Bisnis Ikan Hias di Balik Kotak Kaca 1

Semula tiga akuarium di emper rumah, kini Sukirman membesarkan ikan hias di 120 akuarium. Ia memasok puluhan ribu ikan hias per bulan.

Hunian di ujung gang buntu itu sepintas sama saja dengan rumah-rumah lain di sekitarnya, berdinding tembok dan ukurannya relatif kecil. Yang membedakan di bagian belakang rumah itu berderet-deret 120 akuarium. Ukurannya 200 cm x 70 cm x 40 cm yang tersusun dua tingkat.

Dari ratusan akuarium kaca berketebalan 1 cm itulah Sukirman menjual ribuan ekor ikan hias.Di atas lahan 150 m2, peternak di Desa Pakansari, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu membesarkan total 15 jenis ikan hias.

Lima jenis yang permintaannya terbanyak adalah neon tetra 10.000—20.000 ekor per bulan, kardinal tetra (10.000—20.000), manvis, rednose, dan stenofoma—masing-masing 5.000 ekor per bulan. Adapun 10 jenis ikan lainnya—Sukirman menyebutnya sebagai ikan penyangga—antara lain diskus, pinguin, dan sinogalus.

Bisnis Ikan Hias di Balik Kotak Kaca 2
Red nose Hemigrammus rhodostomus

 

Permintaan besar

Menurut peternak ikan hias sejak 2004 itu volume penjualan ikan-ikan penyangga rata-rata 3.000 ekor per jenis per bulan. Sukirman membesarkan ikan-ikan itu hingga siap jual dalam sebulan. Ia mengambil ikan-ikan berukuran rata-rata 1,5 cm itu dari para peternak di Depok dan Cibinong—keduanya di Provinsi Jawa Barat.

Selama ini ia tak kesulitan mendapat pasokan ikan-ikan kecil. Begitu memerlukan ikan yang akan dibesarkan, Sukirman tinggal menghubungi peternak mitra yang akan mengantar pesanan itu.

Pembesaran selama 30 hari menghasilkan ikan berukuran rata-rata 2,2—2,5 cm hingga ikan siap jual ke para eksportir. Sukirman menjual neon tetra hasil pembesaran di tahun 2015 yakni Rp300, kardinal tetra (Rp350), dan manvis (Rp1.000) per ekor.

Harga jual ikan-ikan hias itu memang kecil. Namun, karena volume penjualan besar, omzet Sukirman juga gemuk. Sebagai gambaran, dengan volume penjualan 10.000 ikan neon tetra, maka omzet pria 45 tahun itu mencapai Rp3,5-juta. Sementara omzet penjualan manvis Rp5-juta sebulan.

Peternak itu mengatakan serapan pasar akan ikan hias relatif besar. Jika ada pasokan dua kali lipat pun, ia masih sanggup memasarkan. “Asal ikan bagus berapa pun pasti bisa dijual,” ujar peternak berusia 45 tahun itu yang memasok beberapa eksportir ikan hias itu.

Ikan bagus yang dimaksud Sukirman adalah sehat, warnanya muncul, dan ukuran pas. Untuk memenuhi tingginya permintaan, ayah tiga anak itu juga menjalin kerja sama dengan beberapa peternak di Cibinong.

Bisnis Ikan Hias di Balik Kotak Kaca 3
Manvis Pterophyllum scalare

Ketika permintaan eksportir membubung, sementara produksi ikan terbatas, maka Sukirman mengambilnya pada peternak mitra. Menurut pria kelahiran 9 September 1969 itu untuk membesarkan 15 jenis ikan hias itu menghabiskan 6 liter cacing sutra per hari. Ia memberikan pakan dua kali sehari, yakni pada pukul 07.00 dan 14.00.

Di pasaran sebetulnya tersedia pelet khusus ikan hias yang harganya lebih murah daripada cacing sutra. Namun, Sukirman tetap memilih pakan hidup berupa cacing sutra. Tujuannya untuk mencegah penimbunan sisa pakan yang menyebabkan amonia.

Perawatan lain berupa pergantian air akuarium. Setiap dua hari sekali Sukirman yang dibantu seorang tenaga kerja itu mengganti seperempat air akuarium.

Pergantian air secara manual. Ia membuang sebagian kecil air di akuarium dengan selang dan menggantinya dengan air tanah yang telah mengendap selama dua hari dengan pH 5. Meski musim kemarau, Sukirman tak kekurangan air. Lokasi budidaya ikan hias itu dekat telaga—berjarak 100 meter—menguntungkan Sukirman.\

Hambatan

Sukirman tak serta-merta meraih sukses membesarkan ikan hias. Pria asal Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, itu mulai berbisnis ikan hias dengan tiga akuarium kecil di emper rumahnya. “Saya mengontrak rumah petakan, akuarium saya taruh di emper,” kata Sukirman mengenang.

Ia memasarkan sendiri hasil pembesarannya mencapai 1.000 ekor, antara lain jenis stenofoma ke para pengepul. Ia menyisihkan laba penjualan ikan untuk menambah akuarium hingga menjadi 14 buah pada 2005.

Bisnis Ikan Hias di Balik Kotak Kaca 4
Stenofoma alias leopard bush fish Ctenopoma acutirostre

Jumlah kotak kaca Sukirman terus bertambah hingga menjadi 120 akuarium empat tahun kemudian. Bukan hanya memperluas usaha, Sukirman juga mampu membeli tanah seluas 330 m2 untuk lokasi usaha itu.

Dari lahan itu, sebagian—150 m2—untuk lokasi pembesaran ikan hias dan selebihnya untuk hunian. Namun, bukan berarti upaya Sukirman membesarkan ikan tanpa aral. Ia ingat persis ketika pulang kampung pada Lebaran 2012.

Ketika itu karyawan yang merawat ikan mengabarkan, puluhan ikan mati. Sukirman menginstruksikan agar karyawan itu memindahkan ikan-ikan lain yang pingsan itu ke akuarium lain. Namun, upaya itu gagal. Sebanyak 30.000 ikan akhirnya mati. Jika harga jual ikan-ikan itu minimal Rp350 per ekor, potensi kerugiannya Rp10-juta. Beberapa pengepul nakal juga tak membayar setelah pengambilan ikan.

Bisnis Ikan Hias di Balik Kotak Kaca 5
Diskus Symphysodon sp

Menurut Sukirman listrik mati sebetulnya bukan hambatan. Tanpa aerator hingga empat jam, ikan-ikan penghias akuarium itu masih mampu bertahan. Meski demikian Sukirman tetap menyediakan sebuah genset jika sewaktu-waktu aliran listrik padam. Sukirman mampu melampaui beragam hambatan budidaya ikan hias itu.

Oleh karena itu ia berencana memperluas usaha pembesaran ikan untuk memenuhi tingginya permintaan penghias akuarium. Baginya pembesaran ikan hias menjadi tempat basah alias banyak mendatangkan keuntungan. Ia menangguk rezeki jutaan rupiah dari keelokan beragam ikan hias seperti neon tetra, kardinal tetra, dan manvis. Ikan hias ladang basah baginya.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

One Comment

  1. Saya tertarik budidaya ikan hias khususnya neon tetra seperti yang diulas dalam rubik ini, bisakah saya meminta kontan person beliau (Bpk. Sukirman) atau alamat lengkapnya, terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *