Kucing menciptakan industri seperti sampo dan pakan

Kucing menciptakan industri seperti sampo dan pakan

Selama satu setengah tahun setiap hari Dwi Gunawan menunggu ular buang kotoran.  “Dalam kotoran ular sawah Sanca reticulata terkandung bakteri dari tikus yang dimakan,” katanya.  Bakteri itu berkembang lebih baik dalam perut ular.  Setelah keluar, bakteri dari kotoran ular itu menjadi racun tikus yang ampuh. “Kalau dimakan tikus, bakteri ini akan berkembang dan membuat tikus susah bernapas,” cerita Mas Gun—pangggilan akrab Dwi Gunawan.  Bakteri itu lantas dicampur bahan makanan yang disukai tikus. Itulah yang disebar sebagai racun khusus untuk tikus.  Kalau termakan ayam atau hewan lain, tidak membahayakan.

“Jadi, ular dipelihara bisa untuk diambil bakterinya,”  kata Mas Gun.  Ia seorang penangkar memelihara beberapa indukan ular eksotis di rumahnya.  Anak-anak ular itulah yang  menjadi sumber rezekinya. Mas Gun mengatakan, anakan ular dari Indonesia bisa diekspor.  Harganya bagus.  “Kalau untuk pasar dalam negeri  Rp 500,000; di luar negeri jadi limaratus dolar,” ceritanya. Pantaslah, penangkaran ular hias di berbagai kota berkembang.

Kesempatan terbuka

Kampanye sayang ular baru terbatas pada “Program Sentuh Ular” setiap hari Sabtu di Taman Mini.  Namun sekarang, edukasi untuk cinta ular sudah meluas sampai ke kota-kota kecil, di berbagai penjuru Indonesia. Dwi Gunawan (48 tahun) hanya satu di antara banyak pencinta satwa. Sekarang ia mendukung edukasi cinta satwa.  Bukan hanya ular, tetapi juga hewan-hewan liar maupun peliharaan lainnya.  Oleh karena itu ia datang ke rapat Sahabat Ragunan.

Tahun ini memang istimewa untuk Taman Margasatwa Ragunan.  Usianya genap 150 tahun.  Kebun binatang itu diawali oleh pelukis sohor, Raden Saleh, pada 1864.  Ia suka menanam pohonan dan merawat hewan, termasuk harimau, banteng, singa, dan unta. Itulah kiat pertama bisnis cinta satwa. Perkumpulan pencinta satwa biasanya berfokus pada hewan kecintaannya.

Di Malang dan Yogya ada pencinta capung—Indonesia Dragonfly Society—yang juga dikenal sebagai Odonata Nusantara. Kumpulan itu hidup dari inspirasi yang diberikan oleh capung di seputar kita.  Para anggotanya bisa memotret capung.  Sukar tapi kalau berhasil, benar-benar bagus dan memuaskan. Inspirasi dari capung bisa dibuat motif batik, bros, ilustrasi rumah, ragam hias, dan yang paling mudah: film kehidupan capung dan buku-buku. Gantungan kunci, stiker, dan mug tempat minum pun indah dengan warna-warni capung.  Itulah panen raya dari satwa kecil, keluarga Odonata.

Baca juga:  Bisnis Menggiurkan Suvenir Tanaman

Untuk satwa yang lebih besar kita semua sudah tahu. Ada industri kucing dengan berbagai turunannya: makanan, sampo, salon kucing, penitipan kucing, mode, dan aksesori lainnya.  Anjing lebih hebat karena ada sekolahnya, dan banyak perannya. Tahukah Anda bahwa setiap tahun kantor bea cukai memerlukan minimal 20 anjing pelacak?  Setiap anjing harus diimpor karena produksi dalam negeri belum memadai. Harga anjing pekerja sekitar Rp120-juta per ekor.  Ada yang ahli mencium narkoba, ahli mencium bahan peledak, dan barang-barang haram lainnya.

 

Eka Budianta

Eka Budianta

Perilaku manusia

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) adalah Dr Wiwiek Bagja.  Sejak 2009 dia menyerukan pentingnya kesejahteraan untuk semua satwa. Dialah yang mendorong Republik Indonesia mendukung Universal Declaration on Animal Welfare. Dosen di enam perguruan tinggi itu menengarai ada 8 macam perilaku manusia terhadap hewan. Ada pencinta satwa.  Ada pula pengguna satwa. Ada industri dan bisnis satwa. Yang paling sadis adalah pengeksploitasi satwa. Namun, yang dia sarankan adalah sikap adil, yaitu mengutamakan  perspektif satwa yang bersangkutan.

“Sesunggguhnya ada ayat agar kita menyenangkan hati hewan. Terutama satwa-satwa yang akan kita makan,” katanya.  “Kita tidak boleh menyiksa binatang.  Apalagi yang akan dikonsumsi.  Jangan sekali-kali kita menyakiti sapi, kambing, kerbau, kuda, dan lain-lainnya.”  Wiwiek menyesalkan pengangkutan sapi  ke kapal dengan diikat bahkan digantung pada mesin derek. Katanya, di Perancis pun orang memprotes dan menolak makan ayam goreng.

Unggas adalah hewan yang mengepakan sayap.  Sementara  industri ternak ayam itu tidak memberi kesempatan ayam lari, beterbangan.  Semua dibesarkan dalam kandang kecil, hanya diberi makan, vitamin, dan disuntik hormon supaya cepat besar.  Itu adalah contoh perilaku industri hewan yang semestinya melukai perikehewanan. Inilah delapan macam perilaku kita, menurut Wiwiek Bagja. Pertama,  animal  lover,  yaitu manusia yang sangat menyukai dan menyayangi hewan. Bisa spesies yang spesifik maupun secara umum.

Kedua,  animal use adalah pengguna hewan yang dibenarkan. Misalnya penggunaan hewan untuk pangan sebagai sumber protein hewani, sebagai hewan laboratorium untuk keperluan ilmiah dan kemanusiaan. Ketiga,  animal control adalah organisasi yang melakukan pembatasan jumlah populasi hewan tertentu sesuai aturan hukum yang berlaku. Misalnya kalau kera, anjing, kucing, atau tikus sudah  mengganggu kehidupan manusia.  Keempat,  animal rights adalah orang yang percaya bahwa hewan juga punya hak asasi di alam ini.

Baca juga:  Sawah Cantik

Kelima, animal conservationist adalah kelompok orang yang sangat khawatir semua bisa punah. Keenam, animal exploitation adalah kelompok masyarakat yang menganiaya hewan, termasuk untuk diadu, dilombakan dengan disiksa. Ketujuh,  animal liberationist adalah penentang segala kepemilikan dan penggunaan hewan oleh manusia. Semua hewan harus bebas dari tangan manusia. Kedelapan yang dianjurkan adalah animal welfare atau kesejahteraan hewan.  Itulah yang dianut oleh para dokter hewan pada umumnya. Semoga masyarakat luas pun mendukung.

 

Parade satwa

Pengurus Perkumpulan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI), Ir Endang Budi Utami, mengatakan, ada 46 anggota. “Setiap anggota wajib menjamin kesejahteraan peliharaannya,” katanya. Gajah betina misalnya adalah pemimpin kelompoknya.  Di hutan, setiap hari biasa berjalan berkilometer. Jadi ada baiknya diberi kesempatan berjalan-jalan juga. Untuk menyalurkan hobi jalan-jalan, kita sering melihat gajah diminta memimpin rombongan.

Primata—keluarga monyet, orangutan, beruk, dan siamang—biasa makan di atas pohon. Mereka harus memanjat.  Kalau memberi pakan sebaiknya digantung.  Mereka harus diberi fasilitas untuk memanjat. Kalau Anda memelihara ular, sebaiknya ada kesempatan melatih otot-ototnya.  Ular bisa dilatih sekitar 10—15 menit dalam sehari agar otot-ototnya sehat.  Ular betina sangat memerlukan latihan itu, baik untuk mengerami telur, melindungi diri dan anak-anaknya.  Ada yang melatihnya dengan memberi kesempatan berenang.

Bijak satwa harus bertumpu pada sikap sayang hewan dan menjunjung kesejahteraan hewan. Dahulu parade satwa pernah diprotes karena dianggap mengeksploitasi hewan. Terutama kalau terjadi penyimpangan. Misalnya orangutan diberi pakaian macam-macam bahkan diberi rokok!  Namun, sekarang, parade satwa bisa dilakukan di mal maupun di jalanan kota. Mengapa? Sebab parade satwa tidak harus dilakukan oleh hewan dari kebun binatang. Parade satwa yang umum dilakukan adalah rombongan manusia yang berpakaian hewan.

Tujuan terpenting dari parade satwa adalah sebagai sarana edukasi. Bijak satwa yang sesungguhnya adalah memahami dengan betul, merawat dengan terampil, dan mengajak semua orang berempati pada hewan. Dalam banyak kesempatan, manusia justru dapat belajar, menimba ilmu dan kebijaksanaan dari satwa.

Mengapa? Sebab kontribusi makhluk hidup (termasuk tumbuh-tumbuhan) kepada sesamanya adalah ilmu pengetahuan, pengalaman hidup, inspirasi, suka-duka, dan kebahagiaan.  Kalau itu semua bisa memutar roda ekonomi, menggerakkan industri, memacu bisnis dan mendatangkan uang, harus dilihat sebagai bonus. (Eka Budianta*)

*) Kolumnis Trubus, pengurus Tirto Utomo Foundation dan Jababeka Botanic Gardens, anggota Dewan Pakar Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI).

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d