Bikin Elok di Balik Kaca

Bikin Elok di Balik Kaca 1
Paludarium atau gabungan akuaskap dengan tanaman darat koleksi M Iqbal.

Paludarium atau gabungan akuaskap dengan tanaman darat koleksi M Iqbal.

 

Suka hobinya tambah saudaranya.

Itulah moto komunitas lanskap di Kediri, Jawa Timur, bernama Generation Scaper Kediri (GSK). Komunitas yang menekuni dunia seni merangkai isi akuarium dengan komponen utama ikan dan tanaman itu berdiri sejak Oktober 2017. “Dengan menekuni hobi akuaskap di dalam komunitas GSK, ilmu dan saudara kami tambah banyak. Rezeki pun ikut bertambah,” ujar Hariyanto, ketua komunitas itu.

Akuaskap memelihara ikan dan tanaman sekaligus.

Akuaskap memelihara ikan dan tanaman sekaligus.

Menurut Hariyanto anggota GSK baru 20 orang yang aktif menekuni akuaskap dan yang tidak aktif 50 orang. GSK kerap hadir di pameran perikanan di Kota Kediri untuk mengenalkan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat umum mengenai seni akuaskap. “Masyarakat awam belum kenal akuaskap. Kebanyakan mereka penasaran tanaman yang kami gunakan apakah benar-benar hidup atau berbahan plastik,” ujar Yodhi Septiaji, anggota GSK.

Mengatasi masalah

Menurut Yodhi Septiaji kesulitan utama pemula merancang akuaskap adalah mengombinasikan tanaman, ikan, air, nutrisi, dan cahaya agar ekosistem di dalam akuarium seimbang. Harap mafhum, jika komponen-komponen yang ada dalam akuarium itu tak seimbang, muncul permasalahan seperti alga tumbuh subur dan tanaman inti tidak maksimal pertumbuhannya.

“Munculnya alga biasanya karena kelebihan pupuk dan cahaya. Bisa juga karena kurang dalam menjaga kebersihan akuarium atau tank,” ujar Yodhi. Menurut lelaki kelahiran Tangerang 13 September 1997 itu, beberapa cara untuk mengatasi permasalahan suburnya alga di antaranya dengan mengecek komponen pupuk dan dosis pemberiannya, mengurangi intensitas cahaya, dan rajin mengganti air akuarium.

Menurut Hariyanto suburnya alga kerap menjadi masalah utama para pehobi baru akuaskape. “Jika alga dibiarkan dan makin banyak akan mengurangi kecantikan akuaskap,” ujar pehobi akuaskap sejak 2013 itu. Hariyanto menuturkan, ketika baru berhasil merangkai akuaskap, biasanya intensitas lampu akuarium pehobi pemula berlebihan karena mereka ingin berjam-berjam memandangi akuariumnya.

Akuaskap bertema hutan koleksi Yodhi Setiaji.

Akuaskap bertema hutan koleksi Yodhi Setiaji.

Hal itu salah satu penyebab suburnya alga. Solusinya dengan mengurangi jam nyala lampu misalnya dari 6 jam menjadi 4 jam per hari. Selain itu, air juga perlu diganti dua hari sekali sebanyak 50%, untuk menjaga kebersihan, ketika alga tumbuh subur. Permasalahan lain yang juga kerap muncul yaitu lambatnya pertumbuhan tanaman di dalam akuarium. Menurut Hariyanto penyebabnya karena angka total dissolved solids (TDS) atau jumlah padatan yang terlarut dalam air terlalu tinggi.

Baca juga:  IPSOS Consulting: Sambut MEA Potensi Industri Udang Indonesia Punya 3 Masalah Besar

“Jika terlalu tinggi, tanaman susah menyerap nutrisi. Idealnya angka TDS 150—200,” ujarnya. TDS air sumur di Kediri rata-rata di atas 300. Maka solusinya dengan membeli air minum isi ulang yang biasanya memiliki TDS di bawah 200. Namun, menurut Hariyanto cara paling mudah untuk mengatasi beragam permasalahan akuaskap bagi pehobi pemula dengan bertanya kepada peracang akuaskap yang lebih berpengalaman.

Generation Scaper Kediri saat memberikan edukasi mengenai akuaskap.

Generation Scaper Kediri saat memberikan edukasi mengenai akuaskap.

Keberadaan komunitas menjadi penting. “Bahkan kita bisa mendapatkan ilmu yang beragam. Tidak hanya dari satu pelaku akuaskap saja. Hal itu mempermudah kami untuk memilih solusi terbaik yang sesuai dengan kemampuan kita,” ujar Hariyanto. GSK rutin mengadakan pertemuan di rumah para anggotanya secara bergantian. Mereka bertukar informasi dan saling membantu antaranggota dalam dunia hobi akuaskap.

“Bagi perancang akuaskap di Kediri yang belum tergabung di komunitas silakan ikut gabung, karena tidak ada ruginya,” ujar Hariyanto. Menurut anggota GSK, M Iqbal Kurnianto, komponen-komponen dan peralatan akuaskap yang harganya mahal menjadi kendala bagi para pemula. “Biasanya saat kopdar atau kumpul-kumpul ada hibah dari anggota lain yang kebetulan memiliki komponen lebih. Itu sangat membantu pehobi dengan dana pas-pasan,” ujar Iqbal.

Tidak hanya itu, mereka juga kerap membuat sendiri komponen-komponen akuaskap untuk menekan biaya. Iqbal mencontohkan, untuk fotosintesis tanaman dalam akuaskap membutuhkan pasokan karbondioksida. “Harga tabung karbondioksida plus peralatan penunjangnya bisa di atas Rp1 juta. Dengan alat yang kami buat sendiri harganya tidak sampai seratus ribu,” ujarnya.

Anggota GSK memanfaatkan proses kimia ragi dengan gula yang menghasilkan gas karbondioksida atau CO2. Caranya dengan memasukkan setengah sendok teh ragi plus 1 kg gula pasir ke dalam botol air minum kemasan kapasitas 1,5 liter. Kemudian tambahkan air hingga ¾ bagian botol lalu salurkan kedalam aquascape. “Karbondioksidanya bisa produksi hingga sekitar 2 pekan,” ujarnya.

Baca juga:  Komunitas Kopi: Jatuh Hati pada Kopi

Lampu akuaskap yang harganya Rp1 juta—Rp3 juta tergantung ukurang akuarium juga tak lepas dari kreativitas anggota GSK. “Dengan merangkai sendiri lampu itu, kami hanya mengeluarkan biaya Rp500.000—Rp600.000,” ujar Iqbal. Caranya dengan membeli lampu light emitting diode (LED) dalam bentuk emitter atau bohlam, lalu Iqbal dan kawan-kawan merangkainya sendiri dengan komponen-komponen lain yang mereka beli di toko listrik.

“Intinya tidak ada yang tidak bisa di hobi akuaskap. Semuanya pasti bisa tinggal kita mau belajar dan berusaha saja. Tentu saja ikut komunitas akan lebih mudah,” ujar lelaki kelahiran Pontianak, 21 april 1993 itu. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x