Bersama Menuai Laba

Bersama Menuai Laba 1
Maya Stolastika Boleng (kanan) dan Herwita Suma Rosalina berkebun sayuran organik sejak 2008.

Maya Stolastika Boleng (kanan) dan Herwita Suma Rosalina berkebun sayuran organik sejak 2008.

Kembali bangkit setelah sempat berhenti berkebun sayuran organik.

Maya Stolastika Boleng dan Herwita Suma Rosalina terpaksa melepaskan bisnis sayuran organik yang mereka rintis sejak 2008 kepada rekannya. Padahal, ketika itu bisnis tengah beranjak naik. Kedua sahabat karib itu menguasai pasar sayuran organik di 7 pasar swalayan di Surabaya, Jawa Timur. Restu kedua orang tua menjadi musabab bisnisnya tersendat. Saat Maya dan Wita—panggilan akrab Herwita—lulus kuliah pada 2010, orang tua masing-masing tak menghendaki mereka berdua menjadi petani.

Orang tua lebih suka mereka bekerja seperti lazimnya para sarjana. “Profesi petani masih dipandang sebelah mata di Indonesia sehingga orang tua kurang setuju,” kata Wita. Apalagi pendidikan Maya dan Wita sama sekali tak berkaitan dengan dunia pertanian. Keduanya adalah sarjana sastra.

Produk sayuran organik Maya Stolastika Boleng dan Herwita Suma Rosalina tersedia di supermarket dan mendapat harga tinggi

Produk sayuran organik Maya Stolastika Boleng dan Herwita Suma Rosalina tersedia di supermarket dan mendapat harga tinggi

Kini pandangan orang tua mereka berubah. Dunia pertanian ternyata menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan. Maya dan Wita mengantongi omzet rata-rata Rp80 juta—Rp120 juta per tahun atau Rp6,7 juta—Rp10 juta setiap bulan. Itu hasil penjualan 40—160 kg aneka sayuran seperti sawi, kale, dan tomat ceri per pekan. Mereka menjual sayuran organik ke restoran dan pasar swalayan di Surabaya, Jawa Timur.

Agrowisata
Maya dan Wita membanderol sawi, kangkung, dan bayam Rp30.000 per kg, kale Rp80.000 per kg, dan tomat ceri Rp50.000 per kg. Keduanya mengutip laba sekitar Rp10.000 per kg produk. Maya dan Wita juga memperoleh pendapatan tambahan dari agrowisata sayuran organik. Kebun mereka di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menjadi sarana wisata dan edukasi pertanian organik. Setidaknya 100 tamu mengunjungi tempat itu setiap akhir pekan.

Bayam merah tumbuh subur meski tanpa pupuk kimia.

Bayam merah tumbuh subur meski tanpa pupuk kimia.

Dari jumlah pengunjung itu rata-rata 50 pengunjung membeli 3—5 kg sayuran per orang. Dengan hasil seperti itu, pantas bila kedua sarjana sastra Inggris itu makin mantap menjadi petani sayuran organik. “Pertanian tidak akan pernah mati selama manusia masih membutuhkan makanan,” kata alumnus Universitas Negeri Surabaya itu.

Saat ini Maya dan Wita mengelola 1,2 hektare lahan yang tersebar di lima lokasi berbeda, yaitu Kecamatan Pacet (2 kebun) dan Kecamatan Trawas (2 kebun), keduanya di Mojokerto. Satu kebun lagi di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Luas lahan masing-masing kebun bervariasi antara 2.500—3.000 m².

Lahan-lahan itu sebelumnya belum pernah ditanami. Oleh sebab itu, Maya dan Wita berupaya menghadirkan eksosistem seimbang sebagai langkah awal mempersiapkan lahan. Mereka menanam tanaman aromatik, seperti mawar, kenikir, rosemary, kucai, daun mint, dan basil. Tanaman aromatik itu bersifat repellant alias pengusir hama sehingga enggan hinggap.

Baca juga:  Pesona Puring Idaman

Selang 3 bulan Maya dan Wita mengolah lahan dengan membolak-balik lapisan tanah. Tujuannya agar sirkulasi udara lancar plus humus tanaman pada lapisan di bawah permukaan tanah termanfaatkan dengan baik. Sebulan kemudian Maya dan Wita membuat bedengan berukuran 5 m x 60 cm dengan tinggi 40—50 cm ketika musim hujan dan 25 cm saat kemarau. Setelah itu mereka menaburkan 50—75 kg pupuk kandang per bedengan.

Organik

Kebun sayuran organik di Dusun Mligi, Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Kebun sayuran organik di Dusun Mligi, Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Selanjutnya Maya dan Wita menyemai benih sayuran, seperti sawi, bayam, dan kangkung di bedengan hingga berumur 2 pekan. Setelah tinggi tanaman sekitar 20 cm, mereka menjarangkan tanaman dengan memindahkan tanaman itu ke bedengan lain yang siap tanam. Pemindahan itu tidak boleh lebih dari 3 menit sejak pencabutan agar tanaman tidak stres. “Pertumbuhan tanaman stres bisa lambat atau menjadi cepat berbunga sehingga produksi daun kurang maksimal,” kata Maya.

Sebagai sumber nutrisi tambahan, Maya dan Wita memanfaatkan limbah panen, seperti sawi, selada, dan bayam rusak yang telah dihancurkan. Mereka mencampur ½ kg limbah panen itu dengan ½ kg limbah buah-buahan (pepaya atau nanas apkir), ½ kg gula aren, plus 3 liter air. Simpan selama sepekan hingga larutan terfermentasi. Sebelum digunakan, mereka mengencerkan 1 cc pupuk cair dengan 1 liter air. Mereka mengocorkan pupuk itu ke area perakaran 2 pekan sebelum panen.

Tanaman pengusir hama di kebun sayuran organik.

Tanaman pengusir hama di kebun sayuran organik.

Untuk mengendalikan hama seperti kutu, Maya dan Wita menggunakan pestisida nabati yang terbuat dari 200 g gula aren, 250 g kedelai, dan 1,5 liter air. Mereka merebus semua bahan itu hingga tersisa 1 liter. Selanjutnya Maya mencampur larutan itu dengan segenggam akar bambu. Biarkan larutan dalam wadah tertutup selama 2 pekan hingga larutan beraroma seperti tapai. Jahe dan kunyit juga bisa menjadi bahan pestisida nabati. Campurkan 250 g irisan jahe, 250 g irisan kunyit, dan 200 g gula aren. Proses pembuatan sama dengan sebelumnya.

Sebelum digunakan, encerkan 1 cc pestisida nabati dengan 1 liter air. “Setelah itu semprotkan pestisida nabati setiap hari saat musim hujan. Saat kemarau tanaman tak perlu disemprot,” kata Wita. Maya dan Wita juga memasang jaring peneduh di tiap bedengan agar butiran hujan yang jatuh lebih halus sehingga tidak merusak tanaman. Tujuan lain untuk mencegah serangan hama. Pada umur 30—35 hari pascatanam, mereka memanen 16—20 kg sayuran organik, seperti sawi dan bayam per bedeng.

Kendala
Maya dan Wita juga membudidayakan sayuran buah, seperti tomat sayur dan ceri. Mereka menanam tomat dengan jarak tanam 60 cm x 70 cm. Jumlah populasi setiap bedengan sekitar 20 tanaman. Mereka memanen rata-rata 2 kg tomat ceri per tanaman dan 4—5 kg tomat sayur per tanaman.

Maya Stolastika Boleng dan Herwita Suma Rosalina memproduksi sendiri benih bayam hijau.

Maya Stolastika Boleng dan Herwita Suma Rosalina memproduksi sendiri benih bayam hijau.

Menurut Maya, semua hasil panen selalu laris manis di pasaran. Bahkan, permintaan dari pasar swalayan dan restoran kerap tidak terpenuhi. Maya dan Wita bisa memenuhi sekitar 80% permintaan jika kondisi iklim mendukung. Namun, hanya 50% permintaan yang terpenuhi ketika cuaca tak bersahabat.

Baca juga:  Rasa Juara dari Dataran Tinggi

Konsistensi Maya dan Wita berkebun sayuran organik mengantarkan keduanya menjadi finalis Duta Petani Muda pada 2016. Maya bahkan terpilih menjadi ketua Aliansi Organik Indonesia (AOI) periode 2017—2020, sekaligus mewakili organisasi itu untuk berkunjung ke Shanghai, Tiongkok, pada 2017. Sejatinya semua kesuksesan itu mereka raih tak semudah membalik telapak tangan.

Maya dan Wita sempat merugi hingga Rp20 juta gara-gara keliru mengatur pola tanam. Harap mafhum, waktu itu keduanya baru memulai budidaya sayuran organik. Mereka mengebunkan sawi di lahan 5.000 m² sekaligus di Kecamatan Trawas. Padahal, ketika itu keduanya belum memiliki gambaran pasar. Akibatnya, mereka kesulitan menjual hasil panen yang melimpah. Kerugian itu membuat tiga rekan yang sebelumnya bergabung berhenti bekerja sama. Namun, Maya dan Wita tetap semangat dan berupaya memperbaiki kekeliruan. Alhasil, pada tahun kedua merintis usaha, mereka mampu memasok 7 pasar swalayan di Surabaya.

Hambatan kembali mengadang saat Maya dan Wita lulus kuliah pada 2010. Mereka tak mendapat restu orang tua untuk melanjutkan usaha. Mereka akhirnya menjual bisnis sayuran organik kepada seorang rekan, termasuk jaringan pemasarannya. Pada 2011 Maya dan Wita mendengar bisnis yang mereka serahkan ke temannya malah kolaps. Koleganya itu tak lagi mampu memasok permintaan pasar swalayan.

Petugas kebun berasal dari  masyarakat setempat sebagai bentuk pemberdayaan.

Petugas kebun berasal dari masyarakat setempat sebagai bentuk pemberdayaan.

Bangkit
Satu persatu pasar yang susah-payah mereka rintis berguguran. Kabar buruk itu mendorong Maya dan Wita sepakat kembali ke “habitat”. Pada 2012 mereka kembali merintis bisnis dari titik nol. Sebuah merek baru bernama Twelve’s Organic mereka siapkan untuk kembali menembus pasar. Ketika itu mereka optimis kembali meraih sukses lantaran tren sayuran organik tengah naik daun.

Namun, tren itu justru memicu harga sewa tanah dari pemilik lahan sebelumnya melonjak menjadi Rp7 juta per 1.000 m², sebelumnya Rp1,5 juta. Sang pemilik tanah juga meminta sewa minimal untuk 10 tahun. Kondisi itu tentu saja memberatkan Maya dan Wita. Mereka akhirnya memutuskan menjadi distributor sayuran organik dan konvensional. Keduanya bekerjasama dengan kelompok tani sayuran di Trawas. Pasar yang dulu pernah mereka pasok kembali ia datangi. Sayangnya dari 7 pasar swalayan yang ditawari, hanya 3 pasar swalayan yang mau menerima produk Maya dan Wita. Profesi sebagai distributor sayuran itu hanya bertahan hingga medio 2013.

“Tujuan awal kami berbisnis pertanian adalah ingin bermanfaat bagi lingkungan. Nah, bisnis sayuran organiklah yang paling tepat untuk kami jalani,” kata Maya. Setelah itu Maya dan Wita kembali fokus mengembangkan sayuran organik. Perlahan tapi pasti pasar kembali terbuka. Luas areal tanam pun semakin bertambah. Kini total areal tanam mencapai 1,2 hektare. Selain sebagai sarana produksi, mereka juga membuka kebun sebagai tempat wisata edukasi. “Berbisnis apa pun asalkan berawal dari niat yang tulus ingin bermanfaat bagi lingkungan sekitar, maka kita pun akan bertahan menekuninya,” ujar Maya. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x