Bisnis Hebat Sidat: Laba Rp12-juta per Bulan 1
Sidat

Sidat

Para peternak sidat baru bermunculan karena tergiur permintaan dan keuntungan tinggi.

Sebuah kolam beton dan dua kolam tanah masing-masing berukuran 6 m x 3 m kini menjadi sandaran hidup Sukirno Budhianto. Seluruh kolam itu mampu menampung 4.000 bibit sidat berukuran elver yang berbobot 3—5 gram dan fingerling (30—50 gram). Dari ketiga kolam itulah peternak di Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap, itu memanen dan mengirim 50—100 kg sidat konsumsi berbobot 250 gram per ekor ke pembeli asal Surabaya, Jawa Timur, setiap pekan.

Sukirno Budhianto memasok 100—200 kg sidat per pekan untuk Jakarta dan Surabaya.

Sukirno Budhianto memasok 100—200 kg sidat per pekan untuk Jakarta dan Surabaya.

Selain itu ia juga mengirim sidat dalam bobot sama ke Jakarta. Artinya setiap pekan peternak 31 tahun itu rutin memasarkan 100—200 kg sidat yang harganya Rp150.000 per kg. Omzet Budhianto Rp15-juta—Rp30-juta per pekan. “Sebelumnya saya juga melayani permintaan dari Bogor. Sekarang berhenti karena transportasi pengiriman susah dan lebih lama,” ujar peternak yang fokus membesarkan sidat sejak 2011 itu.

Kolam terpal
Karena periode panen belum terpola, maka untuk memenuhi pasokan rutin Budhianto bermitra dengan 10—20 peternak dan pemburu sidat di Cilacap dan sekitarnya. Menurut Budhianto, Cilacap sohor sebagai sentra produksi sidat. Itulah sebabnya banyak warga Cilacap yang berprofesi menjadi pemburu dan peternak sidat.

Tidak semua peternak membesarkan sidat di kolam semen. Yatu Supriawan memelihara sidat di sebuah kolam terpal berukuran 4 m x 4 m di halaman rumah. Ia membuat kolam terpal karena lebih murah, yakni Rp350.000 per kolam. Sementara kolam semen berukuran sama biayanya Rp1,5-juta. Di halaman rumah Yatu terdapat 2 kolam terpal. Populasi setiap kolam mencapai 300—600 ekor.

David Abdiel Liono menjadi pemasok perusahaan pengolah sidat.

David Abdiel Liono menjadi pemasok perusahaan pengolah sidat.

Peternak di Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, itu menjual 400—500 sidat berbobot 40 g per ekor atau fingerling kepada pengepul per bulan. Dengan harga Rp190.000 per kg, omzet Yatu rata-rata Rp3-juta—Rp3,8-juta per bulan. Ia juga memperoleh pendapatan lain dari hasil penjualan sidat berbobot 1—5 g per ekor atau elver rata-rata Rp100.000 per hari.

Total jenderal pendapatan Yatu dalam sebulan mencapai Rp6-juta—Rp7-juta. Dari perniagaan sidat itulah Yatu Supriawan mampu membeli sebuah rumah pada awal 2015. Pria 32 tahun itu tidak menyesal memutuskan berhenti menjadi karyawan sebuah pabrik bata, lalu beralih profesi menjadi peternak sidat pada 2012.

Dr Agung Budiharjo MSi, Jepang tengah mencari sidat Anguila bicolor untuk menggantikan A. japonica yang sudah langka.

Dr Agung Budiharjo MSi, Jepang tengah mencari sidat Anguila bicolor untuk menggantikan A. japonica yang sudah langka.

Yatu sebetulnya memelihara fingerling untuk dibesarkan hingga ukuran konsumsi, yaitu 250 g per ekor atau selama 6—8 bulan. Namun, Yatu tidak pernah tuntas memelihara sidat ukuran konsumsi. “Baru sebulan dipelihara, sudah ada yang berminat membeli,” ujarnya. Menurut Budhianto dalam 5 tahun terakhir perkembangan bisnis sidat di Cilacap sangat menggembirakan.

Itu terlihat dari harga sidat ukuran konsumsi yang terus meningkat. Pada 2010 harga sidat ukuran konsumsi hanya Rp30.000—35.000 per kg. Pada 2011 naik menjadi Rp40.000—Rp45.000, 2012 (Rp70.000—Rp80.000), 2013 (Rp90.000—Rp100.000), 2014 (Rp120.000), dan 2015 (Rp150.000). Menurut Budhianto kenaikan tertinggi terjadi pada 2012. “Sejak 2012 beternak sidat mulai tren,” ujarnya.

Peternak baru bermunculan bahkan di luar sentra. Salah satunya David Abdiel Liono di Surabaya, Jawa Timur, yang mulai beternak sidat pada 2013. Ia membesarkan sidat dari ukuran elver hingga fingerling dan fingerling hingga ukuran konsumsi. David menebar 70 kg bibit ukuran fingerling setiap 2 bulan agar bisa panen rutin. Dari jumlah bibit itu David memanen 810 kg sidat ukuran konsumsi setelah 6—8 bulan pemeliharaan. Peternak itu menjualnya kepada perusahaan pengolah sidat dengan harga Rp130.000 per kg. Dengan harga itu, dalam satu periode panen omzet David Rp105,3-juta.

Yatu Supriawan beternak sidat di kolam terpal.

Yatu Supriawan beternak sidat di kolam terpal.

Beberapa peternak baru bahkan berani membangun peternakan sidat dengan investasi tinggi. Contohnya Willy di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang beternak sidat di 4 kolam raksasa—masing-masing 350 m2—sejak 2012. Populasi setiap kolam 15.000—20.000 ekor. Willy membesarkan sidat dari ukuran glass eel hingga ukuran konsumsi. Ia membesarkan sidat berukuran glass eel selama 6 bulan.

Baca juga:  Cara Tepat Besarkan Sidat

Setelah itu ia memindahkannya ke kolam pembesaran lain hingga ukuran konsumsi selama 6—8 bulan. Dari populasi itu Willy panen 4 ton sidat ukuran konsumsi dan menjualnya ke perusahaan pengolahan sidat di Jakarta, Surakarta, dan Surabaya dengan harga Rp140.000—Rp160.000 per kg.

Nun di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Farid Wiyardi bersama kedua rekannya, Deni Firmansyah dan Rahmat, membangun peternakan sidat terpadu dengan fasilitas lengkap pada 2012. Di sana terdapat 150 akuarium untuk pembesaran glass eel hingga ukuran elver. Untuk pembesaran elver hingga fingerling PT Laju Banyu Semesta (Labas)—nama perusahaan milik Farid—menggunakan tangki berbahan fiber.

Sementara untuk pembesaran fingerling hingga ukuran konsumsi PT Labas membangun 10 kolam berukuran 2,5 m x 2,5 m dan 3 m x 3 m, serta 1 kolam berukuran 4 m x 4 m. PT Labas juga membangun fasilitas pengolahan untuk mengolah sidat menjadi kabayaki dan shirayaki. Kabayaki adalah sidat panggang yang dilumuri saus tertentu dengan citarasa khas sedikit manis. Sementara shirayaki sidat panggang tanpa tambahan saus dan bumbu lain sehingga rasanya tawar.

Kolam pembesaran sidat konsumsi di PT Laju Banyu Semesta di Kabupaten Bogor.

Kolam pembesaran sidat konsumsi di PT Laju Banyu Semesta di Kabupaten Bogor.

“Shirayaki nantinya diolah lagi baik itu menjadi kabayaki atau olahan lainnya,” ujar Farid. Saat ini PT Labas memproduksi 30 kg olahan sidat per hari atau sekitar 1 ton per bulan. PT Labas menjual olahan sidat ke salah satu distributor di Jakarta dengan harga Rp450.000 per kg. Untuk menghasilkan 1 kg olahan sidat perlu 2 kg sidat ukuran konsumsi. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, PT Labas bermitra dengan para peternak lain, selain hasil panen dari kolam sendiri.

Apa yang mendorong bermunculannya peternak sidat baru? Menurut Deni Firmansyah, peluang bisnis sidat sangat menarik karena permintaannya tinggi. “Kita jangan dulu bicara pasar ekspor, permintaan pasar lokal saja sulit terpenuhi,” ujar alumnus Sekolah Tinggi Perikanan Pasarminggu, Jakarta Selatan, itu.

Deni menuturkan permintaan olahan sidat mencapai 15 ton per bulan. Sementara yang terpenuhi baru 1 ton per bulan. “Itu baru permintaan dari satu distributor,” katanya. Pendapat serupa juga disampaikan Yoyon Priyono, produsen olahan sidat di Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Saat ini Yoyon memproduksi 150—200 kg olahan sidat per bulan.

Dr Ir Slamet Soebjakto MSi, direktur jenderal Perikanan Budidaya, "Pemerintah melarang ekspor sidat berukuran kurang dari 100 g."

Dr Ir Slamet Soebjakto MSi, direktur jenderal Perikanan Budidaya, “Pemerintah melarang ekspor sidat berukuran kurang dari 100 g.”

Jumlah produksi itu baru memenuhi permintaan dari restoran Jepang dan Korea di kawasan industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dan beberapa kawasan di Jakarta. “Permintaan yang belum terpenuhi mencapai 500—1.000 kg per bulan,” kata pemilik CV Yonadara Sukses itu. Restoran itu meminta sidat yang sudah diolah menjadi kabayaki dan shirayaki.

Pasar mancanegara
Peternak lain, Daniel Amrullah dan Suprayogi, juga baru bisa memenuhi permintaan pasar lokal. Hasil panen Daniel hanya 450 kg selalu habis untuk memenuhi kebutuhan perusahaan produsen olahan sidat, restoran, instansi pemerintah, dan restoran miliknya di Banyuwangi. Adapun Suprayogi baru sanggup memenuhi permintaan 1 ton per lima bulan. Padahal total permintaan rutin 1,5 ton per bulan.

Suprayogi, peternak sidat di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, itu baru mengelola 4 kolam berukuran 4,5 m x 5 m. Oleh sebab itu ia kini tengah membangun 10 kolam berukuran 2,5 m x 5 m agar bisa memproduksi 1 ton sidat per bulan. Belum lagi pasar ekspor yang masih terbuka lebar. Yoyon terpaksa menghentikan ekspor sidat karena tidak sanggup memenuhi permintaan sang importir.

Pembesaran elver di tangki fiber di PT Laju Banyu Semesta.

Pembesaran elver di tangki fiber di PT Laju Banyu Semesta.

Pada 2010—2012 Yoyon rutin mengekspor 500 kg sidat per pekan atau 2 ton per bulan untuk pasar Jepang, Korea, dan Tiongkok. “Sekarang Jepang saja minta 5—10 ton sidat per bulan dan harus kontinu. Untuk memperoleh pasokan sebanyak itu sulit,” ujar Yoyon.

Berdasarkan data Food Agriculture Organization permintaan Jepang rata-rata 130.000 ton per tahun. Sementara Jepang hanya memproduksi sekitar 14.204 ton sidat dan sisanya impor. Salah satu negara pemasok kebutuhan Jepang adalah Tiongkok dan Taiwan. Data Bea Cukai Jepang menyebutkan pada 2014 Jepang mengimpor 3.747 ton sidat dari Tiongkok dan 906 ton dari Taiwan. Sementara impor dari Indonesia baru 98 ton. Itulah sebabnya pasar sidat di Jepang saja masih terbuka lebar.

Baca juga:  Ketapang

Banyak hambatan
Meski demikian membudidayakan sidat bukan hal mudah. Beragam aral menghadang sejak pencarian bibit hingga pemasaran. Dalam hal pakan, misalnya, kini amat terbatas ketersediaan pakan sidat yang idealnya berkadar protein 40%. Pakan berkadar protein rendah menyebabkan pertumbuhan lambat.

Hanya itu? Aral lain juga siap menghadang para peternak (baca: “Aral Sejak Hulu Hingga Hilir” halaman 20—21). Namun, beragam hambatan itu tak menyurutkan langkah calon peternak untuk membudidayakan Anguilla sp itu. Perhitungan para peternak budidaya sidat menjanjikan keuntungan tinggi. Menurut Willy biaya untuk menghasilkan 1 kg sidat ukuran konsumsi dari glass eel mencapai Rp90.000—Rp100.000 per kg. Dari jumlah itu komponen biaya terbesar adalah pakan. Willy mengatakan nilai konversi pakan atau food convertion ratio (FCR) sidat adalah 2. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg sidat perlu 2 kg pakan. Harga pakan sidat Rp22.000 per kg.

Jadi, untuk biaya pakan saja mencapai Rp44.000 atau 49% dari total biaya produksi. Willy menjual sidat ukuran konsumsi Rp140.000—Rp160.000 per kg atau untung Rp40.000—Rp60.000 per kg. “Beternak sidat sangat menguntungkan, kata Willy yang juga peternak walet.

Menurut Deni pembesaran sidat dengan modal bibit 400 kg fingerling dan hasil panen 2,7 ton sidat ukuran konsumsi, dapat meraih keuntungan rata-rata Rp12-juta per bulan jika menjual sidat dengan harga Rp130.000 per kg. (baca “Laba Berlipat Sidat”, halaman 16—18). Deni mengatakan peluang bisnis sidat sebetulnya mulai tercium sejak 1989. Ketika itu berdiri PT Masterindo yang mengekspor sidat hasil tangkapan alam ukuran konsumsi.

Pada 1990 juga bermunculan 5 perusahaan budidaya sidat berteknologi tinggi dengan nilai investasi mencapai Rp20-miliar—Rp30-miliar. Sayang, perusahaan-perusahaan besar itu bangkrut pada 1997 karena krisis ekonomi.

Sempat vakum
Deni menuturkan pada 1997—2007 dunia sidat tanahair vakum. Baru pada 2008 sidat kembali menjadi pembicaraan hangat di dunia perikanan tanahair. Musababnya di negara-negara konsumen sidat di Eropa dan Asia timur seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok, mulai kehabisan stok sidat Anguilla japonica akibat eksploitasi terus-menerus.

Pengolahan sidat menjadi kabayaki di PT Laju Banyu Semesta.

Pengolahan sidat menjadi kabayaki di PT Laju Banyu Semesta.

Menurut Dr Agung Budiharjo SSi MSi, peneliti sidat dari Jurusan Biologi Universitas Sebelas Maret (UNS), para konsumen sidat di Negeri Sakura kini tengah mencari anguilla jenis lain yang memiliki citarasa lezat seperti japonica. Salah satunya Anguilla bicolor. Perairan Indonesia salah satu gudang hewan anggota famili Anguilidae itu.

Menurut Dr Melta Rini Fahmi SPi MSi, peneliti sidat dari Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BP2BIH), Depok, Jawa Barat, bicolor tersebar dari perairan Aceh Nangroe Darussalam hingga Jawa Timur. (baca “Sentra Sidat Nusantara” halaman 26—27).

Sejak itulah ekspor sidat ke Jepang terus meningkat, baik bibit mau pun ukuran konsumsi. Beberapa investor asal Jepang juga masuk ke Indonesia. Salah satunya PT Jawa Suisan Indah (JSI) milik Hisayasu Ishitani asal Jepang yang membuka peternakan sidat di Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada 2009. Perusahaan itu membesarkan ukuran glass eel hingga elver. “Saat ini produksi elver mencapai 30 ton per tahun,” ujar Beni Sitanggang, direktur PT JSI.

Kabayaki

Kabayaki

Elver itu untuk memasok kebutuhan bibit 7 peternakan besar di tanahair seperti PT South East Java di Pelabuhan Ratu. JSI juga memproduksi olahan sidat berupa kabayaki dan diekspor ke Jepang. “Jumlah ekspor baru 8—10 ton per tahun,” tutur Beni. Untuk mencegah eksploitasi sidat yang tidak terkendali, Menteri Kelautan dan Perikanan mengeluarkan Peraturan Menteri No. 19/Men/2012 tentang larangan ekspor sidat berukuran kurang dari 150 g per ekor.

Dengan begitu sidat untuk ekspor harus dibudidayakan dahulu hingga mencapai ukuran yang diperbolehkan untuk ekspor. “Jika tidak ada pembatasan ekspor, dikhawatirkan terjadi eksploitasi sidat secara besar-besaran di alam. Peraturan itu diharapkan dapat mendorong perkembangan budidaya sidat di tanahair,” ujar Dr Ir Slamet Soebijakto MSi, direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Regulasi itu sejatinya bertujuan untuk melindungi keberadaan sidat di tanahair. Dengan demikian para peternak tetap dapat membesarkan satwa kaya protein untuk mendulang laba besar. (Imam Wiguna/Peliput: Argohartono Arie Raharjo, Bondan Setyawan, Hernawan Nugroho, dan Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *