum pada akhir Januari 2015. “Para pengunjung ingin tahu tentang hidroponik. Mereka ingin bisa praktik langsung,” ujar Hasrizal Hasan.

Kepala sekolah SMK 2 Pekanbaru, Dra Dwi Gusneli MPSA (berdiri ke-6 dari kiri) optimis mengembangkan hidroponik di sekolah-sekolah

Kepala sekolah SMK 2 Pekanbaru, Dra Dwi Gusneli MPSA (berdiri ke-6 dari kiri) optimis mengembangkan hidroponik di sekolah-sekolah

Buat saja!
Selain sekolah tingkat dasar, pengenalan hidroponik oleh KHP dan BI juga pada sekolah tingkat menengah kejuruan. M Syamsul Munir dari unit Akses Keuangan dan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) BI Pekanbaru mengajak Trubus menemui kepala sekolah SMK 2 Pekanbaru, Dra Dwi Gusneli MPSA. Perempuan kelahiran Kampar 2 Agustus 1965 itu menuturkan, lahan sekolah 2 hektar sesak oleh bangunan.

Itu membuat lingkungan sekolah gersang. “Meski sisa lahan kosong di sekolah sedikit, kami tetap bersemangat untuk berkebun hidroponik,” ujarnya. Menurut Dwi Gusneli, selain sedap dipandang, hidroponik sejalan dengan tema peduli lingkungan yang merupakan salah satu nyawa kurikulum 2013. “Melalui hidroponik, kecintaan anak-anak terhadap lingkungan semakin tinggi,” ujarnya.

Oleh karena itu melalui para guru pembina pramuka, hidroponik mulai dikenalkan ke para siswa di seluruh sekolah Pekanbaru. SMK dengan 15 jurusan itu juga menyiapkan sumber daya manusia untuk mengelola hidroponik. “Untuk unsur hara kami bisa libatkan anak-anak jurusan kimia industri, instalasinya bisa teknik bangunan,” ujarnya. SMK 2 Pekanbaru menjadi tuan rumah pelatihan hidroponik untuk 40-an guru pembina pramuka pada 7 Februari 2015.

Masyarakat perkotaan makin menggemari sayuran hidroponik

Masyarakat perkotaan makin menggemari sayuran hidroponik

Seorang pemateri pelatihan, Masril Koto, motivator nasional asal Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menyampaikan hal terpenting dari pelatihan adalah pelaksanaan. Menurut Masril, banyak para peserta pelatihan hanya semangat saat mengikuti acara. “Setelah sampai di rumah, alat-alat hidroponiknya di taruh di atas lemari. Setelah itu ya lupa,” ujarnya.

Baca juga:  Terpikat Dara Cantik

Tantangan terbesar para pembaharu, misalnya mengenalkan hidroponik di tengah-tengah masyarakat atau para siswa adalah dari orang-orang terdekat. Cemoohan, ledekan, hingga hinaan harus mereka hadapi tanpa putus asa. “Kuncinya di mental, kalau mental kuat maka hasilnya akan terus bergulir hingga mencapai kesuksesan. Jika mental lemah, ya tidak jadi apa-apa,” kata tokoh pertanian di Kecamatan Baso itu.

Sulung delapan bersaudara itu mengungkapkan, satu-satunya cara untuk menguatkan mental yaitu, “Buat saja hidroponiknya, jangan pedulikan omongan orang,” kata Masril. Menurut Masril Koto budidaya tanaman secara hidroponik sejatinya teknologi sederhana. “Kita belum terbiasa saja, sehingga menjadi sulit,” katanya.

Anak-anak SDN 138 Pekanbaru sangat senang mengenal hidroponik. Kepada Trubus Selvia Geraldine Silaban bercerita, cita-citanya ingin mengembangkan hidroponik di seluruh Pekanbaru. “Sayuran hidroponik itu bersih, terbebas dari pestisida dan pupuknya tidak berlebihan,” tutur bungsu 3 bersaudara itu. Dengan mengenalkan hidroponik sedari dini, kecintaan anak-anak terhadap lingkungan ditambah kepedulian terhadap pangan semakin tinggi. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments