Bertahan dengan Jernang 1
Warga Suku Batin Sembilan mengumpulkan buah rotan jernang untuk bahan pewarna alami dan obat tradisional.

Warga Suku Batin Sembilan mengumpulkan buah rotan jernang untuk bahan pewarna alami dan obat tradisional.

Saat perjalanan pulang dari kawasan Danau Rohani, Hutan Harapan, tampak empat anak suku Batin Sembilan tengah bermain di tepi jalan. Batin Sembilan adalah masyarakat adat Jambi yang sudah ada sejak abad ke-7 atau pada zaman kerajaan Sriwijaya. Rombongan eksplorasi buah pun menghentikan laju mobil dan menyambangi anak-anak yang tengah bercengkrama.

Ternyata di tepi jalan itu terdapat bekas gubuk dan sepasang suami-istri yang tengah berkemas dan bersiap-siap berpindah. Ne Ci dan istrinya baru saja selesai menetap untuk mengumpulkan buah rotan jernang Daemonorops sp. Buah itu mengandung sejenis resin berwarna merah yang kerap disebut jernang. Industri memanfaatkan jernang untuk bahan pewarna alami, dupa, dan obat tradisional.

Ne Ci menjual buah rotan itu kepada pengumpul dengan harga Rp350.000 per kg. “Kalau sudah dihancurkan, harganya bisa dua kali lipat,” kata ayah 3 anak itu. Menurut Anderi Satya dari PT Rekayasa Ekosistem Indonesia, aktivitas mengumpulkan jernang salah satu kegiatan ekonomi suku Batin Sembilan. Namun, seiring maraknya perkebunan kelapa sawit, beberapa di antaranya beralih profesi menjadi pengumpul berondol atau buah kelapa sawit yang tercecer saat panen. Mereka mendapat upah Rp25.000 per hari.

Berdasarkan hasil pendataan pada 2012, terdapat 228 keluarga Batin Sembilan yang tersebar di beberapa tempat di dalam kawasan dan dekat perbatasan Hutan Harapan. “Keberlangsungan hidup mereka sangat tergantung pada hasil-hasil hutan,” kata Anderi. Oleh sebab itu, jika areal hutan terus menyempit, maka nasib suku Batin Sembilan akan semakin sulit. (Imam Wiguna)

Tags: buah rotan, hutan harapan, jernang

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *