Tengku Azizan

Jatuh hati pada motif aglaonema asal Indonesia yang penuh warna.

Aglaonema moonlight salah satu kesayangan Tengku Azizan.

Aglaonema moonlight salah satu kesayangan Tengku Azizan.

Seratus aglaonema itu tumbuh di halaman rumah Tengku Azizan di kawasan Puchong, Selangor, Malaysia. Di halaman 30 m² ia memelihara beragam jenis di antaranya hughes, mutiara, harlequin, moonlight, gadis, kochin virgin, widuri, dan hot lady. Aglaonema-aglaonema itu berasal dari penangkar di Indonesia. Azizan menyusun tanaman berjuluk ratu daun itu di atas beberapa rak setinggi 1m dan lebar 50 cm.

Kehadiran aglaonema yang dominan warna merah dan kuning itu membuat halaman samping sangat semarak. Moonlight paling menonjol di antara semua aglaonema itu lantaran bersosok tinggi besar dengan daun berbentuk mangkuk dan lebar. Warnanya hijau kekuningan dan mengilap. Beberapa anakan tumbuh sehat membuat penampilan aglaonema silangan Gregory Garnadi Hambali di Kota Bogor, Jawa Barat, itu makin menarik.

Upaya menitipkan

Tengku Azizan, pehobi aglaonema di Puchong, Selangor, Malaysia.

Tengku Azizan, pehobi aglaonema di Puchong, Selangor, Malaysia.

Penampilan moonlight tidak kalah seronok daripada aglaonema sejenis di Indonesia. Kebanggaan lain Tengku Azizan ialah kochin virgin. Di tangannya varietas itu daunnya dominan warna merah. Lazimnya virgin berwarna hijau dan merah seimbang. Aglaonema-aglaonema itu tumbuh baik di bawah naungan plastik 65%. Tengku Azizan mengenal aglaonema pada 2009 ketika mendapat oleh-oleh hot lady dan astrid dari kerabatnya dari Jakarta.

Daun aglaonema hot lady bercorak mirip batik berwarna merah, kuning, dan hijau sangat cantik di matanya. Ia jatuh hati pada tanaman anggota famili Araceae itu. Pria yang juga penggemar anggrek itu kemudian mencari aglaonema lain di nurseri tanaman di Kualalumpur, Malaysia. Ia ingin belajar cara merawat sekaligus menambah koleksi aglaonema. Namun, hasil pencariannya nihil.

Siam diamond alias red ndot.

Siam diamond alias red ndot.

Tidak satu nurseri tanaman di sana yang menyediakan aglaonema. Ia hanya menemukan beberapa aglaonema lawas, yaitu donna carmen dan kochin paramruay. Itulah sebabnya ia menitip pada kerabat atau kawan yang mengadakan perjalanan ke Jakarta. “Saya sampai tidak tahu malu, dan tidak boleh dengar ada orang yang mau ke Jakarta atau mau ke Kualalupur karena saya pasti menitip aglaonema,” kata mantan pegawai Departemen Agama Malaysia itu.

Baca juga:  Terelok di Dua Kota

Dari usaha titip itu, jumlah koleksinya bertambah. Apalagi ia kemudian bertandang ke Jakarta. Kesempatan bertemu dengan anggota komunitas dunia maya “Aglaonema on-line” menjadi program utama Azizan. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk belajar perawatan aglaonema, cara membuat media fermentasi, serta belanja aglaonema. Saking senangnya melihat aglaonema cantik, ia pun memborong puluhan aglaonema berbagai jenis.

Aglaonema kochin virgin, mutasi merah.

Aglaonema kochin virgin, mutasi merah.

Selain itu Azizan pun mendapat hadiah dari beberapa sahabat, sehingga membawa lebih dari 50 pot aglaonema ke Malaysia. Jumlah aglaonema yang sangat banyak tak urung membuatnya bingung untuk membawa pulang.

Banyak mati
Sayangnya, Tengku Azizan tidak menyiapkan kedatangan rombongan ratu daun itu. Ia tidak menyiapkan media tanam untuk menanam koleksi barunya. Meski di Jakarta ia belajar cara fermentasi media, bahan untuk diolah tidak tersedia di Puchong.

Ia terpaksa menanam dengan media campuran tanah hitam dengan zeolit dan pecahan batu merah. Tidak ada takaran pasti, tetapi campuran itu dominan tanah hitam sebagai media tanam aglaonema. Ia meletakkan hampir seluruh aglaonema di halaman depan rumah. Padahal lokasi itu tanpa penaung sehingga tanaman terpapar sinar matahari. Pria 70 tahun itu juga meletakkan aglaonema di garasi. Mobil harus “mengalah” dan terpaksa parkir di pinggir jalan.

Setahun kemudian, kondisi kesehatan aglaonema itu menurun. Ada yang terbakar daunnya sehingga menghitam. Ada pula yang pucuknya mengecil. Setelah membongkar media, Azizan mengetahui ternyata akarnya busuk. Akhirnya 90% koleksi mati. Media tanam itu berupa tanah bersifat masam dan padat yang mengakibatkan akar busuk sehingga tanaman mati. Kerugian Azizan mencapai RM10.000 atau kurang lebih Rp40-juta.

Jaipong

Jaipong

Setelah berkonsultasi dengan rekannya di laman daring aglaonema, Azizan memanfaatkan lamtorogung untuk mengganti kaliandra. Di belakang rumahnya tumbuh lamtorogung Leucaena leucocephala, sementara sulit menemukan kaliandra di Selangor. Azizan memetik daun lamtoro lalu mencincang. Ia pun menambahkan humus daun bambu, serbuk sabut kelapa, dan zeolit, serta sedikit kapur.

Baca juga:  Ratu Daun Paling Gres - Aglaonema Lotus Delight

Daun lamtoro
Tengku Azizan mencampur bahan-bahan itu hingga merata lalu menambahkan mikroorganisme (EM-4). Ia kemudian memfermentasi bahan itu dalam tong plastik. Dua pekan kemudian, fermentasi berhasil. Aroma harum sedikit masam menguar sebagai indikasi keberhasilan fermentasi. Setelah mengganti media lama dengan media fermentasi, tanaman tersisa mulai sehat dengan menumbuhkan daun baru.

Aglaonema mutiara salah satu koleksi Tengku Azizan.

Aglaonema mutiara salah satu koleksi Tengku Azizan.

Ayah tiga anak itu pun kembali bersemangat mengoleksi aglaonema. Selain dari Jakarta, ia pun membeli tanaman kerabat talas itu dari Thailand. Ia bahkan rela menyetir kendaraan selama 6 jam ke perbatasan Malaysia—Thailand untuk menjemput 20 pot tanaman pesanan. “Saya lebih suka aglaonema hibrida asal Indonesia, misal sexy pink, mutiara dibandingkan dengan aglaonema Thailand. Kualitasnya timpang sekali,” kata pria kelahiran Alor Setar, Kedah itu.

Menurut Azizan hibrida asal Thailand warnanya lebih bercahaya. Contoh som sak shree alias red krakatau. Namun, hibrida asal Indonesia yang bermotif batik lebih cantik. Ia pun suka goliath, harlequin, dan hughes yang sosoknya besar, meski daunnya tidak bermotif batik. “Saya memang suka aglaonema besar-besar,” kata Azizan kepada Trubus. Perubahan media tanam menyebabkan aglaonema tumbuh subur dan berkembang biak.

Itulah sebabnya populasi tanaman hias daun itu kian banyak. Azizan pun menularkan kecintaannya pada aglaonema kini kepada beberapa kawan di sana. Namun, ia hanya akan membagikan aglaonema kepada peminat yang serius merawat tanaman agar sentosa. Untuk itu ia pun tidak segan membagi ilmu kepada mereka. Itu agar mereka juga menikmati keelokan sang ratu daun. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d