Bisnis Hebat Olahan Coconut 1
Kelapa pantas menyandang gelar pohon kehidupan

Kelapa pantas menyandang gelar pohon kehidupan

Sebuah laman di dunia maya menyebut terdapat 47 olahan dari kelapa. Semua punya nilai bisnis.

Laman milik Dewan Pengembangan Kelapa, Departemen Pertanian, India, itu menyebut mulai dari karbon aktif, cenderamata tempurung, tepung santan, cuka, hingga briket sabut empulur. Semua olahan itu diperjualbelikan ekspor dan impor. Dewan Pengembangan Kelapa menjadi jembatan antara produsen dan pembeli.

Dengan puluhan produk olahan, kelapa memang pantas menyandang gelar pohon kehidupan. Dari akar hingga pucuk daunnya, kelapa sungguh bermanfaat, sekaligus mendatangkan uang. Kolega Trubus asal Perancis, Frederic Guerlava, membuka sebuah pabrik minuman air kelapa pandanwangi di Thailand. Pasokan air kelapa pandanwangi didapat dari kebun yang letaknya terisolir dari kebun kelapa nonpandanwangi supaya kualitas air kelapa tidak terkontaminasi jenis lain. Frederic mengekspor produk air kelapa itu ke Amerika.

Dua contoh produk turunan kelapa: arang tempurung dan asap cair

Dua contoh produk turunan kelapa: arang tempurung dan asap cair

Naik takhta

Nun di Kudus, Jawa Tengah, Kurnia Aji Satriyo, yakin melepas profesi sebagai pengembang rekanan pemerintah menjadi produsen arang tempurung dan asap cair. “Gas masak cair yang kini menjadi andalan masyarakat nantinya akan habis. Orang akan berpaling kepada bahan bakar terbarukan,” ujar alumnus program Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.

Atas saran Aris Budiyono, kawan lama yang lantas menjadi mitra bisnis sekaligus manajer produksi, Aji membuat produk turunan kelapa. Naluri bisnis Aji terbukti tepat. Dalam 2 tahun, kapasitas produksinya mencapai 200—300 ton serbuk arang tempurung per bulan. Dengan harga jual Rp4.500 di pabrik, pria 34 tahun itu mendulang omzet bulanan Rp1,35-miliar. Saat kalimat ini ditulis, Aji dan Aris tengah menjelajahi sentra kelapa di Provinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah untuk memperlebar sayap bisnis mereka.

Baca juga:  Katrol Harga Robusta

Selain tempurung, produk turunan kelapa lain adalah olahan sabut. Zaman dahulu, sabut hanya menjadi alat pembersih peralatan dapur. Waktu bergulir mendudukkan sabut di takhta terhormat. Kasur pegas berukuran king size (200 cm x 200 cm) setebal 20 cm berisi komposit sabut-lateks di toko furnitur dibanderol lebih mahal ketimbang kasur sejenis berbahan busa poliuretan biasa.

Memproduksi tali sabut untuk membuat coconet dan geotekstil

Memproduksi tali sabut untuk membuat coconet dan geotekstil

Wajar Ir Omar A Sidik, pemilik CV Serat Kelapa di  Depok, Jawa Barat, nyaris kehabisan napas memenuhi permintaan sabut-lateks. Produksi bulanan Omar, berupa 35.000—40.000 lembar bahan pengisi jok mobil dan 3.000 matras komposit sabut-lateks—lazim dijuluki sebutret—ludes tak bersisa. Sejatinya pembeli menginginkan pasokan hingga 3 kali lipat. Sayang, Sidik tak berkutik lantaran lokasi yang berada dekat pemukiman menghalangi mesin pabriknya berputar 24 jam.

Sidik hanya berproduksi dalam 1 shift sehari. Dengan produksi itu saja ia meraup omzet bulanan paling sedikit Rp270-juta. Secara temporer ia menerima order pembuatan tali sabut untuk pembuatan geotekstil. Selama 9 bulan, Februari—Oktober 2013, Sidik memproduksi 2-juta meter tali sabut senilai Rp200-juta. Apabila semua permintaan terpenuhi, pundi-pundinya bakal semakin menggembung.

Bisnis nata de coco, produk turunan air kelapa, juga cukup menggiurkan. Harga sekilogram nata Rp1.400, sementara biaya produksi kurang dari separuhnya. Sukristiono, pemilik industri nata de coco di Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sampai mendirikan pabrik di Kabupaten Metro, Provinsi Lampung.

Pabrik berkapasitas 2,8 ton nata itu pun tak kuasa meredam bombardir permintaan dari industri minuman kemasan. Separuh order pengiriman terpaksa ia abaikan. Pasokan yang pincang itu juga dirasakan Agus Arifin, produsen nata di Sleman, Yogyakarta. Bedanya, Agus mencoba berinovasi dengan membuat nata dari santan. Ia sukses membuat 1,1—1,2 kg nata dari seliter santan. Itu lebih banyak ketimbang produksi seliter air kelapa, yang hanya sebanyak 0,6—0,8 kg. Kualitas nata asal santan itu lebih baik dengan rasa lebih gurih, bening, dan kenyal.

Baca juga:  Forum Bisnis Royal Canin

Sayang, kualitas tidak menjadi jaminan harga. Produsen membeli nata santan itu di harga sama dengan nata dari air kelapa. Keruan saja Agus menjerit lantaran biaya produksi nata santan hampir 2 kali lipat. Produksi nata santan itu terpaksa ia hentikan. Tanpa keuntungan, bisnis apa pun tidak akan berjalan. Itu faktor penting yang tidak boleh dilupakan. Pada olahan kelapa, bisnisnya menjanjikan. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments