Bikin Bibit Sendiri

Perbanyakan asparagus secara mandiri untuk mengatasi kelangkaan bibit.

Kebutuhan asparagus yang semakin tinggi membuat petani harus memperbanyak secara mandiri

Kebutuhan asparagus yang semakin tinggi membuat petani harus memperbanyak secara mandiri

Harga jual tinggi hingga Rp50.000 per kg memicu petani untuk mengembangkan asparagus. Selain itu permintaan asparagus juga besar. Dadang Taryana yang rutin memanen 100 kg per 2 hari baru mampu memenuhi 1% permintaan. “Permintaan mulai banyak berdatangan dari restoran dan hotel-hotel, tetapi produk yang dihasilkan petani masih terbatas,” ujar petani di Desa Tenjolaya, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu.

Gairah petani untuk menanam sayuran anggota famili Asparagaceae itu kembali meningkat sejak 2012. Sayangnya bibit sayuran kaya asam folat itu terbatas. Petani sulit memperolehnya. Dosen di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. Adiwirman, MS., mengatakan bahwa asparagus bukan tanaman asli Indonesia. Namun, sejatinya asparagus sudah ada di tanah air sejak zaman Belanda.

Hindari setek
Asparagus merupakan tanaman tahunan dengan rizoma atau batang dalam tanah yang akan menumbuhkan rebung. Sementara “batang” yang tampak di luar tanah merupakan tempat tumbuhnya cabang, ranting, dan daun. Menurut Dadang budidaya asparagus paling cocok di lahan berketinggian 600—1.700 meter di atas permukaan laut. “Di luar lingkungan itu, tanaman tetap tumbuh dan menghasilkan rebung, tetapi tentu saja kualitasnya jauh lebih rendah,” ujar Dadang.

Ketika petani hendak membudidayakan tanaman itu dalam skala besar, petani mendatangkan bibit dari luar negeri. Itu berarti pengeluaran yang besar. Lantaran itulah Dadang memperbanyak asparagus guna memenuhi kebutuhan bibit secara mandiri.

Dadang Taryana memperbanyak asparagus melalui 3 cara.

Dadang Taryana memperbanyak asparagus melalui 3 cara.

“Hampir semua cara perbanyakan itu pernah saya coba, kecuali kultur jaringan yang memerlukan alat dan cara yang rumit bagi petani,” ujar Dadang yang menguji coba berbagai perbanyakan selama 3 tahun terakhir. Ia mengatakan, setek batang paling tidak direkomendasikan karena tingkat kegagalannya sangat tinggi. Cara perbanyakan bibit yang berpotensi keberhasilan tinggi melalui biji dan pemisahan anakan tunas.

“Perbanyakan melalui pemisahan anakan adalah yang paling lazim karena itu termasuk pada tahapan budidaya berupa pemangkasan untuk menyisakan asparagus berkualitas baik,” ujarnya. Dalam perkembangannya, Dadang memperbanyak dan menyeleksi kualitas hingga menghasilkan bibit yang sesuai dengan lingkungan tropis. Kini Dadang memproduksi 3 bentuk hasil perbanyakan asparagus, yaitu biji, tanaman hasil semaian, dan akar asparagus.

Ia mengatakan beragamnya produk perbanyakan asparagus dapat dimanfaatkan petani sebagai pilihan sesuai dengan tujuan penanaman dan waktu yang diperlukan hingga panen. Petani bermodal kecil dapat memanfaatkan biji sebagai bahan tanam. Harganya murah, hasilnya tanaman nantinya tetap bagus, tetapi memerlukan waktu setahun hingga panen. Untuk yang memiliki modal lebih besar, dapat menggunakan bibit dari hasil semaian dan akar.

Harganya lebih mahal, tetapi lebih cepat panen daripada dengan biji. Nyoman Arta, petani asparagus dari desa Plaga, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, membenarkan hal itu. “Budidaya menggunakan biji sangat cocok untuk petani yang akan memulai dengan modal kecil. Untuk musim tanam berikutnya sudah dapat anakan baru dari penjarangan,” ujarnya. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x