Bisnis dari Umbi Amorphophallus

Pasar mencari umbi suweg dan porang. Pasokan terbatas karena jarang masyarakat yang membudidayakan secara intensif.

Nanik Yuniarti terpaksa menolak permintaan ekspor tepung suweg Amorphophallus paeoniifolius dari sebuah perusahaan makanan di Jepang pada 2016. Pasokan bahan baku yang minim membuat Nanik mengambil keputusan itu. “Mereka meminta kiriman 3 ton tepung suweg setiap bulan,” ujar produsen tepung umbi-umbian di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, itu. Bagi Nanik jumlah itu sangat besar sehingga tak sanggup memenuhinya karena pasokan umbi suweg terbatas.

Umbi iles-iles memiliki nilai ekonomi lantaran mengandung glukomanan sebagai bahan baku makanan berupa konyaku dan shirataki.

Umbi iles-iles memiliki nilai ekonomi lantaran mengandung glukomanan sebagai bahan baku makanan berupa konyaku dan shirataki.

Selain itu, keterbatasan sarana produksi dan tenaga kerja juga menjadi hambatan. Selama ini Nanik mengandalkan pasokan suweg dari pengepul langganan yang tidak tentu jumlah dan waktunya. “Paling cepat 5 hari sekali,” ujar Nanik. Ia rata-rata menerima 50 kg suweg setiap 5 hari setara 300 kg per bulan. Sesekali ia pernah juga mendapatkan hingga 2 ton. “Saya menerima berapa pun umbi yang dijual pengepul,” ujarnya.

Ludes terjual

Dengan teknologi sederhana, Nanik mengolah umbi basah itu menjadi tepung untuk memenuhi permintaan konsumen. Nanik mengatakan, tepung suweg selalu ludes terjual. Ia mengemas tepung dalam wadah plastik bening dan menjualnya Rp110.000 per kg. Menurut Nanik untuk menghasilkan 1 kg tepung membutuhkan 10 kg suweg. Artinya, rendemen hanya 10%. “Itu karena kandungan air suweg cukup tinggi,” kata Nanik.

Nanik Yuniarti di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, memproduksi tepung suweg.

Nanik Yuniarti (Bantul, Yogyakarta), memproduksi tepung suweg.

Jika dalam sebulan ia mengolah 300 kg suweg maka ia mendapatkan 30 kg tepung. Nanik lantas memasarkan tepung suweg lewat pengecer dan media daring atau online. Dari hasil penjualan tepung suweg itu ia memperoleh fulus atau uang sekitar Rp3,3 juta per bulan.

Pemilik usaha tepung umbi-umbian ‘Kusuka Ubiku’ itu mengolah umbi suweg dengan mesin penggiling sederhana di rumahnya. Begitu bahan baku datang ia segera membersihkan umbi dari tanah yang menempel.

Selanjutnya, ia mengupas dan membelah setiap umbi menjadi 4—8 bagian. Potongan umbi itu lantas diparut. “Proses pencucian dan pemarutan sebaiknya menggunakan sarung tangan agar tidak gatal,” kata Nanik. Nanik menjemur parutan umbi tanaman anggota keluarga Araceae itu di bawah sinar matahari selama 1—2 hari. Ia menghaluskan parutan kering menggunakan mesin penggiling dengan saringan 80 mesh.

Nanik menuturkan sedikitnya rendemen dan keterbatasan bahan baku menjadi kendala berniaga tepung suweg. “Pasokan umbi suweg tidak bisa kontinu. Juga tidak bisa dipastikan berapa jumlahnya,” ujar produsen itu. Padahal permintaan pasar cukup tinggi. Buktinya, tepung suweg bikinan Nanik laris manis. Bahkan, ia harus menolak permintaan dari sebuah rumah sakit di Yogyakarta yang meminta kiriman tepung suweg.

Mi shirataki terbuat dari bahan baku berupa tepung iles-iles.

Mi shirataki terbuat dari bahan baku berupa tepung iles-iles.

Pengepul suweg di Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Setya Budiyanto, menuturkan, suweg tergolong umbi-umbian yang jarang dibudidayakan sehingga pasokan barang sangat sedikit. Belum lagi panen umbi hanya setahun sekali. “Biasanya saat panen raya yang berlangsung menjelang musim kemarau permintaan suweg melonjak,” ujarnya. Ketua Kelompok Tani Manunggal Karyo itu bisa menjual 7 ton suweg saat panen.

Tags:
    1 Comment
    Oldest
    Newest Most Voted
    Inline Feedbacks
    View all comments