Penggunaan mesin pemanen padi lebih efektif dan efisien.

Combine Harvester 4lz-3.2, produksi PT Galaxy Partani Mas.

Combine Harvester 4lz-3.2, produksi PT Galaxy Partani Mas.

Suhari biasanya mengeluarkan biaya hingga Rp1,5-juta setiap hari untuk menggaji 20 pemanen padi. “Biaya itu termasuk ongkos mengantar hasil panen dari lahan ke toko,” kata petani padi di Muktijaya, Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, itu. Kini Suhari hanya mengeluarkan biaya Rp300.000 per hari atau menghemat 80% biaya panen. Ia mampu menghemat karena hanya menyewa 3 pekerja per hari.

Petani itu memangkas jumlah tenaga kerja setelah menggunakan mesin pemanen padi combine harvester sejak 2013. Selain menghemat biaya tenaga kerja, penggunaan mesin pemanen juga membuat waktu panen lebih singkat. Petani padi di Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Sugeng, yang juga menggunakan mesin serupa hanya perlu 3 jam untuk memanen padi di lahan 1 hektare.

Mudah mengoperasikan
Sugeng menuturkan, “Jika menggunakan mesin jumlah panen bisa sampai 300 karung isi 50 kilogram gabah per hari. Jika panen secara manual hanya 100 karung.” Suhari dan Sugeng menggunakan mesin pemanen padi otomatis tipe combine harvester produksi PT Galaxy Partani Mas bernama Galaxy tipe 4lz-3.2. Menurut Direktur Pemasaran PT Galaxy Partani Mas, Herjanto, mesin pemanen berbobot 600 kg itu menjadi pilihan para petani karena praktis.

Petani mudah mengoperasikan mesin bersistem otomatis. “Jadi cukup menyalakan mesin, lalu menarik tuas untuk mengendalikan kecepatan mesin,” kata Herjanto. Dengan dimensi 4.850 mm x 2.900 mm x 2.500 mm mesin itu hanya membutuhkan 3 pekerja untuk pengoperasiannya. “Satu orang sebagai sebagai operator mesin, dan 2 orang lainnya bertugas menjadi kernet penampung,” papar Herjanto.

Combine Harvester 4lz-3.2, mampu memanen 3,2 kg gabah per detik.

Combine Harvester 4lz-3.2, mampu memanen 3,2 kg gabah per detik.

Pria 53 tahun itu mengatakan mesin bertenaga rata-rata 73 kilowatt (kW) atau 100 PK itu memiliki kecepatan 2.600 rpm. Dengan spesifikasi tersebut mampu memanen 3,2 kg gabah per detik. Menurut Herjanto petani dapat memanfaatkan mesin yang didatangkan pada 2013 itu untuk memanen jagung dan gandum. Mesin itu mampu bekerja tiga fungsi sekaligus, yaitu menuai, merontokkan, dan menampi hasil panen.

Baca juga:  Laba Setiap 15 Hari

Mesin hanya menyisakan batang atau jerami. Petani memanfaatkannya untuk tambahan nutrisi hewan dan menambah kadar bahan organik dalam tanah. Herjanto menuturkan PT Galaxy Partani Mas sebetulnya mendatangkan mesin serupa pada 2012, yaitu tipe 4lz-2.2 berukuran kecil dan 4lz-2.2 yang lebih besar. “Perbedaannya hanya daya tampung gabah hasil panen dan kecepatan memanen,” ujar Herjanto.

Mesin yang lebih kecil efesien untuk petani karena memiliki kecepatan lebih tinggi, tapi daya tampung relatif kecil. Adapun mesin yang lebih besar memiliki daya tampung lebih banyak. Herijanto menjual masing-masing mesin itu dengan harga Rp295-juta untuk tipe 4lz-2.2, Rp300-juta untuk tipe 4l-2.2, dan Rp325-juta untuk tipe 4lz-3.2.

Mekanisasi

Dr Teguh Wikan Widodo, peneliti di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian.

Dr Teguh Wikan Widodo, peneliti di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian.

Menurut peneliti Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian di Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Dr Teguh Wikan Widodo, para petani harus cermat dalam memilih mesin panen. Menurut Widodo kriteria alat panen yang baik, yaitu tidak mudah rusak meskipun sering digunakan. Selain itu, suku cadangnya pun mudah ditemui.

“Agar berumur ekonomis, penggunaan mesin jangan melebihi kapasitas yang ditentukan,” papar Widodo. Peneliti itu mengatakan, tenaga kerja yang mengoperasikan mesin harus terampil agar umur ekonomis mesin meningkat. Menurut Widodo mekanisasi berperan penting dalam memajukan pertanian di tanahair. Faedah penggunaan teknologi seperti mesin pemanen padi dapat mengurangi beban kerja dan meningkatkan efesiensi tenaga kerja.

Faedah lain mengurangi kerusakan hasil panen, menurunkan ongkos produksi, meningkatkan taraf hidup petani, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Namun, mekanisasi pertanian akan berhasil jika ditunjang oleh faktor produksi lain, seperti ketersediaan jaringan irigasi drainase yang baik. Selain itu infrastruktur dari dan menuju lahan pertanian pun harus ditingkatkan.

Baca juga:  Kicauan Dua Jawara

“Masih minimnya jumlah penyuluh yang menguasi mekanisasi pertanian juga menjadi salah satu kendala,” ujar Widodo. Jika mekanisasi berlangsung tepat guna, maka tipe pertanian subsisten pun akan tumbuh menjadi tipe pertanian yang komersial. Dengan demikian secara tidak langsung mekanisasi meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para petani padi. (Rachmania Putri)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d