575_ 58-7Faldi Adisajana mulai berbisnis saat masih kuliah semester 3 Universitas Padjadjaran. Sebenarnya keluarga besarnya tidak ada yang berbisnis. Ketertarikan Faldi beragribisnis bermula dengan menjadi penjual produk kreatif Grow box alat budidaya jamur tiram praktis. Konsumen tinggal menumbuhkan jamur tiram daloam kotak khusus. Saat itu Faldi salah satu penjual terbaik. Ia bisa menjual 50 boks per pekan. Harga 1 boks Rp75.000. Faldi meraup omzet Rp15 juta per bulan.

Akhirnya ia terpikir untuk berbisnis sendiri. “Kayaknya enak ya kalau punya bisnis sendiri,” kata Faldi. Ia pun mencoba berkreasi dengan tanaman hias. Bersama dengan rekannya Anwar Imannurdin, Faldi Adisajana memanfaatkan kayu palet eks impor sebagai bahan baku untuk membuat pot-pot cantik. Mereka menanam aneka tanaman hias di pot kreasinya itu. Saat hari bebas kendaraan di Dago, Kota Bandung, mereka memasarkan kreasinya itu.

Sayang, respons konsumen masih kurang baik. Tidak ada satu pun 50 pot tanaman itu laku. “Kami kemudian mencari inovasi supaya dagangan terjual,” ujar Faldi. Sepekan kemudian, Faldi menunjukkan film tentang kokedama kepada teman-temannya. Setelah menonton film itu, bersama dengan temannya, mereka pun mempraktikkannya. Namun, dari semua rekannya yang uji coba membuat kokedama, hanya karya Faldi yang paling sempurna.

“Saya sejak kecil memang sering membuat prakarya. Bahkan pernah membuat kerja bersama dengan panti asuhan depan rumah membuat prakarya untuk kemudian dijual,” kenangnya. Jadi membuat kokedama bukan sesuatu yang sulit karena tangannya sudah terampil berkarya. Mereka kemudian berkreasi dengan menambahkan mata, tangan, dan kaki pada bola itu sehingga menjadi boneka lucu.

Faldi mengunggah karya itu di media sosial instagram. Ternyata sambutan dari teman-temannya menggembirakan. Bahkan ada beberapa orang yang tertarik membeli. Sejak itulah ia bersama dengan teman-temannya membuka usaha kokedama dan boneka. Bahkan kini berkembang dengan menerima permintaan dekorasi. Di tengah waktu sibuknya, ia pun sempat mencoba usaha kuliner, berupa sandwich sehat. Namun, usaha itu kemudian ditinggalkan.

Baca juga:  Anjing Seruni

Menurut Faldi, “Keuntungan dari kuliner ternyata kecil, jauh dari tanaman hias yang bisa mencapai 500 persen dari harga pokok produksi.” Sebagai gambaran harga sukulen biasa hanya Rp5.000—Rp10.000. Namun, setelah bersalin rupa menjadi kokedama harganya melambung Rp50.000—Rp75.000. Di tengah kesibukannya berusaha, prestasi akademik Faldi tidak merosot. Bahkan nilainya masih sangat baik dengan meraih predikat cum laude. (Syah Angkasa)

Tags: bola lumut, kokedama

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d