Bisnis Sayuran di Jagat Maya 1
Para pengelola pemasaran daring memanfaatkan teknologi informasi untuk memasarkan beragam komoditas hortikultura.

Para pengelola pemasaran daring memanfaatkan teknologi informasi untuk memasarkan beragam komoditas hortikultura.

Beragam laman dan aplikasi penjualan sayuran dan buah menguntungkan petani sekaligus memudahkan konsumen memperoleh produk berkualitas.

Stefanie Salim mesti bermobil 15 menit ke pasar tradisional untuk membeli aneka sayuran seperti bayam, kangkung, dan sawi putih. Dalam sepekan warga Bekasi Barat, Jawa Barat, itu 3 kali belanja. Namun, sejak September 2016 frekuensi belanja Stefanie di pasar tradisional berkurang menjadi sekali sepekan. Selain itu ia juga memperoleh sayuran organik. Yang paling istimewa Stefanie tidak perlu ke pasar swalayan untuk membeli kebutuhan dapur.

Beragam laman dan aplikasi penyedia produk pertanian daring bermunculan sejak 2014.

Beragam laman dan aplikasi penyedia produk pertanian daring bermunculan sejak 2014.

“Saya menggunakan aplikasi penyedia sayuran organik daring bernama Kecipir,” kata Stefanie. Artinya ia hanya perlu klik pada layar telepon pintar (smartphone) untuk memesan sayuran organik. Lebih praktis dan efisien. Harga pun masih masuk akal bahkan hampir menyamai sayuran konvensional di pasar tradisional. Padahal, yang ia beli sayuran organik.

Bermanfaat ganda

Melalui aplikasi itu juga Stefanie teredukasi pentingnya mengonsumsi sayuran organik. Perempuan kelahiran Jakarta itu kali pertama mengenal Kecipir dari media sosial. Stefanie penasaran lalu mulai berbelanja hingga sekarang. Ia lebih memilih media daring karena ingin mendapatkan sayuran organik dengan harga bersaing. Stefanie juga menjadi agen Kecipir yang beranggotakan 10 orang yang berdomisili di Bekasi Barat dan sekitarnya.

Alur distribusi bermula dari petani yang mengirimkan sayuran ke titik kumpul di Babakanmadang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pekerja di tempat itu menyortir sayuran. Setelah itu pada dini hari pekerja mengantarkan sayuran ke agen sesuai pesanan. Anggota bisa mengambil sayuran pesanan ke agen atau diantar dengan biaya tambahan sekitar Rp15.000 untuk jarak 5 kilometer.

Menurut Stefanie kehadiran para pemasar daring seperti Kecipir membantu pekerja kantoran mendapatkan produk organik berkualitas tanpa pergi ke pasar swalayan atau tradisional. Sejatinya kehadiran Kecipir tidak hanya menguntungkan konsumen, tapi juga petani sayuran organik seperti yang dirasakan Kresna Harimurti di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Baca artikel Menguntungkan Dua Sisi, halaman 46—47).

Tantyo Bangun mendirikan Kecipir agar bisa menjembatani antara petani organik dengan konsumen.

Tantyo Bangun mendirikan Kecipir agar bisa menjembatani antara petani organik dengan konsumen.

Menurut Chief Executive Officer (CEO) Kecipir, Tantyo Bangun, kehadiran aplikasi rintisannya untuk menjembatani antara petani sayuran organik dan konsumen. Tantyo mengamati permintaan sayuran organik ada, produksi mulai berjalan, tapi masyarakat belum merasakannya. Harap mafhum lazimnya petani membudidayakan beragam sayuran organik dengan jumlah produk terbatas per jenis.

Baca juga:  Kelor: Pohon Ajaib Panasea

“Tujuan Kecipir ingin menjadikan sayuran organik menjadi sayuran biasa lagi,” kata pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur. Dengan kata lain memasyarakatkan sayuran organik karena dahulu para orang tua juga mengonsumsi sayuran organik. Alasannya dahulu belum ada pestisida dan pupuk kimia.

Tantyo mengatakan produk Kecipir terbagi atas 3 jenis yaitu sayuran sehat, sayuran organik belum bersertifikat, dan sayuran organik bersertifikat. Konsumen dapat memilih produk sesuai selera. Selain sayuran aplikasi yang berdiri pada 2015 itu juga menyediakan buah, telur, dan daging ayam. Pasokan sayuran berasal dari petani organik di Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Cianjur, semuanya di Jawa Barat.

Membantu

Salah satu kebijakan Kecipir yaitu asal sayuran berjarak sekitar 100 kilometer dari konsumen. Itu berkaitan dengan misi perubahan iklim tentang emisi karbon. Makin jauh asal sayuran, semakin besar emisi karbon yang dihasilkan. “Prinsip kami adalah lokal, organik, dan segar,” kata pria berumur 52 tahun itu. Oleh karena itulah ia hanya menerima pasokan petani dari ketiga wilayah itu.

Sayuran organik dari petani mitra Kecipir.

Sayuran organik dari petani mitra Kecipir.

Petani mitra Kecipir sekitar 30 orang. Jumlah itu meningkat dibandingkan pada 2015 yang hanya kurang dari 10. Sekitar 4 dari 30 petani itu memiliki mitra sendiri sehingga total jenderal Kecipir memiliki 260 petani. Itu bukti Kecipir berkembang. Saat ini terdapat 300-an agen aktif seperti Stefanie tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) yang melayani 3.000—5.000 konsumen.

Kecipir menerapkan sistem agen untuk memudahkan distribusi sayuran. Selain Kecipir, laman penjualan sayuran daring yaitu Regopantes yang diluncurkan pada September 2017. Regopantes bermisi membantu petani mendapatkan harga jual produk yang layak dan pantas. “Caranya petani dan konsumen menanggung biaya produksi dan transportasi bersama,” kata Public Relations PT 8villages Indonesia, pengelola Regopantes, Pebri Pohan.

Selain sayuran, laman dan aplikasi penyedia produk pertanian pun menyediakan aneka buah seperti salak.

Selain sayuran, laman dan aplikasi penyedia produk pertanian pun menyediakan aneka buah seperti salak.

Konsumen bisa memilih produk sesuai kebutuhan di laman Regopantes. Aplikasi inisiasi Wim Prihanto itu menerapkan sistem pengiriman 1 kali per pekan dan 2 kali sepekan tergantung komoditas. Sayuran berasal dari petani di beberapa kabupaten di Jawa Tengah seperti Magelang dan Batang. Pebri mengatakan 3 prinsip utama Regopantes adalah kesadaran kualitas, kesadaran harga pantas, dan kepedulian sosial.

Baca juga:  Panen Sebulan Lebih Cepat

Regopantes mendorong petani meningkatkan kualitas hasil pangan. Tujuannya agar konsumen mendapatkan produk pertanian segar dengan harga lebih rendah dari pasar karena mendapatkan langsung dari petani.

Konsumen yang membeli produk di Regopantes secara tidak langsung membantu petani untuk meningkatkan pendapatan, itulah kepedulian sosial. Keuntungan lainnya yakni konsumen mendapatkan pesanan mereka di rumah. Harga yang terpampang di laman sudah termasuk ongkos kirim.

Berbagi

Di Denpasar, Bali, I Gde Sucahya Jaya dan istri, Putu Dian Andriani, mengembangkan Bali Pick Fresh. Semula Dede—sapaan akrab I Gde Sucahya Jaya—dan istri menjadikan laman Bali Pick Fresh sebagai wadah konsumen membeli sayuran. Namun, kini konsumen mengetahui ketersediaan komoditas pertanian melalui media sosial Facebook dan Instagram.

Shofyan Adi Cahyono menjual sayuran organik secara daring melalui Facebook dan Instagram.

Shofyan Adi Cahyono menjual sayuran organik secara daring melalui Facebook dan Instagram.

Setelah menentukan pilihan, konsumen memesan melalui aplikasi pesan singkat Whatsapp. Mayoritas komoditas Bali Pick Fresh adalah sayuran impor seperti radish red ball, beetroot, dan rucola. Konsumen Bali Pick Fresh antara lain hotel berbintang, restoran, dan perusahaan katering.

Shofyan Adi Cahyono di Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pun memanfaatkan pemasaran daring untuk sayuran produksinya. Pada 2014 Shofyan mendirikan Sayur Organik Merbabu Farm melalui Facebook dan Instagram. “Tujuan saya memanfaatkan media sosial untuk memudahkan penjualan sayuran. Kini hampir semua orang memegang telepon seluler dan itu peluang,” kata Shofyan.

Dugaan pemuda 23 tahun itu tepat. Omzetnya meroket menjadi sekitar Rp60 juta saban bulan, sebelumnya hanya Rp2 juta. Itu hasil penjualan beragam sayuran seperti 1 kuintal kale, 1 ton brokoli, dan 2,5 ton bayam. Kini ia bekerjasama dengan 20 petani mitra di lahan 4 hektare.

Dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Dr. Tomy Perdana, S.P., M.M.

Dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Dr. Tomy Perdana, S.P., M.M.

Dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Dr. Tomy Perdana, S.P., M.M., mengatakan kehadiran aplikasi dan laman penyedia produk pertanian seperti Kecipir dan Regopantes mencuat mulai sekitar 2014. Aplikasi dan laman sejenis lainnya yakni TukangSayur.co, Eragano, dan Limakilo.

Munculnya laman dan aplikasi pemasaran sayuran daring membantu petani di sentra. Manfaat lainnya kehadiran aplikasi dan laman daring itu yakni memangkas rantai pasok sehingga lebih pendek. Selain itu konsumen mendapatkan produk berkualitas dengan harga lebih rendah. Konsumen di perkotaan dengan segala kesibukannya terbantu dengan adanya aplikasi dan laman itu.

“Saat ini zamannya economy sharing. Semua pihak mesti berkolaborasi agar dapat berkembang,” kata Koordinator Kelompok Riset Sistem Rantai Pasok dan Logistik Pertanian (Agrilogics) Fakultas Pertanian, Univeritas Padjadjaran, itu. Misal pengelola laman dan aplikasi penyedia produk pertanian bekerjasama dengan transportasi daring untuk pengiriman produk ke konsumen. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Bondan Setyawan)

Pekerja mengemas sayuran organik hasil panen di salah satu sentra pertanian organik di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Pekerja mengemas sayuran organik hasil panen di salah satu sentra pertanian organik di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *