Muhammad Nabil Satria Faradis (paling kanan) bersama Fajar Sidik Abdullah (kiri) dan Untari Fabrian Ramadhani (tengah) mendesain peranti penggelembung mikro.

Muhammad Nabil Satria Faradis (paling kanan) bersama Fajar Sidik Abdullah (kiri) dan Untari Fabrian Ramadhani (tengah) mendesain peranti penggelembung mikro.

Alat gelembung mikro inovasi Nabil Satria Faradis mempercepat pertumbuhan nila, panen pada umur 4 bulan, semula 6 bulan. Pendapatan peternak naik 26%.

Kustamin semringah ketika panen ikan nila pada April 2017. Pasalnya peternak di Desa Bokesan, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, itu panen nila berbobot 250 gram per ekor meski baru 4 bulan memelihara. Sebelumnya Kustamin paling cepat memanen nila berumur 6 bulan untuk mencapai bobot sama atau ukuran rata-rata 15—17 cm.

Waktu budidaya kini 2 bulan lebih singkat sehingga Kustamin menghemat gaji tenaga kerja dan pakan. Menurut Kustamin konversi rasio pakan selama empat bulan budidaya hanya 1,2. Artinya untuk menghasilkan 1 kg ikan ia memerlukan 1,2 kg pakan. Bandingkan ketika durasi budidaya mencapai 6 bulan, rasio pakan 1,4 Kustamin mempekerjakan 3 orang untuk mengelola kolam nila di lahan 1.000 m2.

Gelembung mikro.
Penghematan itu setelah Kustamin memasang alat pembuat gelembung mikro atau Mino di kolamnya. Mino, Inovasi 3 anak muda Muhammad Nabil Satria Faradis, Fajar Sidik Abdullah, dan Untari Fabrian Ramadhani. Menurut Nabil, berdasarkan uji coba di lapangan, penambahan gelembung meningkatkan bobot panen ikan nila rata-rata 40% dan panjang ikan bertambah 30%. Dampak pemasangan peranti gelembung mikro itu, ikan lebih sehat, sintasan atau tingkat kelulusan hidup naik 9%, dan masa panen lebih cepat.

Peranti gelembung mikro bernama Mino.

Peranti gelembung mikro bernama Mino.

Menurut Nabil peternak dapat meningkatkan padat tebar agar produksi melonjak signifikan. Sebuah penelitian membuktikan, peternak dapat menebar hingga 150.000 bibit berukuran 3—4 cm di kolam 20 m x 10 m yang terpasang peranti pembuat gelembung mikro. Bandingkan dengan kolam dengan luasan sama dan tanpa Mino, padat tebar hanya 80.000 bibit. Padat tebar meningkat hampir 100%. Meski padat tebar melonjak, sintasan pun tetap tinggi.

Pada akhir budidaya, peternak yang menebar 150.000 bibit memanen 4 ton ikan. Peternak tanpa Mino hanya memanen 2,1 ton. Mino adalah peranti semacam aerator model terbaru yang menghasilkan gelembung dengan ukuran superkecil, yakni 40 mikron. Meski sangat kecil, partikel gelembung itu sangat efektif meningkatkan oksigen terlarut (dissolved oxygen) dalam air hingga dua kali lipat.

Baca juga:  Kian Padat, Laba Berlipat

Sebenarnya banyak alat untuk menghasilkan gelembung mikro atau microbubble generator (MBG). Alat itu penghasil gelembung mikro untuk berbagai tujuan. Menurut pemuda 22 tahun itu MBG pada umumnya harus dilengkapi kompresor udara yang tinggi sehingga perlu daya listrik besar. Sebaliknya Mino cukup menggunakan pompa biasa dan tidak perlu menggunakan kompresor udara. Itulah sebabnya Mino bisa dipakai di berbagai lokasi.

Penemuan peranti gelembung mikro menguntungkan peternak ikan nila karena biaya produksi lebih hemat.

Penemuan peranti gelembung mikro menguntungkan peternak ikan nila karena biaya produksi lebih hemat.

Nabil mulai merancang alat pembuat gelembung mikro pada Desember 2015 bersama Fajar Sidik Abdullah, teman kuliahnya di Program Studi Teknik Mesin, Universitas Gadjah Mada. Untari Febrian Ramadhani dari Fakultas Eknomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada mendukung perhitungan aspek bisnis. Mereka berhasil mengembangkan teknologi MBG yang lebih spesifik untuk budidaya ikan nila.
Inovasi itu juga berkat supervisi Profesor Rustadi, Dr. Deendarlianto, dan Wiratni, S.T., M.T., Ph.D., serta dukungan Pusat Studi Energi (PSE), Departemen Teknik Kimia dan Departemen Perikanan UGM.

Cepat panen
Pada Desember 2015 hingga Februari 2016, mereka mulai membuat konsep, mendesain alat, dan membuat prototipe Mino untuk nila. Setelah mesin sederhana itu rampung, Nabil menguji coba di Laboratorium Akuakultur UGM. Bersama Fajar dan Untari, Nabil menebar bibit nila pada akhir Maret 2016. Pada awal Juli 2016 alumnus terbaik UGM periode 2016/2017 dengan IPK 3,99 itu memanen ikan hasil pembesaran selama 4 bulan.

Nabil kembali menguji coba Mino di 8 kolam milik Depertemen Perikanan UGM. Ukuran kolam 5 m x 5 m x 1 m. Kemudian, ia bekerja sama dengan kelompok peternak Mina Ngremboko di Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, yang mengelola tambak 20 m x 10 m. Dari serangkaian uji coba itu Nabil menyimpulkan, pemeliharaan ikan berukuran 1—2 cm dengan atau tanpa Mino, perbedaan hasil tidak signifikan.

Peranti gelembung mikro sangat sesuai untuk nila yang membutuhkan oksigen terlarut relatif tinggi.

Peranti gelembung mikro sangat sesuai untuk nila yang membutuhkan oksigen terlarut relatif tinggi.

Namun, pada bibit berukuran 3—4 cm penggunaan Mino sangat signifikan. Setelah 4 bulan, ukuran ikan mencapai 15—17 cm sehingga peternak dapat memanennya. Bandingkan dengan pertumbuhan ikan berukuran sama di kolam tanpa Mino, ukuran ikannya hanya 12—14 cm ketika panen pada 4 bulan pembesaran. Itulah sebabnya peternak memperpanjang masa budidaya hingga 6 bulan.

Baca juga:  Maitake Turunkan Hipertensi

Satu set Mino terdiri atas 1 pompa submersible dan 3 peranti gelembung mikro di ujung pompa. Hasilnya, bobot ikan 40% lebih berat dan ukuran tubuh 30% lebih panjang dibandingkan dengan ikan di kolam tanpa Mino. Penerapan teknologi itu dapat meningkatkan kualitas air di kolam pembiakan sehingga mendukung pertumbuhan ikan lebih baik. Teknologi itu juga ramah lingkungan karena naiknya oksigen terlarut berguna bagi fitoplankton dan biota-biota di kolam.

Akibatnya kualitas kehidupan di dalam air meningkat. Kualitas air yang bagus juga menyebabkan berkurangnya penyakit ikan. Kini pemakaian Mino masih terbatas pada ikan nila. Menurut Nabil gelembung kecil lebih bermanfaat bila diterapkan untuk budidaya ikan yang membutuhkan banyak oksigen seperti ikan nila (tilapia) dan udang. Sayangnya, udang tertentu hidup di air payau yang memicu karat.

Peranti gelembung mikro sangat sesuai untuk nila yang membutuhkan oksigen terlarut relatif tinggi.

Peranti gelembung mikro sangat sesuai untuk nila yang membutuhkan oksigen terlarut relatif tinggi.

Meski demikian Nabil akan menyempurnakan peranti gelembung itu untuk udang lain seperti udang vannamei yang banyak dipelihara di Kabupaten Bantul, Provinsi Yogyakarta. Lele yang kurang perlu banyak oksigen, tidak perlu menggunakan Mino. Nabil, fokus pada penggunaan gelembung pada nila. Sebab, kebanyakan peternak di Yogyakarta memelihara ikan nila.

Karya tiga mahasiswa itu meraih juara pertama pada Young Southeast Asian Leaders Initiatives (YSEALI) World of Food Innovation Challenge 2016.  Mereka mengalahkan lebih 200 tim dari berbagai negara di Asia Tenggara. Sebagai juara, mereka mengunjungi pusat teknologi dan inovasi Austin, Texas, Amerika Serikat, yang difasilitasi oleh USAID Indonesia. Mereka belajar dan presentasi hingga ke Hongkong, India, Thailand, Singapura, Kamboja, Filipina, dan Belgia.

Pemuda kelahiran Lumajang 1995 itu memang sangat tertarik dengan bidang-bidang yang berhubungan dengan teknopreneursip dan desain produk terpadu. Percobaan Nabil dan kawan-kawan tidak selamanya berlangsung mulus. Kolam penelitian mereka pernah kebanjiran sehingga sebagian besar ikan hilang. Alat mereka pun pernah hilang. Mereka pernah juga mendapat bibit jelek karena terkena penyakit sehingga hampir seluruh ikan percobaan mati.

Namun, semua aral itu tidak mengurangi semangat Nabil dan kawan-kawan untuk menghasilkan peranti pembuat gelembung. Kini mereka sedang mengurus hak paten karena akan memasarkan Mino secara massal ke peternak pada 2018. Dari hasil perhitungan mereka, harga satu buah Mino hanya Rp900.000. Harga satu set lengkap dengan mesin Rp2 juta. Harga itu relatif murah sebab harga kincir air yang kerap dipakai untuk menghasilkan gelembung udara berkisar Rp5 juta—Rp7 juta. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d