Desain instalasi, jenis sayuran, dan nutrisi mempengaruhi pertumbuhan tanaman hidroponik bertingkat

Desain instalasi, jenis sayuran, dan nutrisi mempengaruhi pertumbuhan tanaman hidroponik bertingkat

Meski berprospek menjanjikan, berkebun sayuran hidroponik bertingkat bukan tanpa aral. Salah desain instalasi, jenis sayuran, dan atau nutrisi, pertumbuhan sayuran bisa kurang maksimal. Itu pengalaman petani hidroponik di Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta, Yustinus Agung. Ia menggunakan hidroponik bertingkat 6 model huruf S. Pipa di setiap tingkatan terhubung dan air nutrisi mengalir dari pipa paling atas hingga pipa paling bawah.

Dampaknya, “Kualitas sayuran yang dihasilkan tidak seragam. Tanaman di bagian atas yang menerima nutrisi awal pertumbuhannya lebih maksimal dari pada tanaman di bagian bawah karena sebagian besar nutrisi sudah terserap sayuran di atas,” kata Agung. Menurut Charlie Tjendapati, perancang model hidroponik di Kota Bandung, Jawa Barat, hal itu dapat diatasi dengan memilih jenis sayuran tepat sesuai model.

Model S kurang sesuai untuk budidaya kangkung. Itu karena, “Akar kangkung memiliki daya serap nutrisi lebih cepat. Dampaknya, pertumbuhan sayuran di atas lebih cepat dibandingkan di bagian bawah,” kata Charlie. Cara lain, membatasi panjang aliran nutrisi dari awal hingga akhir. “Panjang maksimal air mengalir maksimal 25 m agar pertumbuhan seluruh sayuran optimal,” ujar Roni. Hartanto Gunawan, petani hidroponik di Bandung, Jawa Barat.

Kendala lain adalah sinar matahari. Hidroponik bertingkat dengan pipa tersusun sejajar terkadang membuat sayuran bagian bawah kurang mendapat cahaya karena tertutup dengan tanaman di bagian atas. Untuk mengatasi itu, Bayu Widhi Nugroho, petani hidroponik bertingkat di Yogyakarta menggunakan mulsa sebagai alas. “Dengan begitu sinar matahari akan terpantul sehingga sayuran di bagian bawah cukup mendapat sinar,” katanya.

Dari segi investasi, pembuatan instalasi hidroponik bertingkat memang lebih tinggi dibandingkan konvensional. Investasi hidroponik bertingkat mencapai Rp600.000 per m2. Sementara hidroponik konvensional hanya Rp400.000 m2. Memang pada akhirnya investasi itu terbayar dengan hasil produksi sayuran yang berlipat. Singkat kata jika pengelolaan tak tepat, hidroponik bertingkat bisa tamat. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Muhammad Hernawan Nugroho dan Rizky Fadhilah)

Baca juga:  Efek Negatif Perubahan Iklim

Tags: hidroponik, hidroponik bertingkat, tanaman hidroponik bertingkat

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d